Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 34


__ADS_3

"Teh Inoxu!" Panggil seseorang dari arah punggungku, ketika sedang berjalan di halaman Radio Rebel.


"Eh, Hud. Gimana istrinya?" tanyaku langsung ketika Hud berjalan mendekat.


"Alhamdulillah, Teh. Untung dibantu sama Bang Win dan Pak Obi. Kalau ngga, saya ngga tau nasib istri saya gimana."


"Ngobrol di teras aja yuk? Udah gerimis nih," ajakku yang dianggukinya.


"Kemaren bisa ngedrop tuh kenapa?" Aku bertanya setelah duduk di teras. Teh Opi dan Kang Utep, bergabung bersama kami.


"Pendarahan Teh. Tapi tiba-tiba aja gitu. Ngga jatuh, atau lagi kondisi lemah kandungan. Cuma, beberapa hari sebelumnya sempet sakit, demam tinggi sama muntah-muntah. Waktu saya bawa ke puskesmas, bidan bilang ngga kenapa-kenapa kandungan mah. Makanya saya juga heran, bisa tau-tau pendarahan banyak, sampe lemes," jelas Hud panjang lebar.


"Terus sekarang gimana, Hud?" tanya Teh Opi.


"Sekarang mah, udah biasa lagi aja Teh. Udah bisa beraktifitas kaya biasa. Ngga keliatan abis sakit. Aneh saya juga."


"Namanya orang hamil mah, kadang kaya orang sehat, ngga lama kaya orang sakit, Hud," lanjut Teh Opi. "Tapi Alhamdulillah kalo udah baik-baik mah."


"Iya Teh, alhamdulillah," ucap Hud.


"Tapi harus diinget, walaupun keliatan kuat, tetep aja harus banyak istirahat."


"Siap, Teh," Hud tersenyum dan menunduk. Seketika ia meraih bungkusan plastik besar yang ditaruh di dekat kakinya. "Ini, ada sedikit tanda terima kasih. Buat bantuan Bang Win sama semua temen-temen di Radio Rebel."


"Padahal mah ngga usah repot-repot, Hud. Kalau kita di sini pada bisa, pasti kita bantuin," ucapku.


"Percaya, Teh. Tapi ini titipan dari istri saya. Ngga seberapa juga kok, dia bikin sendiri di rumah," sahut Hud. "Istri saya juga nyampein terima kasih ke Teteh, buat mangganya tempo hari. Waktu itu, dia ngidam banget mangga muda. Tapi, karena saya belum ada uang buat beliin, dia ngga berani minta. Eh, untung Teh Inoxu nyuruh ngambil mangga."


"Eh, kalau mau lagi mah, ambil aja," timpal Kang Utep. "Siapa aja boleh ambil kok. Pohon yang buahnya suka dibagiin, malah tumbuh makin subur, buahnya makin banyak."


"Boleh, Kang?" tanyanya Hud.


"Boleh, mau ngambil sekarang juga boleh. Tapi jangan manjat, dahannya licin. Ambil aja galah di belakang, deket ruang genset, ada kok di situ," jawab Kang Utep.


"Boleh sekarang?" tanya Hud lagi.


"Boleh Hud. Sekalian tolong ambilin saya juga ya? Satu aja," tambahku.


"Siap Teh, Kang. Makasi banyak. Saya ke belakang dulu ya?" pamitnya segera berdiri.


Kami bertiga mengangguk sebelum Kang Utep ikut berdiri dan mengambil payung. "Inoxu, satu aja cukup? Mangganya banyak buahnya tuh, barangkali mau bawa lebih buat di rumah," tawarnya.


"Ngga Kang, satu aja cukup. Itu juga buat ngerujak nanti malem pas mau tidur," sahutku menyandarkan punggung dan memejamkan mata.


"Tolong! Tolong!"


Baru beberapa detik setelah mataku terpejam. Aku mendengar teriakan parau Hud dari halaman belakang yang membuatku sontak membuka mata.


