Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 38


__ADS_3

Pagi ini, langit mendung dan akhirnya gerimis turun, saat aku dan Bang Win berangkat kerja. Semua penyiar dan karyawan Radio Rebel diminta untuk datang, di hari pertama bekerja kembali setelah libur tahun baru.


Sayangnya, ban mobil kami bocor dan membuat Bang Win mampir ke tambal ban di dekat Radio Rebel. Aku sendiri memilih turun dan berjalan santai dengan tudung hoodie menutupi kepalaku menuju ke gerobak penjual bubur ayam. Tidak lama kemudian, aku sudah berdiri di depan pos jaga dengan plastik berisi bubur ayam di tangan.


Netraku menatap heran ke arah Bu Jejen yang sedang berdiri tepat menghadap teras dengan mata tertutup dan telapak tangan yang diangkat seperti sedang menerawang.


"Ngapain lagi itu si ibu?" tanyaku lirih sembari melangkah mengendap-endap menghampirinya. Tanganku terulur ke depan, berniat untuk mengagetkan beliau.


"Hua!" Aku menyentuh punggung Bu Jejen pelan.


"Hiiii!" pekik Bu Jejen seketika berbalik dan memegang dadanya. Matanya menatapku penuh kengerian.


"Kaget Bu?" tanyaku geli melihat wajahnya. "Masa kaget sih? Saya pelan padahal ngagetinnya."


"Kok Ne-Neng ada di sini?" tanyanya terbata-bata.


"Ish Ibu! 'Kan suami saya udah WA tadi malem, ngasi tau kalau hari ini semua penyiar dan karyawan masuk pagi." Mataku menyipit sebelum berjalan pelan ke arah teras. Di luar dugaan, Bu Jejen menarik tanganku keras.


"Tunggu!" sentaknya.


"Kenapa Bu?"


"Di dalem ada demit yang suka nyerupain anak-anak penyiar. Ibu kaget, karena tadi sebelum Neng dateng, Ibu liat sosok yang nyerupai Neng, masuk ke dalem," jelasnya berbisik.


"Masa iya?" tanyaku balas berbisik. Ketakutan mulai menjalar dari kaki ke seluruh tubuhku.


"Beneran! Tadi Ibu liat ada perempuan masuk ke dalem, perawakannya mirip Neng banget. Makanya Ibu kira, itu Neng. Cuma, karena lama ngga keluar lagi, Ibu terawang dari depan. Eh, Neng yang asli malah muncul di sini."


"Aduh, saya pulang aja deh ya, Bu? Takut ah, masih pagi gini udah dikasi penampakan," sahutku berniat pergi dan membalikkan badan.


"Ngapain pergi? Jangan sekali-kali takut sama makhluk kaya gitu! Apalagi sampai dijajah!" seru Bu Jejen menarik tanganku.


"Duh, Bu. Saya mah pengecut, beneran deh. Nyerah saya mah kalo udah ada yang kaya gitu," ucapku memelas.


"Udah, Ibu temenin! Neng mau ambil mangkok buat saraoan 'kan?" tanyanya melirik bungkusan plastik ditanganku.


"Ngga kok Bu, saya bisa sarapan ngga pake mangkok," balasku.


"Alesan!" sentak Bu Jejen yang membuatku berjengit. "Ayo, Ibu temenin masuk!"


Dengan menarik tanganku, Bu Jejen memasuki teras dan terus berjalan menuju ke arah pantry. Tepat di pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang belakang di mana terdapat pantry, kamar mandi, mushola, dan kamar pak Obi, aku mendengar senandung lirih, yang semakin lama semakin keras.


"Tuh kan, ada yang lagi mandi," bisikku yang berada di belakang Bu Jejen.


"Tenang, ada Ibu di sini. Pak Obi udah percaya ke Ibu buat jagain anak-anak penyiar."


Aku hanya mengangguk dan menelan saliva beberapa kali. Suara hujan yang semakin menderas, menimbulkan sensasi yang tidak menyenangkan sama sekali.


"Saya ingetin ya! Jangan ganggu anak-anak penyiar!" seru Bu Jejen keras yang semakin membuatku mengkerut ketakutan. Suara senandung masih terdengar dari dalam kamar mandi yang tertutup.


"Jangan ganggu! Pergi, pergi!" ulang Bu Jejen. Kali ini, beliau mengangkat telapak tangannya ke arah kamar mandi.


"Saya masih ting-ting! Dijamin masih ting-ting ...."


