Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 33


__ADS_3

"Sekuat maung! Hauum!" goda Gia dengan tagline iklan biskuit, ketika Adul baru saja sampai di teras.


"Diem-lah Teh, diem!" balasnya dengan wajah kesal, ketika menghempaskan tubuh di sofa samping Remi.


"Kebiasaan si Adul mah! Kalo duduk ngga bisa pelan-pelan!" Remi menepuk lengan Adul karena tubuhnya ikut terhempas, saat Adul duduk.


"Kekey ilfil sama Adul," ia berkata pelan.


"Hah?" seruku berbarengan dengan Remi dan Gia.


"Kenapa emang, Dul?"


"Karena kejadian di studio?"


"Karena kamu songong?"


Pertanyaan dari kami hanya direspon lirikan sinis. "Karena kemaren pas dia maen ke rumah, emak langsung nanya kapan kira-kira bisa main ke rumah dia buat ngelamar!"


"Wooh!" Gia bertepuk tangan. "Emak mah emang lincah! Gerak cepet!"


"Masalahnya, si Kekey belum siap nikah, Teteh! Dia jadi males gitu karena emak nanya-nanya. Jadinya ilfil, karena kata dia, belum kenal deket udah maen lamar-lamar aja."


"Ya iya sih! Aku juga pasti ilfil, kalo baru deket sama cowo, belum penjajakan belum kenal deket, udah ditanyain masalah lamaran," timpalku. "Karena buat aku mah, hubungan yang bener itu ada step atau langkah-langkahnya."


"Ya emak mah takut Adul keburu tua," sambung Adul menghembuskan napas panjang.


"Ya biar gitu juga, tetep sih kata aku mah jangan buru-buru. Jangan kemakan stigma masyarakat yang katanya jangan pilih-pilih, jangan kebanyakan mikir. Nikah ya tinggal nikah aja. Ya kalo dapetnya orang yang tepat, kalo ngga?" balasku.


"Iyasih bener," Remi mengiyakan. "Sekali seumur hidup, kayanya wajar kalau selektif. Kan ada tuh, pacaran lama, tapi karakter asli malah muncul pas nikah."


"Banyak lah cerita kaya gitu," Gia ikut menambahkan.


"Xu, narasumber kalian udah dateng?" tanya Teh Opi melongokkan kepala di pintu.


"Narasumber apaan, Teh?" tanyaku balik.


"Astagfirullah!" Gia memekik sekaligus menepuk keras dahinya. "Maaf, Teh Opi. Gia lupa ngasi tau yang lain."


Teh Opi hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Narasumber apa sih, Gi?" tanya Remi.


"A-anu ... Itu—."


"Vendor event gerak jalan minta narasumber dari para pemenang. Buat promo ke pendengar, kalo event kita tanpa rekayasa dan beneran ada pemenangnya," potong Teh Opi.


"Kok di Kisah Tengah Malam sih, Teh?" tanya Adul. "Kenapa ngga di program lain aja?"


"Ya di program lain juga. Cuma, karena kalian yang off air malem ini, program kalian yang pertama. Besok, program lain juga nyusul buat ngundang mereka. Kan, kalian siaran lagi lusa. Lusa itu, semua harus udah beres," jelas Teh Opi.


"Atuh Teh, ngga bakal nyambung atuh. Masa narasumbernya dari pemenang event gerak jalan? Mau ngobrolin apa coba?" tanyaku lesu. "Lagian, emang narasumber bisa dateng ke sini ngedadak?"


"Duh, maap-maap, aku beneran lupa. Padahal Teh Opi udah ngasi tau dari kemaren-kemaren," balas Gia.


"Woooo, Teh Gia nih!" sinis Adul.


"Tau! Jadi riweuh kan?" aku ikut menatap Gia sinis.


Dengan segera Gia bangun dan menepuk lenganku lalu lengan Adul kencang.


Plak! Plak!


"Ngga usah ngomel! Nurut aja!" sentaknya.


"Hahaha, good Gi! Biar tuh anak dua nyadar, siapa produser siaran. Lagian, ini special request dari vendor. Ngga bisa nolak yes gaes! Jadi, walaupun ngga nyambung, sambung-sambungin ajalah," ucap Teh Opi sembari tertawa dan kembali masuk ke dalam.


