Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 35


__ADS_3

"Teh, Aa Adul ada?"


Aku menengok untuk melihat siapa yang bertanya, dan tersenyum melihat sosok itu. "Adul ngga ada siaran hari ini," jawabku. "Sini, Key. Duduk sini."


Gadis itu duduk di sofa, setelah sebelumnya mengangguk dan menyalamiku. "Tapi Teteh ada siaran?"


"Ngga. Jadwal siaran Teteh sama persis sama Adul. Ini mah lagi pengen ke sini aja, jadinya ikut sama suami Teteh."


"Oh, gitu ... Kekey ngechat A Adul, bilang kalau mau ke sini, tapi ngga dibales-bales. Cuma dibaca doang," sahutnya lesu.


Aku hanya tersenyum, karena sedikit banyak Adul sudah menceritakan permasalahannya dengan Kekey. "Lagi berantem ya?" godaku.


"Ngga berantem sih, Teh. Cuma agak gimana gitu." Aku terkekeh melihat gadis di depanku yang tidak bersemangat ini.


"Eh, temenin Teteh makan siang aja yuk? Kamu mau makan apa? Teteh traktir deh," tawarku.


"Kekey udah makan tadi di rumah, jadinya masih kenyang. Kalau Teteh mau makan, silakan aja, Kekey temenin."


"Ya udah kalau gitu, tunggu bentar ya? Teteh pesen dulu ke depan," ucapku yang diangguki Kekey. Dalam beberapa detik, aku sudah berjalan di halaman, menuju ke pintu gerbang.


***


"Teh, A Adul ngebales chat Kekey," serunya bersemangat ketika aku baru saja sampai di teras. Tanganku menaruh beberapa kantung plastik berisi martabak mini, batagor dan juga dua buah jus buah.


"Akhirnya," balasku girang. "Dia bilang apa?"


"Katanya, Kekey disuruh tunggu di sini sebentar. Nanti Aa Adul nyusul ke sini," jawab Kekey dengan wajah berbinar.


"Deuh, yang tadi lemes, sekarang semangat," godaku sebelum tertawa terbahak. Kekey sendiri, tersipu mendengar ucapanku.


Dua gelas jus aku keluarkan dari plastik, dan memberikan satu pada Kekey. Selama beberapa saat, ia terlihat sibuk dengan ponselnya. Besar kemungkinan, ia sedang berbalas pesan dengan Adul.


"Kemaren, di sini rame banget loh key," aku berucap pelan sembari membuka bungkusan martabak mini.


"Ada apaan, Teh?" Kekey terdengar tertarik, karena ia meletakkan ponselnya dan menatapku lekat.


"Kemaren di sini heboh. Karena mayat yang ditemukan di belakang."


"Hah!? Yang bener Teh? Mayat?" tanyanya membolakan mata.


"Iya, mayat," jawabku.


"Mayat siapa?"


"Nah! Ngga ketauan, soalnya mayatnya masih bayi," lanjutku. "Sampe polisi sama petugas yang biasa meriksa TKP dateng. Kita semua di sini juga diperiksa satu-satu."


"Aa Adul juga?" Nada suara Kekey terdengar khawatir.


"Ngga. Adul sama tim Teteh yang lain belum pada dateng. Kata Pak Obi sih, mereka sempet dateng, tapi karena ngga dibolehin masuk sama petugas polisi, ya mereka pulang lagi."


"Kok bisa ada mayat bayi ya?" tanya Kekey. "Terus kenapa bisa dibuang di sini?"


"Masih dalam penyelidikan polisi. Kayanya mah, dibuang lewat tembok belakang."


"Iya ya, bisa jadi. Walaupun tembok belakang tinggi banget, kalo udah niat mah pasti nekat. Bisa aja dipanjat," Kekey menambahkan.


"Nah, iya kan? Namanya manusia udah buta hati, bisa aja nekat," timpalku sembari menyuapkan sepotong martabak mini. "Eh, di minum Key, jusnya."


"Iya, Teh. Makasi." Kekey meraih gelas jus di depannya.

__ADS_1


"Tapi, kok Radio Rebel hari ini tetep beraktifitas kaya biasa, Teh? Bukannya TKP mah biasanya ditutup sampe penyelidikan sele—?"


"Eh, itu Adul," potongku tiba-tiba saat melihat Adul berjalan di halaman.


"Aa Adul!" seru Kekey berdiri, dan melambaikan tangannya bersemangat.


"Kekey!" balas Adul ikut melambaikan tangannya, dan berlari kecil.


"Ah elah," lirihku sebal melihat tingkah keduanya.


"Kekey udah lama? Maapin Aa ya? Tadi angkotnya ngetem lama," ucap Adul.


"Ngga apa-apa, Aa. Kekey mah sabar nunggu Aa," balas Kekey dengan mata berbinar.


Aku hanya menatap keduanya secara bergantian, dan menggelengkan kepala pelan. "Sekarang mah iya, masih bisa mesra-mesraan, manja-manjaan. Tunggu aja nanti kalo udah nikah. Pas galon abis, beras abis, gas abis, token bunyi, uang ngga punya, cicilan panci belum dibayar, anak nangis minta jajan, suami kerjanya tidur terus. Coba, masih bisa romantis-romantisan ngga?!" lirihku kesal.


