Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 22


__ADS_3

"Teh Inoxu bawa apaan?" sapa Adul ketika aku baru saja sampai di teras dan duduk di sofa.


"Gorengan sama pisang keju. Nih, ambil aja kalau mau, tapi tahu isi-nya jangan disenggol."


"Siaaap!" seru Adul senang. Ia membuka plastik berisi gorengan setelah sebelumnya ke pantry untuk mencuci tangan.


"Lah ini apa? Kok ada pisang, kental manis sachet sama keju?" tanyanya heran saat plastik gorengan dibuka.


"Pisang keju," balasku singkat sembari menyandarkan punggung. Entah kenapa, hawa malam ini terasa begitu menekan. Mungkin sebentar lagi, hujan deras akan turun.


"Pisang keju?" Adul terlihat kebingungan.


"Jangan sentuh!" sentakku sembari mengangkat dua jari dan mengarahkannya ke mataku, lalu ke arahnya.


"Iya-iya ngga!"


Adul sedang memakan gorengan dengan lahap saat aku menatapnya. "Kenapa ngga pulang ke rumah aja sih, Dul? Emak nanti sedih loh."


"Ngga ah, Teh. Nanti yang ada berantem mulu. Adul itu menghindari Emak, takut ngga bisa nahan emosi, terus keluar kata-kata yang nyakitin."


"Ya diomongin baik-baik atuh. Bilang, kalo kamu ngga mau dijodohin," aku berkata seraya menegakkan tubuh dan mengambil satu tahu isi untuk kukupas bagian tepungnya.


"Ih aneh, orang bagian tepungnya yang enak, kriuk-kriuk! Malah ngga di makan," gumam Adul melihatku.


"Ngga suka!" jawabku singkat.


Adul menatapku selama beberapa detik, lalu bangkit menuju ke dalam. Saat ia kembali, di tangannya terdapat sepiring nasi. "Tepungnya buat Adul. Laper, Teh."


Aku tertegun menatapnya yang tanpa sungkan mengambil lapisan tepung yang baru saja kusisihkan. Dengan segera, aku merogoh saku celana jeans dan mengeluarkan dua lembar uang kertas.


"Makan yang bener! Mana ada gizinya makan pake kulit tepung tahu isi," seruku memberikan uang tersebut kepadanya.


"Ah, Teh Inoxu mah! Bikin sedih tau ngga!?"


"Gaya banget pake sedih segala! Mau diambil ngga? Kalo ngga, Teteh masukin lagi nih!" ancamku kembali seraya mengangkat dua jari untuk menco*lok.


"Mau-mau! Makasi ya, Teh? Nanti abis gajian Adul balikin."


"Ngga usah, buat Adul aja. Kalo ada rejeki lebih, kasikan aja ke orang ngga mampu." Aku memakan tahu isi yang tersisa dan kembali menyandarkan punggung serta menutup mata.


"Teh, kata Kang Utep, kalo peralatan studio satu yang baru udah dateng, kita siaran di sana."


"Ya tinggal siaran aja. Kenapa emang?" tanyaku.


"Teteh ngga takut?" tanyanya balik.


"Biasa aja. Teteh emang penakut, tapi begitu tau kalau Teteh hamil dan ada anak Teteh di perut, Teteh berusaha nahan takut. Kayanya sih semua ibu kaya gitu, menyingkirkan ketakutannya sendiri, buat ngelindungin anaknya."


"Oh," respon Adul singkat.


"Emak kamu juga pasti gitu, Dul. Banyak hal yang beliau takutin. Tapi demi kamu, dia menyingkirkan ketakutannya sendiri. Emak sampai jodohin kamu teh, 'kan karena kamu kemaren patah hati gara-gara Kokom. Kalau mau Emak berhenti, ya kamu atuh tunjukin, kalo kamu baik-baik aja. Kalo emak masih keukeuh atau nekat ngenalin kamu sama cewe itu, ya ikutin aja, kali cocok. Kalopun ngga, ya ngga rugi karena sebatas baru kenal." Aku menjelaskan panjang lebar.

__ADS_1


"Gitu ya, Teh?"


"Hooh," balasku sembari mengambil sebuah pisang, lalu mengupas dan memakannya bersama dengan segigit keju. Selanjutnya, aku menyedot kental manis sachet dengan menggunakan sedotan air mineral gelas.


"Sungguh terlalu! Padahal di depan banyak yang jual pisang keju siap makan," ucap Adul sinis dengan wajah terpana.