"A-ada mayat, ada mayat ...." ucap Hud dengan tatapan kosong, yang segera disongsong oleh Kang Utep. "Ada potongan tangan mayat, Kang. Di belakang ...." Hud jatuh pingsan dalam rangkulan Kang Utep.


***


Suasana Radio Rebel lebih ramai dari biasa. Banyak pedagang bergerombol di dekat pos jaga, yang mencoba mencari tau apa yang terjadi, saat mobil polisi dan juga mobil Tim Inafis masuk.


Di dalam, semua penyiar dan karyawan Radio Rebel berkumpul di ruang rapat. Secara bergiliran, kami dipanggil satu persatu untuk dimintai keterangan secara singkat di ruangan terpisah.


"Mohon untuk tidak keluar dari sini, sebelum pemeriksaan selesai," ucap seorang reserse wanita kepada kami semua.


Pemeriksaan berlangsung cukup lama dan aku sedang duduk terkantuk-kantuk kala menunggu, ketika melihat seorang gadis berpakaian biasa, berjalan melewati ruang rapat dengan seorang reserse.

__ADS_1


"Itu siapa ya? Polisi reserse juga? Kayanya masih muda banget," bisik Teh Opi.


"Ngga tau Teh, mungkin reserse juga sih. Kan ngga sembarangan orang bisa masuk ke TKP (Tempat Kejadian Perkara)," sahutku yang membuat Teh Opi mengangguk.


Setelah beberapa saat, tiba giliranku untuk diperiksa. Seorang polwan dan reserse wanita memintaku duduk dan menanyakan beberapa hal. Mereka juga memeriksa perutku, karena aku berkata jika sedang hamil.


"Terima kasih, Bu Inoxu. Pemeriksaan sudah selesai," ucap reserse wanita itu, yang membuatku melangkah ke luar ruangan. Saat akan menuju ke arah ruang rapat, aku berpapasan dengan gadis muda yang tadi ku lihat.


"Permisi, Teh. Kalau kamar mandi di mana ya?" tanyanya.


Tadinya, aku hanya berniat untuk memberitahukannya saja. Tapi entah kenapa, aku malah menawarkan diri untuk mengantarnya.


"Teteh polisi juga?" tanyaku penasaran saat ia baru saja keluar dari kamar mandi.


Sempat kaget karena melihatku masih di sini, gadis itu tersenyum dan menggeleng. "Bukan Teh. Saya di sini karena diajak Pak Yandri."


"Pak Yandri?"


"Iya, kepala salah satu tim Satreskrim (Satuan Reserse Kriminal)," jawabnya.


Aku menganggukkan kepala dan mengajak gadis itu kembali ke dalam, saat tiba-tiba tangan kami bersenggolan.


"Kenapa?" tanyaku heran karena ia terhuyung. Padahal tangan kami hanya bersentuhan ringan, namun ia terlihat seperti baru saja kusenggol sekuat tenaga.


"Ngga apa-apa, Teh. Saya darah rendah, suka tiba-tiba kumat," jawabnya tersenyum. "Oh iya, nama Teteh siapa?"


"Saya Inoxu. Kalau Teteh sendiri, siapa?"


"Saya Ara, Teh. Seneng bisa kenal Teteh." Tanpa diduga ia mengulurkan tangan untuk kusalami.


"Seneng juga bisa kenal Teh Ara," sahutku.


"Saya ke depan lagi ya, Teh?" pamitnya melangkah pergi. Namum, baru beberapa langkah, ia kembali berbalik. "Kita sama, Teh. Bedanya, saya bisa melihat mereka yang sudah meninggal, sedangkan Teteh, bisa melihat mereka yang masih hidup."


"Kemampuan penglihatan Teteh. Saya juga sama seperti itu. Bedanya, saya menyentuh mereka yang sudah meninggal, untuk tau saat terakhir mereka bertemu ajal. Itulah kenapa, sekarang saya berada di sini."


***


"Xu, tadi ditanyain apa aja?" tanya Teh Opi.