"Teh Inoxu bilang apa?" tanya Adul menatapku.


"Hah? Ngga. Ngga bilang apa-apa. Ini lagi nungguin martabak dingin." Aku mengelak karena malu, Adul menyadari gerutuanku.


"Wih, lagi pada ngumpul nih," ucap Teh Opi yang tiba-tiba keluar bersama Bang Win dan Kang Utep. "Eh, ini siapa?"


"Kenalin Teh, Bang, Kang. Ini Kekey, pacar Adul," seru Adul bangga yang membuat Teh Opi tersenyum lebar. Kekey sendiri maju, dan menyalami mereka satu persatu.


"Alhamdulillah, Adul ngga jomblo lagi," timpal Kang Utep.


"Woyadong! Semua akan bertemu jodoh pada waktunya," balas Adul.


"Ashek," aku berseru pelan.


"Eh, kita ikut gabung di sini ya? Krisna mau ke sini bawa pizza," kata Teh Opi sembari duduk di sofa, diikuti oleh Bang Win dan Kang Utep.


"Bukan. Dalam rangka dia menang juara panjat tebing kemaren," cengir Teh Opi.


"Wih, keren," sahutku sembari bertepuk tangan. "Jeng Merlin emang luar biasa." Teh Opi hanya tertawa mendengar ucapanku.


Aku tidak sengaja menatap ke arah Kekey yang terlihat diam saja, sepertinya ia tidak nyaman dikelilingi orang-orang baru. "Key, diminum atuh. Abisin jusnya," sahutku yang membuatnya terperanjat.


"I-iya, Teh," jawabnya kikuk.


Merasa mengantuk, aku menyandarkan punggungku di sofa, dan melihat ke arah Bang Win yang tersenyum simpul karena menatapku.


Selama beberapa saat, pembicaraan didominasi oleh Adul, Teh Opi dan Kang Utep. Aku sendiri hampir terlelap, dan memutuskan untuk mencuci muka.


"Key, habisin itu jusnya," suruhku sekembalinya dari kamar mandi dengan wajah yang sudah segar. "Nanti keburu ngga dingin, ngga seger loh jadinya."


"Anu Teh, Kekey ngga begitu suka sama jus nanas," jawabnya pelan sembari menunduk.


Aku duduk di sofa, menyandarkan punggung dan melipat tangan di depan dada. "Tapi harus dihabisin. Nanas mengandung enzim Bromelain. Enzim ini membantu meningkatkan produksi sel darah merah dan putih, melancarkan peredaran darah, serta membantu meluruhkan lapisan bagian dalam rahim."


"Hah?" Wajah Kekey menunjukkan jika dia tidak mengerti dengan apa yang kukatakan.


"Untuk wanita yang baru melahirkan secara diam-diam, dan tanpa diawasi petugas medis, sering tertinggal sisa jaringan yang membuat pendarahan tidak berhenti, dan bisa menjadi infeksi yang mengancam nyawa. Nanas akan membantu meluruhkan bagian dalam rahim sehingga mengurangi kemungkinan pendarahan hebat dan infeksi."


"Maksud Teteh apa?" tanya Kekey lagi.


"Kamu butuh minum jus nanas. Karena kamu baru aja ngelahirin," ucapku to the point.


"Kekey ngga ngerti ah, Teh Inoxu ngomong apa! Kekey mau pulang," serunya sembari berdiri.

__ADS_1


"Kamu kemarin ke sini sesaat setelah melahirkan. Dan ngebuang bayi kamu, di belakang bangunan Radio Rebel waktu kamu pamit mau ke kamar mandi, saat saya dan Adul di studio. Karena di siang hari semua penyiar sedang siaran, ngga ada orang yang ngeliat perbuatan kamu."


"Teteh jahat! Teteh fitnah Kekey!" teriaknya marah.


"Ngga kok. Kamu dateng ke sini hari ini buat ngecek situasi dan kemajuan kasus ini, yakan? Waktu saya bilang, pelakunya belum diketahui siapa, kamu langsung lega," aku menjawab santai, sedangkan yang lain hanya diam dan memperhatikan.


"Itu kenapa, Adul ngga ada di sini pas kamu dateng. Karena kamu ngga bener-bener minta dia dateng ke sini. Saya yang nyuruh Adul dateng dan minta dia ngabarin kamu, waktu lagi ke depan buat beli jus. Kamu cuma mau ngecek situasi di sini, Kekey."


Wajah Kekey terlihat merah dan napasnya terengah-engah. "Ini fitnah luar biasa! Kekey dan keluarga ngga akan tinggal diam!" sentaknya.


"Oh iya, ada lagi. Kamu lupa satu hal Key. Kamu tau kalau bangunan Radio Rebel ini bangunan tua, itu kenapa kamu yakin ngga akan ada cctv, dan mutusin buang bayi kamu di sini. Tapi kamu lupa, pos jaga di dekat gerbang. Itu bangunan baru, dan ada cctv di sana," tambahku. "Polisi bisa ngecek siapa aja yang masuk ke Radio Rebel." Dan lagi-lagi, sejujurnya aku bohong untuk memancingnya bicara. Tidak ada cctv sama sekali di sini.


