Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 23


__ADS_3

"Gia!" seru Remi kaget saat melihat Gia dengan wajah yang basah, sedang mencubiti Adul. Di saat yang sama, aku menghampiri mereka berdua dan menarik Gia menjauh.


"Si Adul minta di ba*bug kayanya! Aku ngga salah apa-apa, maen siram!"


"Ma-maaf, Teh Gia. Adul kira Teh Gia setan, soalnya tadi ngga masuk siaran. Mana pas di studio ada bau busuk banget! Biasanya kalo bau gitu, tanda-tanda ada demit yang lewat—."


"Aku kentut," potongku cepat.


"Apa, Teh?" Adul menatapku tidak percaya.


"Di studio aku kentut, soalnya mules. Gia juga tadi udah ngirim pesen kalo dia di studio satu bantuin Bang Win, Teh Opi sama Kang Utep, tapi ya karena mules, aku ngga sempet nyampein, karena pengen cepet-cepet ke toilet," jelasku santai.


"Astagfirullah," seru Adul pelan dengan menatapku sinis.


"Maap."


"Makan apa sih, Teh?! Baunya udah mirip TPA sampah," tambahnya lagi.


"Gosah nanya." Aku kembali menarik Gia untuk duduk di ruang tamu resepsionis, dan memberikannya tisu.


"Kenapa pada ribut?" tanya Teh Opi melongokkan kepalanya dari studio satu.


"Ngga apa-apa, Teh. Gi cuma mau duduk dulu di sini sebentar," jawab Gia.


"Oke," respon Teh Opi singkat.


"Kita tuh ya, udah terlalu sering ketemu sama yang aneh-aneh, sampai ngga bisa bedain mana asli mana penampakan tiruan," ucap Remi menarik tangan Adul untuk ikut duduk.


"Maap ya Teh Gia, seriusan Adul ngga tau," Adul berkata sembari melirik takut-takut.


"Yodah ngga apa-apa! Tapi nanti lagi mah, tanya dulu atuh. Kan aku tadi jadi nyubitin kamu," jawab Gia mengusap bagian depan bajunya yang basah.


Adul mengangguk mengerti.


"Beres off airnya?" tanya Teh Opi lagi, keluar dari studio satu.


"Alhamdulillah beres, Teh. Tapi belum di cek hasil rekamannya," jawab Remi.


"Udah di simpen ke server tapi?"


"Syudah," jawab Remi lagi.


"Yaudah, ngecek di studio satu aja yuk? Sekalian nyoba peralatan yang baru," ajak Teh Opi yang membuat kami semua berdiri, dan menuju ke studio satu.


"Hoi bumil," sapa Kang Utep tersenyum lebar. "Ngidam apa nih ponakan? Bilang sama Mang Utep, nanti dicariin. Asal jangan ma*ling mangga tetangga aja."


"Gada ngidam-ngidam, aman," jawabku santai sembari duduk di salah satu kursi.


"Win, udah bisa dicobain? Mau ngecek rekaman off air Kisah Tengah Malam nih," tanya Teh Opi pada Bang Win yang masih diam menatap layar komputer.


"Bisa. Sok dipake headphone-nya."


Kami semua memakai headphone kecuali Bang Win dan Kang Utep yang masih sibuk merapikan kabel. "Beres," serunya terdengar senang. "Kalian lanjut dengerin ya? Utep sama Win ngecek dari komputer utama yang di ruangan Win."

__ADS_1


Di ruangan Bang Win memang terdapat dua komputer dengan lima layar yang menjadi pusat penyimpanan rekaman. Di komputer itulah, rekaman seluruh siaran dipantau, disiarkan, lalu kemudian disimpan untuk dokumentasi. Dalam beberapa detik, terdengar instrumen pembuka siaran Kisah Tengah Malam begitu mereka berdua keluar.


"Loh, kok?" tanya Remi dengan nada heran.


