Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 30


__ADS_3

"Yank, kalau mau tidur, di ruangan aku aja sana," ucap Bang Win yang melihatku mulai memejamkan mata setelah duduk di sofa teras.


"Ngga mau tidur, mau diem aja dulu bentar," jawabku pelan. Sebenarnya, jadwal siaranku masih nanti malam, namun hujan yang turun dari sebelum subuh sampai sekarang membuatku ingin sekali memakan sepiring pempek yang dijual di depan sini. Itulah kenapa, sehabis sholat dhuhur, aku menyusul ke Radio Rebel. Sayangnya, penjual pempek tidak berjualan hari ini. Besar kemungkinan karena hujan.


"Ya udah, aku kerja dulu ya? Ada siaran buat ngeback up siarannya Hani," pamitnya yang kuangguki.


Sepeninggal Bang Win, aku malah membuka mata dan melihat ke arah halaman berhampar rumput Jepang. 'Liat aja dulu ke depan deh, kali ada yang lain,' gumamku dalam hati seraya bangkit berdiri dan mengambil payung yang terletak di pojok teras.


Aku berjalan pelan di halaman menikmati jatuhnya rintik hujan yang mengenai payung. Sensasi dingin yang dibawa hujan, menerpa wajahku dan menimbulkan kecanduan tersendiri. Mataku bergerak ke arah kiri dan kanan, untuk melihat para penjual makanan.


"Neng, ada siaran siang?" sapa ibu penjual bubur ayam yang pada akhirnya kuhampiri.


"Ngga, Bu. Lagi males di rumah, makanya ke sini," jawabku sembari duduk setelah menutup payung. Ibu penjual bubur memberikanku segelas teh tawar hangat yang wanginya menyapa indera penciumanku.


"Punya siapa itu bu?" tanyaku saat melihat bungkusan plastik putih di dekat mangkok dalam gerobak.


"Punya Kang Hud, tadi dia beli bubur tapi belum diambil juga. Ibu juga mau nitip uang keamanan sekalian."


"Emang kalau uang keamanan dibayar tiap hari?" tanyaku lagi.


"Ada yang harian, mingguan atau bulanan, Neng."


"Berapa kalau sehari?" Aku penasaran.


"Dua ribu, Neng. Uang keamanan sama kebersihan. Jadi, kalau malem mah temen-temennya Kang Robin sama Kang Hud suka patroli buat jagain barang-barang penjual di sini. Kaya kursi, meja, dan lain lain. Kadang juga bebersih, jadi pas mau jualan udah tinggal jualan aja."


"Oh, bermanfaat atuh ya?" sambungku.


"Iya Neng, cuma ya namanya pedagang. Kalo pas lagi ngga ada, ya ngga ada," sahut ibu penjual yang membuatku mengangguk.


"Nah, itu Kang Hud," seru si ibu seraya berdiri. Aku menatap ke arah kiriku, di mana Hud baru saja datang tanpa memakai payung.


"Teh," sapanya ramah. Aku mengangguk dan balas tersenyum.


"Meni lama, Kang Hud. Ibu udah mau pulang tadinya," ucap ibu penjual bubur.


"Iya bu, punten. Istri sakit, jadi tadi saya bawa dulu ke puskesmas," jawab Kang Hud.


"Kalo gitu duduk dulu, ibu buatin kopi ya? Pasti kedinginan. Ini, uang keamanan." Ibu penjual bubur memberikan uang pada Kang Hud sebelum menyiapkan segelas kopi panas.


"Istri Akang lagi hamil juga kan ya?" tanyaku ketika Kang Hud duduk tidak jauh dariku.


"Iya Teh, makanya saya cemas. Mana anak pertama lagi, saya bingung harus ngapain."


"Sakit apa emang?" tanyaku lagi.


