Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 39


__ADS_3

"Ibu nih ya! Kayanya mah emang sengaja nyari perkara sama saya! Kemaren ngintipin saya, sekarang selalu aja nyalahin saya!" Suara pekikan Kokom, membuatku dan Adul yang sedang berjalan di halaman Radio Rebel menjadi saling berpandangan.


"Eh Dul-dul! Bantuin itu si Kokom, kayanya mau berantem sama Bu Jejen," seruku menyenggol tangan Adul.


"Gamau ah! Udah sih biarin aja, udah pada gede ini. Lagian, ini pertarungan antara cewe-cewe. Kalo Adul ikutan, yang ada Adul babak belur."


Setelah terdiam sejenak, aku membenarkan perkataan Adul. Akan sangat sulit memisahkan dua orang wanita yang keras kepala dan saling mempertahankan pendapat masing-masing.


"Yaudah, kita duduk di sini aja. Duduk di sofa, nanti malah kena semprot," ajakku pada Adul untuk duduk di halaman berumput, tepat di depan teras.


"Ibu maksudnya apa, Bu? Ngata-ngatain saya kurap! Mentang-mentang Ibu ngintipin saya pas mandi? Sebel saya mah Bu! Mood saya seharian hancur gara-gara ibu!" ucap Kokom dengan nada ringgi.


"Hei kamu yang kemarin nyanyi lagu masih ting-ting! Kapan saya ngatain kamu kurap?! Saya cuma mau minta maap!" Balas Bu Jejen dengan tak kalah kencang.


"Ada ya Teh? Orang minta maap tapi spaneng," bisik Adul sembari mencobot sebuah gorengan milikku. Kami berdua duduk bersila dan memakan cemilan yang baru saja kubeli barusan.


"Kokom kayanya ngga pake alat pendengarannya deh. Makanya dia ngga denger jelas kata-kata bu Jejen," timpalku yang diangguki Adul, karena mulutnya penuh dengan gorengan.


Saat sedang menikmati pertunjukan antara Kokom dan juga Bu Jejen, suara roda kendaraan yang beradu dengan paving block membuatku menoleh ke belakang.


"Beuh, bakal seru ini mah," lirihku sembari menahan tawa. Aku menunggu sampai pengemudi mobil keluar dan mulai berjalan ke arah teras sebelum berteriak kencang. "Woe, Jeng Merlin!"


Seperti biasa, Kang Krisna merubah gaya berjalannya menjadi berlenggak-lenggok sembari mengibaskan rambut panjangnya. Namun, baru beberapa langkah berjalan, matanya membola melihat ke arah Bu Jejen, yang juga sedang menatapnya tajam.


"Ini lagi, si tulang lunak! Udah diobatin, masih aja ngga berubah," geram Bu Jejen membalikkan badannya menghadap Kang Krisna. "Heh, Komo! Bantuin saya pegang si tulang lunak! Harus diobatin lagi kayanya itu anak. Biar jantan!"


Kokom menatap ke arah Bu Jejen, dengan wajah kebingungan. Karena tidak sabar, Bu Jejen menarik tangan Kokom sebelum berjalan mendekati Kang Krisna.


"Pegangin kepalanya! Mau saya sentil lagi jakunnya," Perintah Bu Jejen dengan suara menggelegar. Kokom yang semakin kebingungan, membuat Bu Jejen hilang kesabaran, dan dengan satu tangan menarik rambut Kang Krisna hingga terdongak. Dengan gerakan cepat, ia menyentil jakun suami Teh Opi tersebut dengan keras berkali-kali.


"Hooeeee!" Kang Krisna mengeluarkan suara aneh yang membuatku tertawa dan menepuk punggung Adul keras.


"Hai kamu! Jadilah lelaki seutuhnya!" sentak Bu jejen sebelum kembali menyentil jakun Kang Krisna berulang kali.


"Hoeee!"


"Hoeee!


"Hahaha!" Aku tertawa lepas hingga berurai air mata karena melihat tingkah laku mereka berdua.


"Ibu, Ibu! Aarggh!" teriak Kang Krisna dengan suara aslinya yang berat. Bu Jejen sontak melepaskan tangannya dari rambut Kang Krisna, dan berjalan mundur.


"Udah bu, udah! Saya udah sadar. Makasi udah disadarin," ucap Kang Krisna, yang dengan cepat berjalan menjauh dari Bu Jejen. Ia melewatiku dan Adul yang masih duduk bersila di atas rumput.


"Puas ye Jeng? Ketawanya! Awas ya, eike bales ntar," ucapnya sinis sembari menatapku. Aku membalasnya dengan terkekeh dan meraih plastik yang berisi gorengan milikku. Saat tidak menemukan apapun, netraku dengan spontan melirik ke arah Adul, yang sedang mengunyah dengan susah payah.