"Jadi siapa atuh narasumber sekaligus pemenang gerak jalan? Bisa dateng ngga kira-kira?" tanyaku meringis dengan masih mengusap lengan bekas tepukan Gia.


"Bisa. Pasti bisa. Yakin bisa. Tapi kita yang harus kuat mental sama mereka," jawab Gia mendadak lesu.


"Emang siapa?" Pertanyaan Remi mewakili rasa ingin tahuku.

__ADS_1


"Emak dan Bu Jejen," Gia menjawab mantap.


***


"Pokoknya selama Inoxu sama Adul ngomong, Emak sama Bu Jejen jangan motong. Baru boleh ngomong kalau mereka udah nanya. Jangan maen nyeletuk kaya waktu itu ya, Mak? Plis banget ini mah, Gia mohon dengan sangat," ucap Gia pada Emak dan Bu Jejen yang baru saja memasuki studio.


"Iya-iya, Neng. Emak paham," jawab Emak Adul yang diangguki Bu Jejen.


"Oke kalo gitu, makasih ya? Nah sekarang Gia mau masangin headphone, punten yah?"


Keduanya duduk tenang di kursi narasumber yang tepat berhadapan denganku serta Adul.


"Neng Inoxu, nanti nanyanya jangan yang serem-serem ya? Emak kapok! Nanti kaya waktu itu di studio lama," ucap Emak padaku yang kubalas dengan anggukan. Bu Jejen sendiri, sedang mengangkat telapak tangannya ke segala arah, seperti sedang menerawang. Yak, seperti biasa.


"Standby Xu, Dul!" seru Remi yang membuat kami menatap monitor dan mengatur mic. "On 3, 2, 1, go!"


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inoxu, dan Adul mengucapkan selamat malam dan selamat datang di Kisah Tengah Malam Radio Rebel Bandung 12,08 FM. Malam ini ada sesuatu yang berbeda. Lain dari biasanya, karena di studio kami sudah kedatangan dua orang narasumber, yang merupakan pemenang event gerak jalan sehat bersama Susu Sapi Super Segar beberapa waktu lalu. Susu Sapi Super Segar! Sehatkan dirimu agar di masa renta bisa melihat anak dan cucu bahagia, percayakan pada Susu Sapi Super Segar!" Aku hampir tertawa bru*tal membaca tagline dari vendor yang merupakan sponsor event gerak jalan.


"Tapi, sebelum kita menyapa narasumber-narasumber kita untuk malam ini, satu buah lagu permintaan Gina Mamake Irsyad dari Elemen dengan Cinta Tak Bersyarat, akan saya putarkan. Stay tuned terus dan jangan ke mana-mana," lanjutku sebelum mematikan mic.


Adul yang duduk di sebelahku hanya bisa menatap pasrah ke arah Emak dan Bu Jejen yang sedang meliuk-liuk heboh di kursinya, mendengar lagu yang diputar. Gerakan mereka berbanding jauh dengan lagu yang terdengar sedih dengan tempo lambat. Setelah lagu hampir selesai, keduanya kembali duduk tenang di kursi masing-masing.


"Yak, itulah dia gaes, Elemen dengan Cinta Tak Bersyarat. Padahal mah ya, kenyataannya, cinta jaman sekarang syaratnya banyak! Udah kaya persyaratan ngajuin pinjeman ke bank!" Adul melanjutkan siaran. "Narasumber kita nampaknya udah ngga sabar untuk menyapa para pendengar semua, mari kita panggilkan, Mak Romlah dan Bu Jejen. Yeay!"


Aku, Remi, Gia serta Adul sendiri bertepuk tangan heboh untuk Emak dan juga Bu Jejen. Keduanya melambai bak peserta yang sedang mengikuti kontes kecantikan.


"Assalamualaikum, Mak Romlah dan Bu Jejen," sapaku.


"Waalaikumusalam Neng Inoxu," jawab mereka kompak.


"Gimana kabarnya hari ini, Mak?" tanya Adul sebagai formalitas.


"Alhamdulillah baik Kang. Cuma lagi kesel sedikit nih, sama anak laki di rumah. Susah banget dinasehatin! Kerjanya males-malesan mulu."