"Ngga bisa makan, Teh. Setiap makan apa pasti dimuntahin lagi." Nada suara Kang Hud terdengar putus asa. "Mana tiap malam ngga tidur. Kalau tidur pasti ngigau sampai teriak-teriak."


"Hah?" responku heran.


"Iya Teh, akhir-akhir ini sering kaya gitu."


Aku termenung sesaat sebelum menghabiskan tehku, untuk kemudian berpamitan kembali ke dalam Radio Rebel.


***


"Lah, Teh Inoxu udah ada di sini juga toh?" sapa Adul yang baru saja datang. Ia membuka jas hujan dan menghamparkannya di tembok teras setinggi paha orang dewasa.


"Lah, kamu juga ngapain jam segini udah di sini?" tanyaku heran.

__ADS_1


"Kekey mau main ke sini," jawabnya malu-malu yang membuatku tertawa.


"Eh, gimana kemaren ke pasar malemnya?" Aku penasaran.


"Ya biasa aja, cuma liat-liat doang."


"Makan kerang pas ujan!" sahutku.


"Hah?" tanya Adul.


"Liat-liat doang ngga jajan!" sambungku.


"Duh, bukan gitu. Uang Adul mepet," serunya cemberut. Aku kembali tertawa sembari menggelengkan kepala.


"Punten, ini mau ngembaliin payung." Seorang pria sudah berdiri di depan teras dan memegang payung yang tadi sempat kupakai saat melihat penjual makanan.


"Oh iya," sahutku langsung berdiri. "Maap Kang, jadi ngerepotin. Ketinggalan tadi di tempat bubur ayam."


"Iya, Teh. Ibu penjual bubur udah pulang dijemput anaknya, jadi minta tolong ke saya."


Aku meraih payung yang disodorkan, dan tanpa sengaja menyentuh tangan pria itu.


Plash!


***


"Sampai kapan Akang mau terus-terusan sedih?! Agassa udah meninggal, Kang!" sentak sosok Teh Ayu pada pria yang mengembalikan payungku dalam sebuah ruangan berperabot mewah.


"Akang cuma merasa bersalah sama Nengsih, karena ngga bisa menjaga Agassa dengan baik."


"Nengsih lagi! Nengsih lagi! Neng sumpahin biar dia ma*ti sekalian!"


"Neng, jangan gitu! Nengsih udah bahagia sama keluarga barunya. Jangan diganggu lagi!" balas pria itu dengan wajah merah.


Plash!


***


"Teh? Teh, ini payungnya. Kok diem aja?"


Pertanyaan tadi membuatku terkejut seketika. "Eh, ma-maap Kang. Saya agak pusing tadi pas langsung berdiri. Makasi ya payungnya?"


"Sama-sama. Mangga Teh, Kang." Pria itu berbalik dan pergi sedangkan aku kembali duduk di sofa.


"Itu suaminya Teh Ayu ya?" tanyaku pada Adul.


"Iyah, Adul suka liat dia jualan kalau pas si Teh Ayu ngga ada. Emang ada apaan, Teh?" tanya Adul.


"Ngga, nanya doang." Aku menyandarkan punggungku di sofa dan memikirkan penglihatan singkat yang baru saja kualami. Ini kedua kalinya aku mengalami hal tersebut.


"Teh-teh! Itu Kekey," seru Adul salah tingkah. Aku menegok dan melihat seorang gadis dengan payung di tangan, sedang berjalan di halaman.


"Assalamualaikum," sapanya begitu sampai di teras.


"Waalaikumusalam. Eh Kekey, udah nyampe?" tanya Adul berbasa basi yang membuatku mengusap dahi. "Kenalin, ini Teh Inoxu."


"Halo Teteh," Kekey mengangguk padaku.


Aku sendiri berdiri untuk menyambutnya. "Halo Kekey. Adul sering cerita loh tentang Kekey," balasku tersenyum simpul. "Sini yuk? Duduk dulu."

