Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 29


__ADS_3

"Aduh eungap euy!" keluhku begitu sampai di teras.


Bang Win yang menyusul di belakangku hanya terkekeh. "Ya gimana ngga eungap, di dalem situ ada dua bayi."


Aku hanya diam dan duduk di sofa. Kami baru saja pulang dari rumah sakit, untuk memeriksakan kandunganku, yang ternyata sudah berusia hampir empat bulan dan berjanin kembar. Karena tubuhku yang kecil, walaupun usia kandungan masih muda, sudah mulai terlihat jika perutku mulai membulat.


"Kliyengan ngga? Mau aku anter pulang aja?" tanya Bang Win lagi yang duduk di sebelahku. "Biar Adul, Gia sama Remi yang siaran."


"Ngga ah, bosen di rumah," jawabku pendek.


"Atau mau nyusul mama sama Nyx ke Jakarta?" tanyanya lagi.


"Ngga ah, males jalan jauh." Aku melirik Bang Win yang masih menatapku lekat dan hanya tertawa kecil.


"Weis, bumil kenapa? Lemes bener? Belom makan siang yak?" tanya Kang Utep yang baru saja keluar menatapku lekat. "Win, si Inoxu apa ga mending cuti siaran aja dulu?"


"Tidak!" potongku tegas. "Akutu ya Kang, kalo di rumah malah bingung mau ngapain. Lagian ngga cape kok kalo siaran mah, orang cuma duduk doang."


"Tuh kan Tep, denger sendiri, kan?" sambung Bang Win, yang direspon anggukan oleh Kang Utep.


***


"Enak ya Teh, kalo studio satu udah bisa dipake kaya gini. Kita bebas siaran off air jam berapa aja," ucap Adul. Hari ini, kami memang berencana untuk siaran di sore hari. Itulah kenapa, tidak lama setelah aku sampai di Radio Rebel sekitar satu jam yang lalu, Adul, Gia serta Remi datang. Gia sendiri langsung menuju ke ruang siaran untuk mengikuti rapat khusus produser program siaran.


"Jangan seneng dulu!" sambar Gia yang baru keluar dan ikut duduk di sofa teras. "Hasil rapat barusan udah diputusin kalau jadwal bakal balik lagi ke awal, karena ada beberapa penyiar yang harus ngeback up siarannya Teh Hani," timpal Gia.


"Jadi nanti kita on air lagi tengah malem?" tanya Remi.


"Ngga. Tetep off air, tapi di jam delapan malem. Masalahnya, kita kekurangan penyiar. Jadinya, penyiar lain yang udah megang banyak program siaran, harus bergantian ngegantiin Teh Hani. Mereka harus siaran program mereka masing-masing, terus ketambahan siaran program off air Teh Hani yang jumlahnya ada empat. Makanya jadwal studio penuh banget," jelas Gia.


Sudah dari sejak lama Radio Rebel membuka lowongan untuk posisi penyiar. Sayangnya, sampai hari ini belum ditemukan kriteria yang sesuai, walaupun banyak pelamar yang sudah datang.


"Emang Teh Hani belum sembuh?" tanyaku heran.


"Belom, masih suka kumat-kumatan. Kata Teh Opi mah, sama keluarganya mau dibawa ke pesantren buat disembuhin, dan sekalian memperdalam ilmu agama."


Aku, Adul dan Remi hanya mengangguk dalam diam.


***


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam saya ucapkan untuk semua pendengar setia Kisah Tengah Malam Radio Rebel Bandung 12,08FM. Inoxu dan Adul hadir kembali untuk menemani istirahat para pendengar semua dengan kisah yang berasal dari narasumber. Satu lagu permintaan Imas Darmawan dari Sia dengan Unstoppable, salamnya untuk keluargaku tercinta, akan menjadi pembuka kisah kita pada malam hari ini. Jadi, stay Tuned terus dan jangan ke mana-mana."