Suara nyanyian dari balik pintu kamar mandi itu semakin keras terdengar, sehingga membuatku hampir melarikan diri saat Bu Jejen dengan tiba-tiba menurunkan telapak tangannya dan berjalan cepat ke arah kamar mandi.

__ADS_1


Brak!


Tanpa aba-aba, beliau menendang pintu kamar mandi, dan kurasa membuat demit di dalam sana luar biasa terkejut karena tidak lama kemudian terdengar teriakan kaget. "Kyaaa! Tukang intip mesum!"


Byur!


Siraman air terlihat mengenai wajah Bu Jejen berikut gayung mandinya sekalian. Sosok yang entah siapa, masih berteriak histeris. Herannya, Bu Jejen juga ikut berteriak. Keduanya seolah sedang adu kekuatan tarik suara.


"Kokom?!" seruku tidak percaya, saat menghampiri Bu Jejen dan melihat sosok di dalam kamar mandi, dengan kertas masker di wajah serta berlilitkan handuk.


"Teh Inoxu! Kokom lagi mandi diintip!" teriaknya lagi. Aku hanya menatap bingung ke arahnya, lalu ke arah Bu Jejen, sebelum menepuk dahiku pelan dan pergi menuju ke arah teras.


***


"Hahaha! Jadi sekarang Kokom yang disangka demit sama Bu Jejen?" tanya Gia tertawa kencang.


Gia dan Remi baru saja datang, saat Kokom masih dengan kesal mengeluh tentang Bu Jejen waktu mengantarkan tehku. Saat gadis itu sudah kembali ke dalam, Gia bertanya kronologi sebenarnya.


"Iyah! Kokom numpang mandi di sini karena air di rumahnya ngga nyala. Pas banget, semalem Bang Win WA Bu Jejen, ngasi tau kalo pagi ini, kita semua masuk kerja. Maksudnya biar beliau dateng pagi buat bukain gerbang. Eh, Kokom malah disangka sosok demit yang nyerupain aku," jelasku.


"Bu Jejennya sendiri sekarang mana?" tanya Remi.


"Tadi pulang, ganti baju. Disiram air segayung sama si Kokom, lengkap sama gayungnya sekalian."


"Hahaha!" Gia dan Remi kembali tertawa keras.


"Pada ngetawain aoa sih? Eh, Teh Inoxu, itu minumannya udah ngga diminum 'kan? Buat Adul yah? Haus!" Adul yang baru datang, melirik ke arah plastik hitam dengan sedotan besar menyembul di tanganku. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mengambil plastik tersebut, dan meminum isinya.


Aku, Remi dan Gia menunggu dengan penasaran. Saat wajah Adul terlihat keheranan, kami bertiga sontak tertawa.


"Bubur ayam," jawabku santai. Aku menyandarkan punggung dan kembali tertawa saat melihat wajah Adul yang terkejut.


"Makanya jangan culamitan! Tau sendiri, si Xu sejak hamil cara makannya absurd! Kena jebakan 'kan?" seru Gia di sela tawa.


Adul hanya mencibir dan membuang plastik di tangannya ke tempat sampah. Tidak lama, ia nelambai ke arah pintu gerbang, di mana Teh Hani sedang berjalan masuk.


"Hoi! Udah pada kumpul nih," sapa Teh Hani tersenyum lebar sebelum duduk di sebelahku.


"Woyadong! Kita mau ngasi sambutan meriah buat Tomo, pacarnya Gia. Ini hari pertamanya kerja," jawabku.


"Oh iya ya? Penyiar yang bakal megamg program siaran informasi pendidikan di luar negeri yakan?" tanya Teh Hani yang kami respon dengan anggukan.


"Makin nyebelin ah! Semua di sini ada pasangannya, Adul ngga," lirih Adul dengan suara memelas.


"Ya sabar ajalah ya! Semua akan jodoh pada waktunya. Teteh aja masih jomblo di umur segini santai kok," timpal Teh Hani.


"Gimana kalo Teteh sama Adul aja?" tanya Adul tiba-tiba menatap Teh Hani dengan wajah penuh harap.


"Ngga boleh!" seru Kang Utep yang baru saja keluar, dengan suara lantang.


Aku, Gia dan Remi saling berpandangan satu sama lain dan merasakan perubahan atmosfer menjadi tegang.


"Nanti kamu mau disiksa Hani? Hani gitu-gitu juga galak loh!" lanjut Kang Utep pada Adul santai yang membuat kami semua bernapas lega.