__ADS_1


Dari perbincangan singkat, aku bisa melihat jika Kekey seorang gadis yang lembut dan cenderung pemalu. "Kekey mau keliling studio?" tanyaku yang direspon anggukan. Dengan segera, aku berdiri diikuti Adul dan masuk ke dalam.


***


"Nah, kalo ini namanya mic. Mic teh pengeras suara, jadi kalo kita ngomong di depan mic, suaranya bisa kedengeran di seantero Bandung Raya. Itu makanya kedengeran di radio para pendengar," jelas Adul ketika kami sedang duduk di studio satu.


Penyiar sebelumnya hanya tertawa, ketika mendengar Adul dengan pongahnya menjelaskan fungsi peralatan studio pada Kekey. "Sejak kapan mic bisa dipakai buat pengeras suara? Dipikir Adul, itu toa mesjid kali ya Teh?" bisiknya sebelum keluar studio dan membuatku sakit perut menahan tawa.


"Nah! Di sini, studio yang terkenal paling serem. Konon, ada orang Belanda tanpa kepala yang suka nampakin diri," lanjut Adul yang membuat Kekey seketika pucat pasi.


"Beneran A?"


"Bener," jawab Adul. "Tapi tenang, ada Adul. Lagian ngga bahaya kok. Orang ngga ada kepalanya, bisa apa kan?"


"Ish, Adul! Mulai lagi," tegurku menatapnya sinis.


"Emang bener kan, Teh? Apa yang harus ditakutin? Ngejaga kepala sendiri aja ngga bisa, gimana mau nakutin orang!"


Aku menggeleng pelan mendengar ucapan Adul. Ia tersenyum sombong dan melihat ke segala arah. "Adul lebih takut sama manusia! Manusia kalo jahat, bisa lebih dari setan!"


Jeder!


Suara petir mengagetkan kami bertiga.


"Tenang, Key. Not father kok, ngga papa," kata Adul menenangkan. Aku sendiri mulai merasa was-was di kursiku dan memutuskan untuk keluar dari studio.


"Balik ke depan aja yuk? Penyiar selanjutnya mau siap-siap," ajakku.


"Hayu, Teh. Kekey juga pengen ke kamar mandi." Kekey berdiri dan mengikutiku berjalan. Anehnya, Adul masih saja duduk.


"Te-teh, Adul ngga bisa gerak nih," ucapnya terbata.


Aku berbalik dan hanya nyengir. "Adul emang suka bercanda Key," sahutku yang membuat Kekey tersenyum.


"Teh, Kekey mau ke kamar mandi dulu ya? Teteh duluan aja ke depan," pamit Kekey keluar dari studio.


"Hayu cepet, Dul! Kekey udah ngga ada tuh, jangan bercanda!" seruku mulai kesal.


"Adul ngga bercanda! Badan Adul ngga bisa gerak!"


"Ah masa sih," sahutku ragu. Aku hampir berjalan menghampirinya saat terdengar nyanyian lirih berbahasa Belanda.


Deg!


Langkahku menggantung di udara dan membuatku memutuskan mundur. Samar-samar terdengar suara bola menggelinding.


Bug!


Sebuah bola mengenai kaki Adul dan membuatnya menoleh ke bawah. "Ish, si anak kecil itu udah berani masuk ke sini! Teh Inoxu, sini bantuin." Adul kembali menatapku.


Pandanganku sendiri terpaku pada bola di kaki Adul yang perlahan terlihat menghitam dan membentuk satu bagian tubuh manusia yang bisa dengan jelas kukenali.


"Hiiii, kepala gelinding!" pekikku sebelum berbalik, dan lari ke luar studio.


Brak!


Pintu studio tertutup keras begitu aku sampai di luar.


"Teteh, tolong!" lengkingan suara Adul yang meminta tolong membuatku terkejut.

__ADS_1


Gubrak gubrak gubrak!


Sepertinya aku tau, apa yang terjadi di dalam sana.


__ADS_2