Aku mematikan mic dan menunggu Adul yang sedang menghubungi pendengar Kisah Tengah Malam, yang akan menjadi narasumber. Tidak lama, terdengar jika ia meminta seseorang di ujung sambungan untuk menunggu sejenak.


"Enakeun ya gaes ya, lagu dari Sia dengan unstoppable. Ya walopun Adul ngga ngerti artinya, tapi kayanya enak aja gitu didenger. Yak, narasumber kita semua udah ada di ujung telepon, mari kita sapa. Halow? Ini siapa dan di mana?"


"Halo Kang Adul, Teh Inoxu, ini Elva Ardila di Kopo."


"Halo Teh Elva, punya cerita apa nih buat dibagiin ke pendengar?" tanya Adul.

__ADS_1


"Cerita pengalaman uwak saya di kampung, Kang."


"Oke, mangga Teh Elva," aku mempersilakan.


"Jadi, ceritanya tuh, uwak saya baru pulang dari kebon. Karena hampir magrib, beliau mutusin buat lewat jalan alternatif biar lebih cepet. Nah, dijalan pulang, beliau ngelewatin pemukiman yang rumahnya pada usang. Uwak saya heran, soalnya baru kali ini ngeliat pemukiman yang sepi banget, tapi ngga mikir aneh-aneh, karena beliau baru lewat lagi di jalan alternatif itu. Hampir semua rumah dibangun dari anyaman bambu dan dalam kondisi gelap tanpa lampu, kecuali satu rumah yang terlihat bagus dan terang benderang. Di teras rumah, duduk seorang perempuan yang menyapa uwak saya. Namanya di kampung mah ya Teh, Kang, ngga kenal juga pasti disapa."


"Iya bener, asal lewat depan rumah, walopun ngga kenal, pasti pada nyapa," jawab Adul.


"Perempuan itu nyuruh uwak saya mampir karena mau magrib, dan herannya, uwak saya tuh nurut aja. Beliau mampir dan nanya ke perempuan pemilik rumah, nama desa itu, dan dijawab kalau desa itu adalah desa pemekaran wilayah.


Nah, sambil nunggu adzan magrib, perempuan itu ngasih suguhan, kue-kue sama air teh. Cuma, dari semua suguhan itu, ada satu suguhan yang dilarang buat di makan. Katanya, itu hasil dapet ngutang. Uwak saya bilang, ngga apa-apa walaupun dapet ngutang, yang penting nanti dibayar. Sebenernya aneh ya, Teh, Kang. Ngga boleh dimakan tapi disuguhin."


"Iya sih, kalau ngga boleh dimakan mah harusnya ngga usah disuguhin kan?" tanyaku balik.


"Iya. Singkatnya, lepas magrib, uwak saya pamit pulang dan berterima kasih banget buat jamuannya. Pas udah jalan sekitar lima ratus meter sambil nuntun sepeda, uwak baru sadar kalo capingnya ketinggalan. Karena belum terlalu jauh juga, uwak saya berniat balik lagi ke rumah perempuan tadi, dan malah kaget sendiri."


"Kenapa tuh?" tanya Adul.


"Kang Adul mau tau aja atau mau tau banget?" tanya Teh Elva balik.


"Ish, ditanyain malah gitu deh," sungut Adul.


"Hahaha, maap Kang. Jadi, uwak saya kaget karena ngga liat ada rumah satu pun di tempat yang barusan beliau lewati. Yang ada malah Taman Pemakaman Umum atau TPU."


"Waduh," celetukku mulai merinding. Secara mendadak, aku merasa jika hawa dalam studio menjadi lebih dingin dari biasa. Gia dan Remi sepertinya juga merasakan hal yang sama, karena keduanya bergegas memakai jaket mereka masing-masing.


"Iya Teh. Dan caping Uwak saya ada di salah satu makam yang terlihat baru. Pas sadar, uwak saya langsung kabur naik sepeda setelah ngambil caping. Naasnya, beliau malah keserempet motor pas di jalan dan dibawa ke puskesmas sama yang nabrak."