Aku sendiri mulai merasa tegang saat mengerti apa yang terjadi.


"Teh, kok rekaman percakapan telepon sama si Mawar ngga ada?" Adul membuka suara.


"Ngga kesimpen apa ya?" Remi berkata dengan nada cemas sembari melihat ke arah jam dinding. Kurang dari satu jam lagi, rekaman harus disiarkan.


"Kayanya ngga kesimpen deh, Rem. Tapi kok aneh ya? Suara si Xu sama si Adul ada, tapi kenapa suara narasumbernya ngga kedengeran sama sekali?" timpal Teh Opi.


Kami mencoba mendengarkan lagi rekaman yang masih diputar, dan Remi menaikkan volume, untuk memastikan jika suara Mawar terdengar. Namun nihil, tidak terdengar suara Mawar, walaupun pelan.


"Gimana dong, Teh?" tanya Adul menatap Teh Opi sembari menghembuskan napas panjang.


"Coba telepon si narasumber yang tadi, minta tolong dia cerita sekali lagi. Soalnya di opening sama closing, nama dia berkali-kali disebut. Susah kalau harus ganti narasumber, nanti malah harus diulang dari awal. Waktunya ngga cukup, bentar lagi jam sebelas."


Remi mengangguk dan mencoba menghubungi nomor telepon Mawar yang beberapa saat lalu kami hubungi di studio tiga. Dalam sekejap, terdengar nada sambung di headphone yang sedang kupakai. Adul sendiri, sudah bersiap di depan mic, di sebelah Remi.


"Ngga diangkat nih! Udah tidur kali si Mawar," keluh Adul putus asa.


Panggilan kembali diulang beberapa kali lagi, hingga terdengar seseorang mengangkat sambungan di ujung sana.


"Halo?"


Aku menatap Adul dengan kening berkerut. Suara serak laki-laki ini, menunjukkan jika bukan Mawar yang mengangkat telepon.


"Halo," jawab Adul. "Maap malem-malem menelpon, ini dari Kisah Tengah Malam Radio Rebel. Bisa bicara sama Mawar?"


"Mawar ngga ada," jawab suara itu lirih pada akhirnya. Saya Mawang."


"Oh iya Kang Mawang. Salam kenal, saya Adul. Mawarnya udah tidur ya? Gini, beberapa saat lalu, saya nelpon Mawar buat jadi narasumber di program siaran Kisah Tengah Malam Radio Rebel. Tapi sayangnya, rekamannya belum kesimpen. Tadinya mau minta tolong ke Mawar untuk cerita sekali lagi. Tapi, kalau Mawar udah tidur mah, ngga apa-apa, ngga usah aja," jelas Adul panjang lebar.


"Aduh punten. Kayanya salah orang ya? Mungkin maksudnya Mawar yang lain ya?" tanya Mawang.


"Mawar yang lain?" ucapku keheranan.


"Nomor teleponnya ini kok, Kang," jawab Adul.


"Kang Adul yakin? Saya emang kenal Mawar, tapi ngga mungkin dia nelepon ke Radio Rebel."


"Kenapa emangnya?" tanya Adul dengan suara ingin tau.


"Mawar, sodara kembar saya, udah meninggal waktu kami berdua masih kecil."


"Hah?" Adul terdiam dan membutuhkan waktu beberapa detik untuk memahami apa yang didengarnya barusan. "Bercanda nih Akang mah! Atau jangan-jangan, Akang yang tadi nelpon ke sini, terus pake nama Mawar?"


"Bukan Kang, saya Mawang. Mawar itu sodara kembar saya, tapi dia udah meninggal waktu masih kecil," ulang Mawang di ujung sambungan.


Deg!


"Ta-tadi, beberapa saat yang lalu, Mawar sempet nelpon ke Radio Rebel dan jadi narasumber di sini."