__ADS_1


***


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Inoxu, dan Adul hadir kembali menyapa para pendengar semua di mana pun berada. Selama kurang lebih satu setengah jam ke depan, kami berdua akan menemani istirahat malam pendengar semua, dengan sajian kisah dari para narasumber kami."


"Betul banget Teh Inoxu. Tapi sebelumnya, Adul mau puterin satu buah lagu permintaan Gusti Masika dari Dewa 19 dengan Kangen. Kangen sama siapa nih? Kalo Adul mah, lagi kangen banget sama seseorang, sayangnya orang itu udah ada yang memiliki. Ah sudahlah! Ini dia Dewa 19 dengan Kangen. Selamat mendengarkan ya gaes ya!" Adul melanjutkan pembukaan siaran.


Aku sendiri sudah dari tadi menghubungi narasumber, dan memintanya untuk menunggu sejenak. Mataku sekilas menatap wajah Adul yang terlihat sendu, saat mendengarkan lagu dari headphone.


"Eh, Dul. Kenapa ga sama Teh Hani aja sih? Teh Hani baik, cakep, pinter," aku berusaha memancingnya.


"Ya karena itu. Karena Teh Hani baik, cakep dan pinter. Sedangkan Adul? Adul mah orang ngga punya, sekolah juga cuma sampe SMA, ngga cakep, dulu kalo ngga diajak Teh Inoxu siaran, kayanya Adul masih jadi OB."


Aku termenung menatap Adul. Tidak pernah kusangka sama sekali, dibalik sifatnya yang selalu terlihat ceria dan ramai, tersimpan satu sisi yang tidak diketahui orang banyak.


"Ngga nyadar aja kamu mah, ada cewe yang sebenernya minder sama kamu, padahal dia sayang," celetukku sembari kembali menatap layar komputer.


"Apaan Teh?" tanya Adul menoleh.


"Ngga. Ini lagunya Dewa 19 sedih banget," jawabku asal. Aku kembali termenung selama beberapa saat sembari menopang daguku dengan tangan sebelum lagu yang diputar hampir selesai.


"Itulah dia Kangen, dari Dewa 19. Ngomong-ngomong soal kangen. Para pendengar, pasti dong ya pernah ngerasa kangen yang bener-bener kangen? Kangen yang bikin dada sesak. Kangen yang bikin hati sakit. Kangen yang bikin ngerasa kaya kita jadi orang paling menderita di dunia. Nelangsa sendiri, kesiksa sendiri, dinikmati sendiri. Kadang bahkan, ada yang sampe ngga kuat dan akhirnya nangis. Ah sedihlah kalau diterusin mah! Mudah-mudahan, yang lagi pada kangen, bisa sedikit terobati rasa kangennya, dengan lagu dari Dewa 19 tadi. Ya walaupun saya ngga yakin sih! Hahaha! Yak, di ujung sambungan sudah ada narasumber kita. Halo? Dengan siapa di mana?" tanyaku.


"Assalamualaikum Neng Inoxu, Kang Adul. Ini Eyang Uti di Dago."


"Waalaikumusalam Eyang Uti. Silakan Eyang, punya cerita apa buat dibagiin pada para pendengar Kisah Tengah Malam?" tanyaku spontan.


"Mau cerita tentang masa kecil Eyang."


"Mangga Eyang, silahkan," balas Adul.


"Jadi, Eyang dulu dari umur satu tahun diasuh oleh nenek dan buliknya Eyang. Ini karena orang tua Eyang tugas di daerah lain. Pada waktu berumur enam tahun setengah, Eyang mengalami satu kejadian yang menurut Eyang cukup aneh."


"Kejadian apa Eyang?" tanyaku mulai penasaran.


"Jadi, waktu itu, neneknya Eyang sedang pergi mengunjungi budhe Eyang yang baru saja melahirkan. Eyang tinggal di rumah bersama bulik. Sore hari setelah mandi, Eyang bermain di halaman belakang rumah sampai hampir menjelang magrib. Namanya anak-anak, pada waktu itu Eyang tidak mau masuk ke dalam rumah, karena terlalu senang bermain.


Bulik Eyang sampai marah, dan mengunci pintu rumah sehingga Eyang tidak bisa masuk. Sambil menangis dan menyandar di pintu, Eyang melihat ada kadal raksasa. Kadal itu mendekati Eyang sembari menjulurkan lidahnya yang bercabang. Eyang ingin sekali berteriak, tapi entah kenapa, suara Eyang tercekat di tenggorokan.


"Wih, terus gimana Eyang?" Adul tidak bisa menyembunyikan nada penasaran dalam suaranya.


"Saat kadal itu hampir menjilat Eyang, ada seorang bapak tua yang memakai baju warok dan menendang kadal raksasa itu sampai terpental. Ngga cuma sampai di situ saja, beliau juga mengusap kepala Eyang, sehingga Eyang kembali bisa mengeluarkan suara. Eyang berteriak dan menangis sekuat tenaga hingga bulik membukakan pintu dan menyuruh masuk ke dalam rumah."