***


"Standby! 3, 2, 1, go!" Remi mengangkat jempolnya, memberi kode untuk mulai.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Inoxu dan Adul kembali hadir untuk menemani istirahat malam para pendengar semua dalam Kisah Tengah Malam Radio Rebel Bandung 12,08 FM," aku membuka siaran.


"Selama satu setengah jam ke depan, kami berdua akan menemani kalian semua dengan kisah yang berasal dari narasumber ya gaes ya? Tapi sebelumnya, Adul akan memutarkan satu buah lagu permintaan Ibun Aksha dari Armada dengan Bebaskan Diriku. Selamat mendengarkan!" Adul mematikan mic dan langsung menghubungi narasumber kami untuk malam ini.


"Gia ke mana sih? Kok sampe jam segini belum dateng?" tanyaku menatap Remi yang dengan segera menoleh.


"Sori, Xu, aku lupa ngasi tau. Dia telat dateng, soalnya tadi siang jemput si Tomo di bandara."


Aku menganggukkan kepala tanda mengerti, lalu mengirim pesan pada Gia yang mengatakan jika memang dia masih sibuk, tidak perlu datang untuk siaran. Setelah menaruh ponsel dan meminum air mineral dalam botol, aku kembali fokus pada lagu yang sedang diputar dan bersiap di depan mic.


"Itulah dia Armada dengan Bebaskan Diriku. Selamat datang saya ucapkan untuk para pendengar yang baru saja bergabung bersama Kisah Tengah Malam. Di ujung sambungan, sudah menunggu narasumber kita untuk kisah kali ini. Halo? Dengan siapa di mana?"


"Malem Teh Inoxu, Kang Adul. Ini dengan Mawar di salah satu kosan kota Bandung."


"Mawar?" aku bertanya lirih dan berusaha mengingat sesuatu. "Ini Mawar yang pernah nelpon ke Kisah Tengah Malam juga bukan? Yang seorang pelajar kelas sebelas di salah satu sekolah swasta di Bandung?"


"Betul Teh, tapi sekarang saya udah naik kelas jadi kelas dua belas," jawab Mawar tertawa.


"Baik, Teh. Oh iya, beberapa hari lalu, saya lewat di depan kantor baru Radio Rebel loh, Teh," ucapnya.


"Oya? Kenapa ngga mampir?"


"Sungkan, Teh. Waktu itu ada banyak ibu-ibu yang ngumpul di sana. Kayanya abis ada acara ya?"


"Iya betul, Habis ada event gerak jalan. Mawar, punya kisah apa nih buat dibagiin sama pendengar?" tanya Adul yang tiba-tiba sok akrab.


Aku menatapnya sedang tersenyum lebar sembari menaik turunkan kedua alis.


"Eh ini Kang Adul ya? Merdu banget suaranya," sahut Mawar.


"Woyadong! Suara saya emang merdu. Harusnya saya jadi penyanyi, tapi ngga deh. Jadi penyiar aja cukup, biar orang bisa terus mendengarkan suara merdu saya tanpa tau muka saya kaya gimana?"


"Jelek ya, Kang? Sampai muka aslinya ngga mau ditampakin," tanya Mawar polos yang membuatku dan Remi tidak bisa menahan tawa.


"Sembarangan! Biar misterius dan pendengar penasaran," balas Adul mulai sinis. "Mawar mau cerita apa nih?"


"Mau cerita tentang bangunan yang berdiri di sebelah kantor Radio Rebel yang baru."


"Emang kamu tau?" tanyaku mulai penasaran. Aku duduk tidak nyaman di kursiku karena perut yang terasa kembung. Sebisa mungkin, aku menahan diri untuk tidak buang angin.


"Tau, Teh. Rumah itu dulunya rumah seorang anak yang menderita gangguan kejiwaan, terus ngebu*nuh orang tuanya, lalu bu*nuh diri."

__ADS_1


"Iya, bener," ucap Adul.


"Jadi, beberapa temen sekelas Mawar, ada yang iseng dateng ke rumah itu. Biasa-lah, Teh, kan suka pada saling nantangin buat uji nyali. Mereka ke sana dengan misi khusus."


"Misi khusus?" tanya Adul lagi.