"Eh, Emak curhat, hahaha!" Aku spontan tertawa. "Jadi para pendengar semua, Mak Romlah ini sebenernya ibu dari penyiar kita, Kang Adul."


"Eh iya, Neng, maap," ucap emak tersipu. "Emak emang ibu dari penyiar Adul."


"Emak sama Jejen jadi pemenang peserta paling semangat dan heboh. Karena sepanjang jalan, kita berdua teriakin yel-yel," jawab emak.


"Yel-yel gimana?" tanya Adul mulai penasaran.


"Hidup indehoy, bohay! Woyadong-woyadong!" Keduanya mulai berteriak dengan semangat setelah sebelumnya saling menatap.


"Hahaha!" aku tertawa keras bersama Gia dan Remi hingga sakit perut. "Hebat banget Mak Romlah sama Bu Jejen! Pantes jadi juara, semangatnya luar biasa." Aku tersenyum lebar.


"Iya dong, Neng! Biarpun kita emak-emak, tapi ngga mau kalah sama anak muda," balas Bu Jejen.


"Mantap!" Aku mengacungkan dua jempol. "Kalo kegiatan sehari-hari emak apa nih?"


"Emak mah diem di rumah. Untungnya, bapaknya si Adul ninggalin kontrakan buat biaya sehari-hari, Neng. Ditambah lagi, Adul kan sekarang udah kerja, jadi udah bisa mandiri sendiri. Tinggal nikah aja nih yang belum!" jawab emak menatap Adul sengit.


"Hahaha!" aku kembali tertawa. "Kalo Bu Jejen, kegiatan sehari-harinya apa, Bu?"


"Ibu mah Neng, sering dipanggil buat nyembuhin orang sakit."


"Oh, kaya tabib ya?" tanyaku lagi.


"Bukan Neng, nyembuhin orang yang kena penyakit mistis. Kaya kesurupan, atau ilang ingatan. Pernah juga disuruh ngebersihin rumah yang banyak setannya."


"Wah! Bu Jejen bisa?" Aku menatapnya lekat.


"Bisa dong Neng! Gampang buat Ibu mah! Nih, kaya di sini nih, demit di sini mah banyak. Kantor ini teh harus dibersihin."


"Emang Ibu bisa ngeliat yang kaya gitu-gitu?" Adul ganti bertanya.


"Bisa atuh Kang. Kaya Akang nih, jomblo mulu, itu karena ada perempuan yang dulu naksir Akang, tapi Akang tolak. Habis itu, perempuannya meninggal dan nutupin aura Akang biar ngga laku-laku."


Adul hanya nyengir mendengar perkataan Bu Jejen. "Terus gimana biar aura saya keliatan?"


"Rajin skincare-an, perawatan ke salon, make over muka ke luar negeri kalo perlu! Intinya semua pake duit!

__ADS_1


"Hah?" Adul melongo.


"Iya-lah Kang! Kalau Akang jelek, jadilah kaya, karena kalau Akang kaya, jeleknya wajah Akang bisa dimaapin. Akang mau pake skincare sehari sebotol juga bebas. Dijamin kinclong, kalo udah kinclong, mau dapetin perempuan yang kaya gimana juga, pasti bisa!"


"Hahaha!" Aku, Gia dan Remi kembali terbahak-bahak, sedangkan Adul, mulai cemberut.


"Eh, tapi bener Ibu bisa liat yang ngga keliatan di mata manusia normal? Kalo gitu, ibu bisa liat penghuni sini, dong?" tanyaku memancing.


"Ya jelas, Neng. Di sini mah banyak! Cuma Ibu males aja berinteraksi sama mereka. Soalnya kebanyakan demit bule semua. Ibu ngga ngerti bahasanya."


"Bu Jejen ini anak indehoy, Neng. Kan Emak udah pernah bilang," timpal emak.


"Indigo," ralatku.


"Nah iya itu!" cengirnya.


"Bu Jejen ngga takut emang?" tanya Adul dengan senyum simpul. Aku menoleh dan menatapnya penuh tanda tanya, karena merasa jika ada yang ia sembunyikan.


"Jelas ngga! Sini kalo ada, biar Ibu tapok sekalian!"


Deg! Aku memandang Gia dan Remi yang terlihat mulai tegang. Adul sendiri hanya menganggukkan kepala dan menunduk.


