
Aku berjalan gontai tanpa semangat, memasuki halaman kantor Radio Rebel. Seharian ini moodku memburuk, dan membuatku sedikit sedih.
"Teh Inoxu!" panggil Adul dari arah gerbang yang membuatku memelankan langkah. "Lemes bener sih! Naik apa ke sini? Kok jalan dari depan?"
"Taksi online. Teteh lagi ngga mood, Dul. Diem! Jangan banyak tanya," jawabku meliriknya sinis.
Kami menuju ke teras, lalu duduk di sofa selama beberapa saat, sampai Bang Win keluar untuk menghampiri. Tangannya tidak berhenti mengusap punggungku, seolah membantu meredakan kondisi hati yang seringkali berubah cepat.
"Mau makan cuanki?" tanyanya pelan yang kurespon gelengan.
"Lagi ngga pengen apa-apa," jawabku sembari bangkit. "Aku mau minum dulu ya?"
Aku berjalan masuk tanpa menunggu jawaban Bang Win. Netraku melihat lekat keadaan di sekelilingku. Ruang tamu resepsionis, pintu ruang kerja penyiar, pintu ruang kerja Bang Win, dan banyak lagi. Beberapa penyiar yang baru keluar dari studio menyapaku ramah, sehingga tanpa sadar menimbulkan senyuman di wajahku. Setelah tiba di pantry, aku membuka pintu kulkas, mengambil sebotol air mineral, lalu meneguk isinya setelah duduk di kursi terdekat.
"Yank, anak-anak udah dateng. Mulai siaran sana," suruh Bang Win yang menyusulku ke pantry.
***
"Standby, Xu! Dul!" seru Remi.
Aku dan Adul sudah siap dengan headphone di telinga masing-masing.
"Dalam 3, 2, 1, on air!" Remi mengangkat tangannya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat datang dan selamat berjumpa lagi dengan saya, Inoxu. Dan juga Adul serta tim, dalam Kisah Tengah Malam Radio Rebel Bandung 12,08 FM. Selama satu setengah jam ke depan, kami akan menyajikan kisah dari para narasumber untuk menemani istirahat malam para pendengar semua. Namun sebelumnya, akan saya putarkan satu lagu permintaan Risma Andy dari Mario G Klau dengan Semata Karenamu. Salamnya untuk suamiku tercinta. Stay tuned terus dan selamat mendengarkan," aku membuka siaran.
Adul sedang menghubungi narasumber kami pada malam hari ini saat aku mematikan mic, dan memilih merebahkan badan di atas meja. Mood yang memburuk, nyatanya sangat berpengaruh pada kondisi tubuhku.
Aku hampir memejamkan mata saat Adul menyenggol tanganku, dan mengatakan jika siaran akan segera berlanjut.
"Terusin dulu sama Adul," ucapku malas, yang diangguki olehnya.
"Itulah dia Mario G Klau dengan Semata Karenamu. Romantis banget ya gaes ya? Adul juga mau ah, belajar nyanyiin lagu ini. Buat yayangnya Adul tentu saja," Adul melanjutkan siaran.
"Tidak perlu lama-lama lagi, di ujung sambungan sudah ada narasumber kita untuk malam ini. Mari kita sapa! Halo, ini dengan siapa dan di mana?"
"Yuhu! Im coming! Apa kabar semua?"
Suara itu sontak membuatku mengangkat wajah dan melihat ke arah Adul.
"Mana nih Teh Inoxu? Kok ngga lanjut siaran? Iyey mau leha-leha hei! Sungguh terlampau!" Suara Jeng Merlin menusuk tajam ke dalam gendang telingaku.
__ADS_1
"Saya ada di sini kok Jeng Merlin," ucapku lirih.
"Good! Iyey kenapa suara lembek macem tahu? Kurang jajan?"
"Ah ngga juga, emang lagi males aja saya mah," aku terkekeh karena mulai merasa mood membaik.
"Payah bener deh! Ngga pro sama sekali!" lanjut Jeng Merlin lagi.
"Jeng Merlin mau cerita?" tanya Adul.
"Ngga! Mau ngasih tebakan untuk kalian para penyiar Radio Rebel!"
"Mangga Jeng," aku mempersilakan.
"Malam apa yang sangat mengerikan dan menakutkan?"
"Malam jumat?" tebakku.
"Malam minggu! Menakutkan buat jomblo," sambung Adul.
"Salah! Bisa ngga sih mikir dulu sebelum menjawab?" gerutu Jeng Merlin.
Di ujung sambungan, terdengar Jeng Merlin berdecak kesal. "Jawabannya Malam-pir."
Aku dan Adul kembali berpandangan dalam diam.
"Hei! Keprok dong!" seru Jeng Merlin saat kami tidak memberikan reaksi apapun.
Dengan segera, semua yang ada di studio, bertepuk tangan dengan cepat.
"Nah gitu atuh, kan seneng saya kalo gitu," lanjutnya lagi.
"Sok lanjut, Jeng," pinta Adul.