"Buliknya Eyang ngeliat ngga, sosok bapak tua yang nolong Eyang?" tanyaku.


"Kayanya sih ngga, Neng. Karena bulik waktu itu tidak bereaksi, seperti kalau bertemu dengan orang lain."

__ADS_1


"Oh, ngga nyapa gitu ya?" tanyaku lagi.


"Iya, begitu. Sejak saat itu, sosok bapak tua selalu datang setiap kali Eyang sakit. Dan itu sampai Eyang di bangku SMA. Selepas SMA, Eyang tidak pernah lagi melihat sosok bapak tua tersebut."


"Jadi hilang aja gitu ya Eyang?" Adul membuka suara.


"Mau dibilang hilang nyatanya ngga. Karena, waktu Eyang sudah menikah dan pindah ke rumah sendiri, anak bungsu Eyang yang baru saja lulus SMA bertanya ke Eyang. Bu, yang duduk di meja kamar depan siapa? Ya Eyang heran, 'kan meja kamar depan itu dari kaca. Kalau ada yang duduk, ya pasti pecah 'kan?"


"Iyasih, pasti pecah," aku mengiyakan.


"Anak Eyang bilang. Tadi ada bapak tua yang duduk di atas meja, pakai baju hitam."


"Wah, berarti selama ini, bapak tua itu ngikutin Eyang ya?" timpal Adul.


"Bisa jadi, Kang. Yang tidak terlihat, kan belum tentu tidak ada. Siapa tau memang sosok itu selalu ada, tapi kitanya ngga sadar," lanjut eyang.


"Bener banget Eyang. Sosoknya ada, sayangnya, orang-orang kadang ngga sadar." Aku melirik sinis ke arah Adul yang sedang menguap.


"Terus anak Eyang gimana? Takut ngga?" tanya Adul.


"Ngga. Eyang bilang, kalau ketemu lagi ya salami aja. Namanya orang yang lebih tua."


"Tapi, kayanya emang bukan manusia deh eyang. Gimana bisa disalami?" lanjut Adul yang membuatku seketika menoleh.


"Ya mungkin memang bukan. Kejadian waktu Eyang di dekati kadal itu sekitar tahun 1958. Sedangkan tahun di mana anak Eyang melihat sosok itu di rumah, itu tahun 1997. Dan penampilannya, Eyang rasa masih sama seperti yang Eyang lihat pada saat kecil."


"Awet muda gitu ya?" Adul kembali menyambung.


"Ya, bisa juga," eyang terkekeh. "Sepertinya Eyang sudah banyak bercerita. Eyang cukupkan sampai di sini. Terima kasih ya? Sudah memberi Eyang kesempatan untuk berbicara di radio."


"Sama-sama Eyang, terima kasih kembali sudah berbagi cerita," jawabku sebelum Eyang memutuskan sambungan.


"Ya, itulah ya gaes ya, Eyang Uti di Dago dengan pengalaman masa kecilnya, bertemu sosok yang juga ditemui oleh anaknya. Padahal rentang tahun 1958 ke 1997 itu jauh banget. Hii, Adul jadi merinding—."


Pluk! Aku menarik kakiku kaget saat seekor cicak melompat dekat kakiku. Secara reflek, aku menengok ke arah langit-langit dan melihat beberapa cicak sedang berkumpul. Sepertinya mereka akan berkelahi. Perkelahian cicak biasanya diwarnai dengan aksi jatuh ke lantai. Oleh karena itu, lebih baik aku menghindar.


"Satu lagu permintaan Dhe'Haer dari Nabila Maharani dengan Ayang, salamnya untuk papahnya Dede, akan Adul putar sebagai penutup kisah kita kali ini. Adul, Teh Inoxu dan tim pamit undur diri. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Pluk! Pluk!


"Bang Win!" jeritku sekuat tenaga sesaat setelah mic dimatikan, sembari berdiri dan berlari menuju pintu studio dengan membanting headphone. Penyebabnya adalah, jatuhnya dua ekor cicak dari langit-langit tepat di depan wajahku. Remi dan Gia ikut panik, karena menyangka sesuatu terjadi. Mereka berdua secara spontan mengikutiku berlari ke luar studio.


Sedangkan Adul, ia ketakutan tidak karuan sehingga terlilit kabel headphone. Hal tersebut menyulitkannya untuk melarikan diri. Dengan tanpa tau apa yang terjadi, dia berteriak meminta untuk diselamatkan karena kami sudah meninggalkannya seorang diri.


"Hiyaaa! Tolongin Adul! Toloooong!" lolongnya yang terdengar hingga di luar studio.

__ADS_1


__ADS_2