"Iya, Kang. Kaya misalnya, harus mengambil foto selfie di kamar tempat orang tua si anak meregang nyawa. Sama di kamar si anak, waktu bu*nuh diri. Di kamar si anak, mereka diharuskan nyebutin namanya tiga kali. Axava Kalara, Axava Kalara, Axava Kalara, Gitu."


"Terus dilakuin sama temen-temen kamu?" tanyaku semakin tidak nyaman dan tanpa bisa kucegah, aku buang angin tanpa suara.


"Iya. Mereka nyebut nama anak itu tiga kali, dan bisa ngeliat penampakannya. Tapi yang herannya, muncul tiga sosok, bukan satu. Beberapa dari mereka bilang, kalau berita di koran itu ngga bener, tentang si anak yang punya karakter lain di dalam dirinya. Mereka berpendapat, kalau sebetulnya anak itu terlahir kembar tiga, tapi yang dua disembunyiin karena ca*cat!"


"Temen-temen kamu ngarangnya kebangetan deh," respon Adul. Pasalnya, kami semua tau cerita yang sebenarnya, karena waktu itu Teh Rebel sempat menceritakannya pada kami.


"Eh Teh, kok tiba-tiba bau busuk ya? Kayanya si Axava dateng deh. Tapi Adul belum ngeliat ada siapa-siapa," lanjut Adul dengan suara lirih setelah sebelumnya mematikan mic sebentar.


Ucapan Adul membuatku membuang pandangan ke arah lain karena malu.


"Ya ngga tau, Kang. Namanya juga desas desus, hehehe," Mawar terkekeh.


"Yang kaya gitu biasanya bikin berita makin simpang siur. Kasian juga almarhumah, udah ngga ada tapi orang masih bikin cerita yang ngga-ngga," sambung Adul lagi. "Ada lagi Mawar?"


"Udah Kang, segitu aja. Lain kali, Mawar boleh mampir ke Radio Rebel? Pengen ketemu sama Kang Adul," jawabnya terkekeh lagi.


"Boleh dong. Tapi jangan kaget ya kalau ngeliat muka Adul yang tampan rupawan," jawab Adul penuh percaya diri.


"Iya deh, siap! Makasi ya, Teh Inoxu, Kang Adul."


"Sama-sama, Mawar," sahutku dan Adul kompak.


Adul memutuskan sambungan telepon dan fokus di depan mic. "Berakhirnya cerita dari Mawar menandakan jika sudah berakhir juga Kisah Tengah Malam kali ini. Satu lagu akan Adul putarkan, permintaan Melly Kurniati Trisiani dari Peterpan dengan Ada Apa Denganmu. Adul dan Teh Inoxu mohon diri, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Adul mematikan mic dan melepaskan headphone. "Ih Teh, dari tadi kecium bau busuk berkali-kali loh! Yakin ini mah, demit sebelah mau main ke sini."


Aku menepuk bahu Adul keras karena malu sendiri. Beberapa kali, aku memang buang angin diam-diam tanpa suara.


"Udah yuk?" ajak Remi. "Kayanya si Gia sibuk banget, sampe ngga bisa dateng."


Aku ingin memberitahukan Remi jika Gia sudah datang dan sedang berada di studio satu untuk membantu Bang Win, Kang Utep serta Teh Opi, mencoba peralatan siaran yang baru saja tiba. Namun, rasa mulas di perut, memaksaku untuk segera ke toilet. Tepat di luar pintu studio, perutku kembali mulas. Dengan segera, aku berbalik menghadap ke dalam studio, dan berusaha buang angin kembali.


"Kenapa, Teh? Perutnya sakit?" tanya Adul berjalan menghampiriku. Ia melongok ke luar studio dari ambang pintu dan terlihat tegang. "Ternyata itu penyebabnya!"


Dengan langkah cepat, ia berjalan menuju ke arah Gia yang sedang berdiri di depan pintu studio satu, lalu membuka tutup botol air mineral yang dibawanya, dan menyiramkannya pada Gia.


"Adul!" pekik Gia kaget dan terpana menatap Adul.


Tidak lama, Adul kembali menyiram wajah Gia, dengan sisa air mineral. "Pergi, demit!" sentak Adul. "Jangan ganggu Teh Inoxu dan bayinya!"


"Adul!" jerit Gia lagi yang dengan cepat menarik rambut Adul dan menghunjaminya cubitan di lengan.


Aku mengusap keningku berkali-kali melihat mereka berdua, dengan rasa mulas yang sudah menghilang entah ke mana.

__ADS_1


__ADS_2