"Ngga ah, ngga seru main tebak-tebakan sama kalian. Bhay!" balas Jeng Merlin yang tanpa diduga, langsung memutuskan sambungan.
Aku tersentak kaget dan melirik Adul yang sudah menepuk dahinya berkali-kali, sebelum dengan cepat mengambil alih siaran.
"Itulah ya gaes ya, Jeng Merlin dengan semua tingkahnya yang aneh. Karena narasumber kita sudah memutuskan sambungan. Adul akan mengisi siaran sampai nanti waktunya berakhir."
Keningku berkerut melihat Adul dan mulai was-was jika dia kembali melakukan sesuatu yang aneh.
__ADS_1
"Waktu masih di kantor Radio Rebel yang lama. Adul mulai bekerja sebagai Office Boy, yang bertugas membantu pekerjaan para kru Radio Rebel. Dari bersih-bersih, sampai ngebuatin minum atau foto copy naskah skript buat siaran. Di waktu itu, Adul hanya sesekali ngeliat penyiar-penyiar, yang biasa siaran di waktu tengah malam.
Adul ngga berani negur karena kelihatannya penyiar-penyiar tersebut galak dan jarang ngomong. Sampai di suatu malam, Adul yang hanya seorang OB, ditarik untuk menjadi narasumber. Di luar perkiraan Adul, mereka semua ternyata baik. Karena mereka juga, Adul bisa menjadi penyiar seperti sekarang."
Aku terdiam dan mulai mengingat saat pertama kali Adul siaran.
"Dan malam ini, akan menjadi malam yang menyedihkan buat Adul. Karena siaran malam ini akan menjadi siaran penyiar awal Kisah Tengah Malam yang terakhir. Malam ini, siaran terakhir Teh Inoxu, sebelum dia memasuki masa cuti hamil."
Mataku seketika berkaca-kaca.
"Dari awal, Kisah Tengah Malam sudah identik dengan Teh Inoxu sebagai penyiar. Entah sudah berapa banyak kisah yang bisa para pendengar nikmati, karenanya."
Gia dan Remi terlihat mengusap pipi di kursi mereka masing-masing.
"Adul persilakan Teh Inoxu, untuk memberikan sedikit kata untuk para pendengar Kisah Tengah Malam," lanjut Adul lagi.
Aku berusaha menenangkan diri selama beberapa saat sebelum berbicara di depan mic. "Awal saya membawakan program siaran Kisah Tengah Malam, saya ngga pernah menyangka jika program siaran ini akan mengudara sanpai sekarang. Antusias pendengar dan juga narasumber sangat luar biasa. Beberapa pendengar setia bahkan sampai rela datang ke kantor baru kami, untuk sekedar menyapa. Terima kasih banyak untuk segala perhatian yang sudah para oendengar berikan untuk Kisah Tengah Malam." Tanpa sadar, aku menghembuskan napas panjang, saat Remi memberi isyarat jika durasi siaran hampir berakhir.
"Tanpa terasa, satu setengah jam sudah kita lalui. Dan di akhir siaran kali ini, saya menghaturkan rasa terima kasih sekaligus permintaan maaf, jika ada beberapa pihak yang merasa tersinggung dengan ucapan saya selama membawakan program siaran Kisah Tengah Malam. Untuk selanjutnya, Kisah Tengah Malam akan dibawakan oleh Adul, sampai waktunya saya kembali lagi untuk bergabung. Inoxu, Adul dan tim mohon pamit, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Aku mematikan mic dan mengusap air mataku. Gia serta Remi sontak berdiri menghamoiri, lalu memelukku erat ketika pintu studio terbuka lebar, lalu menampilkan sosok Bang Win, Kang Utep, Kang Saija, Kang Krisna, Tomo, Teh Opi, Teh Hani dan hampir semua penyiar Radio Rebel. Secara bergantian, mereka menyalamiku dan memberikan untaian doa yang membuatku menangis tersedu-sedu. Mereka juga memberikan bingkisan yang cukup besar.
"Selamat memasuki masa cuti ya, Xu!"
"Istirahat dulu ya?"
"Cepet balik lagi siaran oke?"
"Jangan lama-lama! Nanti kita kangen!"
Dan banyak lagi kalimat-kalimat penyemangat yang kuterima hingga beberapa saat kemudian, sebelum Bang Win maju dan merangkulku, lalu kami berdua berpamitan pulang dan berjalan pelan ke luar dari studio.
"Kamu ngga apa-apa yank?" tanya Bang Win ketika kami berjalan menuju mobil.
"Sedih ...."
"Sabar. Nanti abis lahiran, kamu bisa balik lagi jadi penyiar," sambung Bang Win.
Aku hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Netraku semakin panas, melihat semua keluarga Radio Rebel sudah berdiri di teras. Lambaian tangan mereka, adalah hal yang terakhir kulihat, sebelum meninggalkan halaman Radio Rebel dengan segudang perasaan.
T A M A T
__ADS_1