"Ditanyain, seharian ini ngapain aja di sini, dateng ke sini jam berapa, jadwal siaran hari apa aja, sama barangkali tau kalau ada karyawan atau penyiar di sini yang lagi hamil."


"Terus?" tanya Teh Opi lagi.


"Ya aku bilang aja, Teh, kalo aku yang lagi hamil. Abis itu diperiksa deh," jawabku.


"Oh gitu, kirain ditanyainnya banyak."


"Ngga kok. Jawaban aku yang malah berbuah jadi pertanyaan lanjutan." Aku menyandarkan punggung di sofa dan menutup mata. Entah kenapa, aku jadi memikirkan perkataan gadis bernama Ara itu.


Hampir dua jam kemudian, semua orang di Radio Rebel sudah selesai diperiksa. Satu persatu mobil polisi bergerak meninggalkan halaman parkir dan hanya menyisakan satu buah mobil biasa. Jasad bayi itu sendiri sudah dibawa oleh Tim Inafis untuk diotopsi, yang sebelumnya telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).


"Terima kasih atas kerjasamanya, Pak Win," ucap seorang petugas kepolisian, saat berpamitan.


"Sama-sama Pak Yandri," jawab Bang Win. Keduanya berjabat tangan, sebelum pria itu masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan halaman Radio Rebel.


***


"Kita lanjut siaran, Win?" tanya Teh Opi.

__ADS_1


Kami semua kembali ke ruang meeting karena Bang Win berkata, ada yang ingin dia sampaikan.


"Untuk malem ini ngga dulu. Besok aja siarannya," jawab Bang Win. "Seperti yang temen-temen udah tau, ada jasad bayi yang ditemukan di halaman belakang Radio Rebel. Dari percakapan petugas kepolisian yang sempat saya dengar, diketahui jika jasad bayi tersebut sudah tidak lengkap. Besar kemungkinan, bayi malang tersebut dibuang sesaat setelah lahir, lalu dimangsa anjing liar."


"Astagfirullah," gumam semua yang hadir.


"Diduga, pelaku pembuangan tidak masuk lewat depan, tapi lewat dinding pembatas halaman belakang. Kalau ada di antara temen-temen yang tau informasi tentang wanita yang sedang hamil akhir-akhir ini, dan menurut temen-temen mencurigakan, mohon diinfokan ke saya, dan saya akan meneruskannya pada petugas kepolisian," lanjut Bang Win. "Paling segitu aja dari saya, silakan temen-temen semua pulang ke rumah masing-masing. Besok, siaran akan dilakukan seperti biasa."


Semua mengangguk dan beranjak dari kursi, lalu berjalan ke luar ruang rapat, kecuali aku, yang menghampiri Bang Win di kursinya.


"Yang tadi sama kamu, itu Pak Yandri?" tanyaku ingin tau.


"Iya, Yank. Kenapa?"


"Aku tadi sempet ngobrol sama gadis muda yang katanya dateng sama Pak Yandri," jawabku.


"Ara?" tanya Bang Win.


Aku mengangguk mengiyakan.


"Dia itu orang yang selalu membantu pihak kepolisian dalam mengungkap kasus. Udah banyak banget kasus yang terpecahkan, berkat dia. Selain itu, dia istri Cyril, temen aku yang kerja di salah satu koran ternama di kota Bandung. Dia lagi sama Pak Yandri dan timnya, makanya sekalian diajak ke sini," jelas Bang Win.


"Oh, gitu ...," ucapku sembari kembali mengangguk.


"Aku dulu beberapa kali sempet ketemu sama Pak Yandri, waktu masih suka nemenin Utep atau Opi, nyari berita ke lapangan. Aku juga sempet menyiarkan beberapa kasus, yang pada akhirnya menemui jalan keluar karena si Ara ini.