"Hampir aja aku ngira kalau Kang Utep ada rasa sama Teh Hani," bisik Gia yang kuangguki.

__ADS_1


"Ga akan kaya gitu 'kan? 'Kan ada Kokom," balasku yang kembali direspon anggukan oleh Gia.


Kami kembali mengobrolkan hal yang ringan, hingga akhirnya Tomo datang dan membuat kami semua bergegas masuk ke ruang rapat, untuk mendiskusikan program siaram baru, yang akan Tomo pegang dibantu oleh Teh Opi dan Kang Utep.


***


"Yank! Masih lama ngga? Katanya mau main ke mall?" Aku melongokkan kepala di pintu ruang kerja Bang Win.


"Ini udah beres, Yank. Baru aja mau nyamperin kamu," balasnya berdiri dari kursi dan berjalan ke arahku dengan tangan terentang. Dengan cepat, aku melangkah ke dalam pelukannya, setelah sebelumnya menutup pintu.


"Cie, yang udah ngga sabar mau ke mall," lirih Bang Win mengacak rambutku. "Eh, es krim kamu masih ada di kulkas. Mau dimakan sekarang?"


Aku melepaskan pelukan, dan segera menuju ke kulkas kecil di sudut ruangan. Hampir saja aku lupa, jika siang tadi, menitipkan sekotak es krim pada Bang Win.


"Yank, tadi 'kan ngobrol sama anak-anak, sebelum Tomo dateng. Si Adul ngeluh, katanya semua di sini banyaknya berpasangan, dia aja yang ngga. Eh Teh Hani nyautin, kalo Teh Hani juga jomblo," aku membuka suara.


"Terus gimana?" tanya Bang Win duduk di sebelahku yang sudah mulai menyuap sesendok eskrim.


"Ya Adul ngajak Teh Hani sama dia aja," jawabku.


"Pacaran?"


"Iya kayanya," aku kembali menjawab. "Padahal, kayanya Adul iseng aja."


"Terus?"


"Terus Kang Utep tau-tau nyamperin ke teras dan teriak ngga boleh. Kenceng banget sampe kita kaget," lanjutku.


"Ya wajar, Utep emang suka Hani dari dulu," respon Bang Win santai.


"Loh! Kan Kang Utep udah sama Kokom." Aku menatap Bang Win lekat.


"Ngga. Itu sih bisa-bisanya Kokom aja," Bang Win tersenyum lebar.


"Maksudnya gimana sih?"


"Kokom itu emang suka sama Adul, tapi dia minder karena ngerasa punya kekurangan dari segi fisik. Nah, di satu sisi, dia deket sama Utep, karena di keluarga Utep juga ada anggota keluarga yang terbatas di pendengaran, Utep tau cara berkomunikasi sama mereka. Itu kenapa dia deket sama Kokom," jelas Bang Win.


"Tapi kan mereka jadian, aku liat malah pas jadiannya."


"Ngga. Kokom suka Adul, tapi ya aku bilang tadi. Dia minder, ditambah juga, Adul waktu itu kan deket sama Kekey. Mesra-mesraan pula pas nelpon waktu siaran. Ya biar Kokom ngga keliatan patah hati, dia pura-puranya suka ke Utep."


"Wooh," lirihku kaget. "Jadi ngga pacaran? Terus kalo selama ini kaya yang pacaran, itu ekting doang?"


"Iya. Utep sama Kokom yang cerita langsung."


Aku mengangguk mengerti dan teringat saat Teh Hani kesurupa di ruang penyiar. Saat itu, terlihat jelas jika Kang Utep luar biasa cemas. "Tapi kok kamu baru cerita sekarang, Yank?" tanyaku bernada protes.


"Aku lupa yank," jawab Bang Win singkat, yang membuatku cemberut. "Udah cepetan makan es krimnya. Kan mau jajan ke mall."


Karena mendengar kata jajan dan mall, aku segera memoercepat makanku, sehingga membuat Bang Win terkekeh.


"Tingkah kamu yang random kaya gini, yang bikin aku makin sayang banget sama kamu, Yank," ucapnya lirih sebelum mengusap pipiku lembut.


Aku hanya tersenyum lebar dan menatapnya lekat, karena wajahku mulai terasa memanas. Saat sudah tidak bisa menahan diri, aku mendekati Bang Win dan menggigit lengannya gemas.

__ADS_1


__ADS_2