"Bisa jadi, Kang. Namanya panik karena takut ya kan?" balas Teh Elva.


"Tapi Teh, saya malah salah fokus ke kata-kata permepuan itu loh," timpalku. "Yang ngasi tau uwaknya Teteh, kalau jangan makan satu suguhan karena dapet ngutang. Itu kaya pesen ngga sih? Kan normalnya mah, kalo emang ngga dibolehin untuk dimakan, ya jangan disuguhin. Tapi ini tetep disuguhin."


"Iya bener," sambung Adul. "Aneh juga ya?"


"Pas ternyata rumah perempuan itu jadi makam, saya mikirnya itu makam si perempuan tadi kan? Jadi mikir juga, mungkin perempuan itu mau nunjukin kalau utang itu dibawa sampe mati," tambahku.


"Iya juga ya Teh?" sahut Teh Elva. "Kaya yang ngasi tau, kalau sebisa mungkin jangan 'makan' hutang, karena kalau belum dilunasin, itu dibawa sampai mati."


"Nah, iya gitu. Tapi ngga tau juga, ini mah asumsi aja," aku kembali menimpali. "Ya intinya, hati-hati sama hutang. Mau besar atau kecil, hutang tetap hutang, dan akan diminta pertanggungjawabannya."


"Bener banget, Teh. Setuju saya mah," sambung Teh Elva, lalu terdiam sejenak. "Ya paling segitu aja cerita dari saya. Makasi banyak loh udah dibolehin cerita."


"Makasi kembali buat ceritanya ya, Teh. Sehat selalu," balasku, sebelum terlihat jika Teh Elva memutuskan sambungan.


"Yak itulah kisah uwaknya Teh Elva ya gaes ya. Mudah-mudahan semua yang denger kisah barusan bisa ngambil sisi positifnya. Satu lagu penutup, akan Adul putarkan, permintaan Sekti Muryani dari Melly Goeslaw dengan Bunda, pesannya, lagi kangen banget sama almarhum ibu. Semoga lagunya bisa sedikit ngeringanin kangennya ya Teh Sekti? Akhir kata, Adul, Teh Inoxu dan tim Kisah Tengah Malam pamit dulu. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Adul melanjutkan untuk menutup siaran.


Dengan segera, Adul mematikan mic dan melepaskan headphone, setelah terdengar lagu diputar.


“𝙆𝙪 𝙉𝙮𝙖𝙞 𝙧𝙚𝙠 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙬𝙖, 𝙣𝙮𝙖𝙠? (𝙊𝙡𝙚𝙝 𝙉𝙮𝙖𝙞 𝙢𝙖𝙪 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙬𝙖, 𝙮𝙖?)”

__ADS_1


Aku memiringkan kepala dan mendesah pelan saat mendengar suara yang asing, setelah melepas headphone.


“𝙉𝙪 𝙜𝙚𝙪𝙡𝙞𝙨 𝙟𝙚𝙪𝙣𝙜 𝙣𝙪 𝙠𝙖𝙨𝙚𝙥 𝙗𝙖𝙙𝙚 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙬𝙖 𝙠𝙪 𝙉𝙮𝙖𝙞. (𝙔𝙖𝙣𝙜 𝙘𝙖𝙣𝙩𝙞𝙠 𝙙𝙖𝙣 𝙘𝙖𝙠𝙚𝙥 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙬𝙖 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙉𝙮𝙖𝙞)”


"Hayu ah pulang! Adul mau janjian ke pasar malem sama Kekey," ucap Adul yang membuatku tersadar.


"Cie, ada yang pendekatan sama Kekey nih," goda Gia. Ia dan Remi sudah memegang tas mereka di tangan masing-masing.


"Hayu, Xu?" ajak Remi yang membuatku mengangguk dan mengantongi ponsel. Jam menunjukkan hampir magrib, dan aku harus menunggu Bang Win selesai bekerja setidaknya dua jam lagi. Kami berjalan ke luar studio dalam diam.