Dulu, dia sempet jadi inceran pem*bunuh berdarah dingin, yang ternyata malah salah sasaran, sampai akhirnya sahabatnya sendiri yang jadi korban. Kasus terakhir yang paling rame, kasus tentang seorang kanibal yang melibatkan pem*bunuh berdarah dingin yang dulu sempet ngincer dia."


"Oh iya! Aku inget pernah nonton berita itu di tivi, tapi ngga ngikutin perkembangan kasusnya. Cerita lengkapnya gimana sih?" tanyaku.


"Jadi, ada pembu*nuh berdarah dingin yang kalau ngga salah namanya Bella. Bisa dibilang psikopat, karena udah melenyapkan sembilan nyawa. Salah satu targetnya, si Ara ini. Tapi ternyata Ara bisa lolos, dan si Bella jadinya salah sasaran.


Si Bella ini terbukti mengalami gangguan kejiwaan, hingga akhirnya dirawat di salah satu rumah sakit. Beberapa tahun dia dirawat di rumah sakit jiwa, ada kasus pem*bunuhan, sekaligus mutilasi dan kanibalisme. Polisi meminta bantuan Bella, karena dia sangat cerdas. Selain Bella, Ara juga dimintai bantuan. Bedanya, Bella membantu dengan pikirannya, sedangkan Ara, dengan kemampuan supranatural. Denger-denger, dia bisa ngeliat akhir hidup dari jenasah yang disentuhnya."


"Penglihatan?" tanyaku.


Bang Win mengangguk. "Si pelaku kanibalisme ini, memasak sisa tubuh korbannya, dan membagikan ke masyarakat kurang mampu dalam bentuk nasi kotak dengan alasan beramal. Si*alnya, ia juga rutin memberikan nasi kotak dengan lauk yang berasal dari sisa tubuh korban, ke rumah sakit jiwa tempat Bella dirawat. Karena si Bella ini pinter, dia tau dari awal kalau orang yang rutin membagikan nasi kotak adalah pelaku."


"Terus si pelaku kanibal ketangkep?" Aku mencondongkan tubuh ke arah Bang Win karena tertarik mendengar ceritanya.


"Ketangkep. Bella yang pada akhirnya bekerja sama dengan Ara, bisa memancing si pelaku mengakui kesalahannya. Sayangnya, saat polisi sedang mengepung pelaku, Bella terkena serangan jantung, dan Ara menjadi sandera."


"Terus gimana?" tanyaku.


"Bella meninggal. Dan saat pelaku hampir lolos dengan menggunakan Ara sebagai sandera, ia juga terkena serangan jantung. Polisi sendiri, sudah menangkap antek-antek pelaku, sesaat sebelum penyergapan di rumah sakit."


"Wooh," aku berdecak.


"Kenapa? Kok kayanya kamu tertarik banget?" tanya Bang Win menatapku lekat.


Aku terdiam selama beberapa saat, sebelum menceritakan semua kejadian yang aku alami saat ia sedang di rumah sakit, waktu mengantar istri Hud. Setelah aku selesai bercerita, Bang Win menggaruk alisnya pelan.


"Aku tau kamu punya kelebihan yang orang normal ngga punya, tapi ngga nyangka kalau kamu sekarang bisa punya penglihatan seperti Ara. Semoga aja, itu karena kamu lagi hamil."


"Iya mudah-mudahan," timpalku.


"Aku ngga nyalahin apa yang udah kamu lakuin. Buat aku, wajar kalo kamu kaya gitu, karena mau ngelindungin anak-anak kita. Tapi lain kali, kalau bisa tahan diri. Bukan diri kamu sendiri yang harus kamu pikirin, tapi juga anak-anak kita, Yank."


Aku mengangguk. "Iyah, maap."

__ADS_1


"Ngga apa-apa. Aku cuma ngga mau kamu dan anak-anak dalam bahaya," Bang Win tersenyum. "Pulang?" tanyanya mengulurkan tangannya untuk kugenggam.


"Iya," jawabku meraih tangannya, sebelum kami berjalan keluar dari ruang meeting.


__ADS_2