__ADS_1


"Wah, ya ngga mungkin Kang. Barangkali itu Mawar yang lain," respon Mawang.


Aku dan yang lain terhenyak di kursi masing-masing.


"Ya udah kalau gitu mah, Kang. Maaf ya udah ngeganggu istirahatnya," kata Adul menutup pembicaraan.


"Ngga apa-apa, Kang. Santai aja," balas Mawang sebelum mematikan sambungan.


"Jadi yang tadi ngobrol sama Xu dan Adul siapa?" tanya Remi. Aku bisa mendengar nada ketakutan dalam suaranya.


"Ngga tau-lah," balas Gia lirih.


Teh Opi melirik jam dinding dan menatap kami semua satu persatu. "Sori gaes, kayanya kalian harus on air deh. Udah ngga mungkin lagi ngebenerin rekaman siaran off air yang barusan."


Aku, Remi, Gia dan Adul melepas headphone dan saling memandang dengan tatapan lesu.


"Sok, siaran di sini aja. Tes alat sekalian," lanjut Teh Opi.


Kami berempat berdiri dan menempati posisi masing-masing, sebelum aku melihat komputer, dan tanda merah di layar berkedip tanda ada telepon masuk. "Si Mawang nelpon lagi, nih!" seruku hampir panik karena ketakutan.


"Angkat Xu," suruh Gia.


"Ngga ah, Adul aja," lemparku sembari menatap Adul.


Setelah terlihat menelan saliva beberapa kali, Adul mendekat ke arah mic dan menekan tanda terima panggilan.


"Ha-halo," ucapnya lirih hingga nyaris tak terdengar.


"Kang Adul? Tadi nelpon Mawar ya? Mawar udah tidur tadi," ucap suara diujung sana.


"Kayanya kalian dikerjain deh, sama Mawar dan Mawang. Dasar abege, seneng banget bercanda," timpal Teh Opi terkekeh.


"Iya Mawar, tadi Adul nelpon karena ada rekaman siaran yang ngga kesimpen. Tadinya nelpon kamu teh, mau minta tolong kamu cerita sekali lagi, buat direkam. Tapi, tadi yang angkat cowo. Katanya, namanya Mawang."


"Ambu!" jerit Mawar histeris di ujung sana setelah sebelumnya terdiam beberapa saat.


Tidak berapa lama, terdengar suara seseorang di belakang sambungan yang bertanya ada apa.


"Tadi temen Mawar, Akang penyiar, nelpon. Tapi katanya yang ngangkat telepon si Mawang," ucap Mawar pada seseorang di dekatnya sambil menangis. Terdengar keributan kecil di ujung sana. Lalu, sebuah suara asing terdengar di telingaku.


"Halo? Maaf, ini dengan Ambunya Mawar. Apa bener kalau tadi Akang nelpon ke nomor ini dan dijawab sama yang namanya Mawang?"


"Iya, Ambu, bener. Tadi yang angkat telepon namanya Mawang. Dia cerita kalau Mawar itu sodara kembarnya yang udah meninggal waktu kecil."


"Astagfirullahaladzim."


"Kenapa Ambu?" tanya Adul.


"Kebalik Kang. Mawar dan Mawang itu memang sodara kembar. Tapi yang meninggal waktu kecil itu Mawang," suara Ambu terdengar parau seolah menahan tangis.


Kami semua ternganga mendengar apa yang baru saja Ambu sampaikan. Dengan terbata-bata, Adul mengucapkan terima kasih dan memutus sambungan.


"Ini mah udah ngga bisa dibedain lagi. Mana yang beneran manusia, mana yang demit," ucapnya lirih sembari menyandarkan punggung.

__ADS_1


"Gimana dong ini ...?" timpal Gia.


"Libur siaran aja deh ... Buat gantinya pasang aja iklan sponsor sama list lagu," ucap Teh Opi menatap kami satu persatu yang berwajah ketakutan.


__ADS_2