"Dan lagi, kamu kok bisa tau tembok belakang bangunan ini tinggi? Kan, kemarin itu kunjungan pertama kali ke sini. Kamu bahkan ngeyakinin saya kalau pelaku manjat tembok belakang, biar kecurigaan terfokus di tembok belakang, kan? Padahal, kamu masuk dengan bebasnya dari depan."


Wajah Kekey pucat seketika, dan ia menjatuhkan dirinya ke sofa sebelum akhirnya menangis. "Kekey terpaksa ... Kekey terpaksa ngelakuin itu semua ..."


Kami semua tersentak dan saling menatap satu sama lain. Pengakuan ini mengejutkan, walaupun aku sudah tau dari awal. Dan dalam sekejap, muncul rasa tidak suka pada Kekey. "Ssshhhtt, ngga usah dijelasin di sini. Percuma! Mending ke kantor polisi aja langsung," potongku.


Kekey mengangkat wajahnya dan tersentak, saat aku menunjuk pada sebuah mobil polisi yang sedang parkir di halaman Radio Rebel, dengan daguku.


Tidak lama, dua orang petugas membawa Kekey masuk ke mobil polisi, dan Pak Yandri mengucapkan terima kasih atas informasi yang kami berikan, hingga akhirnya pelaku pembuangan bayi, bisa dengan cepat ditemukan.


***


"Yank, yakin ngga mau ikut aku siaran?" tanya Bang Win yang membuatku menggeleng.


"Pengen diem dulu bentar di sini, Yank. Nanti aku nyusul," jawabku.


"Udah atuh, jangan dipikirin. Ngga usah sedih. Udah seharusnya, Kekey mempertanggung jawabkan perbuatannya."


Aku menatap Bang Win lekat. "Ngomong apa sih, Yank? Aku mah nungguin mang cuanki nganterin pesenan aku."


"Apa?" tanya Bang Win bingung.


"Iya, aku mau diem di sini dulu, karena barusan udah WA mang cuanki buat bikinin pesenan aku. Aku mau makan cuanki."


"Kamu punya nomor mang cuanki?" tanyanya lagi.


"Woyadong! Biar pesenan aku bisa dianterin ke sini pas lagi males ke depan," aku terkekeh.


Bang Win tertawa lega mendengar jawabanku. "Aku kira kamu badmood gara-gara kejadian kemaren sama kejadian barusan. Taunya, nungguin cuanki toh?"


"Iya," aku mengangguk mantap.


"Hahaha! Ya udah, aku siaran dulu. Abis makan, nyusul ke studio ya, Yank?"


"Iya," sahutku lagi, sebelum Bang Win masuk ke dalam. Aku menyandarkan punggung dan menghembuskan napas panjang ketika ingatanku kembali ke saat Kekey baru saja datang tadi siang, di mana ia menyalami tanganku, sehingga aku mendapat penglihatan dan membuat Kekey pada akhirnya dibawa ke kantor polisi.


Dalam penglihatanku, Kekey terlihat berdiri diam di depan pintu kamar mandi, sebelum berjalan mengendap-endap ke arah luar. Rupanya, ia terus berjalan menuju ke halaman belakang Radio Rebel, melalui halaman samping. Sampai di sana, ia mengeluarkan sebuah bungkusan dan menaruhnya di ujung halaman, tepat didekat batu nisan milik Bruno. Lalu, ia kembali ke studio dan berpamitan pulang, dengan alasan sudah sore.


Setelah mendapat penglihatan itu, aku pamit untuk membeli minum dan makan siang. Nyatanya, aku sekuat tenaga sedang menahan diri agar tidak langsung menon*joknya tepat di wajah. Di saat itulah, aku menghubungi Adul dan memberitahukan jika Kekey ada di sini. Adul sendiri heran, karena seharian ini, ia tidak bertukar pesan sama sekali dengan Kekey. Ia bahkan tidak tau jika Kekey datang ke Radio Rebel.


Aku meminta Adul datang, dan bertingkah seperti biasa dengan tujuan menahan Kekey selama mungkin di sini karena aku memiliki sebuah rencana. Setelah menghubungi Adul, aku lanjut menelepon Bang Win, lalu menceritakan semua yang kulihat. Bang Win bilang, ia akan segera meminta Pak Yandri datang ke sini, untuk menginterogasi Kekey secara langsung. Di luar dugaan, Kekey mengakui perbuatannya sendiri, bahkan sebelum diinterogasi.


"Neng, ini cuankinya," sapa mang cuanki yang membawa sebuah mangkok dalam nampan, membuyarkan lamunanku.


"Makasih, Mang. Nanti mangkoknya saya kembaliin ke depan," sahutku sembari berdiri dan mengambil mangkok.


"Siap, Neng."

__ADS_1


Aku kembali duduk dan terdiam selama beberapa saat, sebelum menyuapkan sesendok kuah cuanki ke dalam mulut. "Hah, vanas!" seruku kaget.


__ADS_2