"Awas kalo aneh-aneh!" bisikku tajam.


"Aman, Teh. Ngerjain dikit orang sombong," sahut Adul terkekeh.


Aku melihat jam dinding dan memutuskan untuk menutup siaran. "Oke kalau gitu, makasi banyak ya Mak Romlah dan Bu Jejen, udah mau ngobrol-ngobrol di Kisah Tengah Malam. Sehat selalu ya?"


"Itulah dia sedikit bincang-bincang saya dan Adul dengan narasumber kita malam ini. Seru banget kan? Sampai ngga kerasa kalau kita udah di penghujung siaran. Satu buah lagu permintaan Dwi Putri Kusuma dari Avenged Sevenfold dengan Dear God, salamnya buat kamu yang entah di mana. Lagu ini buat kamu, pertama kali kita denger lagu ini, waktu di kosan kamu saat momen berantem kita di tempat kerja yang akhirnya berujung damai dan menyatunya hati kita. Sayangnya, apa daya? Amin kita berbeda. Bahagia selalu ya kamu." Aku menarik napas panjang.


"Wih, nyes banget ini, bacain salamnya Teh Dwi. Ya, buat kamu, orang yang dimaksud Teh Dwi, semoga denger salam ini yak. Akhir kata, Inoxu, Adul, tim Kisah Tengah Malam dan para narasumber mohon pamit. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikan mic dan melepas headphone.


"Neng Inoxu, udah beres kan?" tanya emak yang kuangguki.


"Jen, tunggu bentar ya? Aku mau ke kamar mandi dulu." Tanpa menunggu jawaban Bu Jejen, emak langsung ke luar studio.


"Teh, inilah saatnya," bisik Adul yang membuatku membolakan mata. "Bu Jejen tau ngga, kalau di sini, ngga boleh ngomong sembarangan masalah demit?"


"Ah ngga tau. Biarin aja, Ibu mah ngga takut," jawab Bu Jejen santai. Aku sudah berdiri, dan memberi kode pada Remi dan Gia agar mengikutiku keluar studio. Adul sendiri sudah menatap sudut kosong di ujung studio dengan wajah tegang.


"Bu Jejen diem di sini dulu ya? Tungguin Emak. Adul mau ambil minum dulu," ucap Adul.


"Nah, gitu atuh! Masa udah ngomong di radio, ngga dikasih minum!" jawab Bu Jejen ketus.


Adul berjalan ke arahku dengan terus menatap ke pojok studio. "Hayu cepetan keluar," bisiknya pada kami bertiga.


Tepat saat tanganku hampir memegang handle pintu, terdengar suara sesuatu menggelinding. Sontak, aku berbalik, diikuti oleh Gia, Remi dan Adul.


Bug!


Sebuah bola menabrak kaki Bu Jejen. Bu Jejen sendiri sudah berdiri, dan hampir mengambil bola tersebut, saat tiba-tiba bola itu berubah menjadi sepotong kepala dengan senyum yang lebar.


"Demit!" teriak Bu Jejen parau.


Bug!


Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat Bu Jejen menendang kepala itu, hingga menggelinding menabrak tembok.


"Demit jahat! Ini ternyata yang suka gangguin anak-anak penyiar! Pergi! Pergi!" teriaknya lagi. Namun, bukannya berhenti atau lari ketakutan, Bu Jejen malah menghampiri kepala tersebut dan menendangnya beberapa kali lagi, persis seperti sedang bermain bola.


Kami berempat terbelalak, dan tanpa sadar aku bertepuk tangan. "Bu Jejen emang suhu," ucapku lirih yang masih memandangnya terkesima.


"Iya bener! Kasian itu kepala si ketan Belanda. Pasti pusing digelindingin kaya gitu," sahut Gia.


Kami masih melihat aksi Bu Jejen selama beberapa menit kemudian, sebelum akhirnya potongan kepala itu menghilang dengan sendirinya.


"Ketannya kena mental," lirih Remi. Adul hanya mengangguk mengiyakan.


"Nah kan! Pergi juga," sahut Bu Jejen berjalan ke arah kami dengan tersenyum.

__ADS_1


"Mana minumnya, Dul? Ibu haus!" tambahnya melihat kami satu persatu, yang masih terpesona dengan apa yang ia lakukan barusan.


__ADS_2