"Kita pulang ya, Xu! Assalamualaikum," pamit Gia diikuti oleh Adul dan Remi berjalan menjauh. Aku sendiri menghembaskan tubuhku di atas sofa teras dan mengeluarkan ponsel.


“𝙋𝙤𝙠𝙤𝙣𝙖 𝙠𝙪 𝙉𝙮𝙖𝙞 𝙧𝙚𝙠 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙬𝙖! (𝙋𝙤𝙠𝙤𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙉𝙮𝙖𝙞 𝙢𝙖𝙪 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙬𝙖!)”


Aku kembali mendesah saat suara itu terdengar kembali. "Mun wani rek mawa, siap-siap diduruk! (Kalau berani mau membawa, siap-siap diba*kar!)" sentakku mulai kesal.


Rasa kesalku semakin bertambah, saat melihat Teh Ayu berjalan di halaman dan menuju ke sini. Di tangannya, ia membawa dua buah piring rotan yang entah berisi apa.


"Teh Inoxu," sapanya ramah. Aku hanya tersenyum menanggapi. "Ini mau bawain pesenan Kang Utep."


"Kang Utep pesen ayam serundeng, Teh?" tanyaku.


"Ngga Teh. Pesen lotek, tapi si ibu lagi sibuk ngelayanin pembeli, jadi saya bantuin anter ke sini."


"Oh iya, makasi," ucapku merasa lega. "Loh, satu lagi pesenan siapa?"


"Ini rujak buat Teh Inoxu," jawab Teh Ayu tersenyum.


"Oh, dibawain juga sama Teteh? Makasi ya?" balasku lirih. Aku menatap Teh Ayu lekat.


"Banyak makan, Teh. Orang hamil biasanya gampang laper. Apalagi buat kehamilan kembar kaya Teteh."


Perkataan Teh Ayu membuatku termenung dan mulai merasa heran. Pasalnya, aku sendiri baru mengetahui jika janin dalam perutku kembar, saat tadi setelah memeriksakan kandungan. Walaupun saat kesurupan, Teh Hani mengucapkan sesuatu yang membuatku berpikir ke arah sana, tapi tidak dengan teman-teman lain, yang berada di Radio Rebel saat kejadian itu. Jadi, bagaimana Teh Ayu bisa tau?


Setelah memikirkan sejenak apa yang harus kulakukan, aku membuka suara. "Kok Teh Ayu tau saya lagi hamil janin kembar?"


"Keliatan dari bentuknya," jawabnya mulai gugup.


"Bentuk? Perut saya malah belum ngebentuk loh. Buncit sedikit doang. Heran aja kalau sampai Teh Ayu tau."


"I-itu ... Saya kan pernah hamil juga, jadi tau," balasnya.


"Masa? Emang beneran tau sendiri atau dikasih tau sama si Nyai?" tanyaku to the point.


Mata Teh Ayu membelalak.


"Saya kasi tau ya? Teh Ayu salah besar kalau mau ngincer saya dan anak-anak saya. Saya tau kok. Dan saya bisa ngebales Teh Ayu berkali lipat kalau sampai nekat!" ancamku pelan seraya tersenyum sinis. "Saya bisa bikin rumor yang bakal ngerugiin Teh Ayu."


Teh Ayu semakin gugup dan memutuskan pergi setelah menaruh dua piring rotan yang dibawanya ke atas meja.

__ADS_1


"Oh iya, Teh, bawa lagi aja rujaknya! Kalau ngga, saya buang. Bu Munah bilang, ibu penjual rujak ngga jualan sampai minggu depan karena pulang kampung. Jadi, saya rasa, itu bukan rujak yang biasa saya makan."


"I-iya, Teh," jawabnya sembari kembali mengambil satu piring yang kuperkirakan berisi rujak. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera berbalik dan dengan cepat meninggalkanku.


__ADS_2