
Bianco berjalan menyusuri kota Nuchas. Setelah keluar dari gang kawasan bar dan prostitusi, Bianco pun sampai di jalan utama Nuchas. Dari kejauhan, Bianco melihat arena torero yang kemarin ia datangi bersama Beatris. Arena torero tersebut tampak sangat besar dan gigantis, meski separuh bangunannya sudah runtuh. Di seberang arena itu, terdapat pasar dengan penjual bejubel. Dulunya area tersebut merupakan pusat pertokoan yang rapi dan apik. Namun semenjak adanya malignos dan tumbangnya sistem ekonomi di Nuchas, pasar tersebut telah berubah menjadi kumuh dan dipenuhi anak-anak kriminal.
Bianco bisa saja membeli kebutuhan bar nya di pasar, akan tetapi harga yang diawarkan di sana sudah melambung tinggi dibanding harga aslinya. Terlebih hasil panen anggur saat ini sudah tidak sebagus dulu. Pohon anggur di Nuchas tidak lagi menghasilkan buah-buah yang segar dan berkualitas. Alih-alih anggur-anggur yang baru dipetik sangat mudah membusuk sehingga kualitas minuman yang dihasilkan pun juga buruk. Meski begitu, para pengunjung barnya sudah tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut lagi. Tanah ini memang sudah dikutuk, dan semua orang sudah mengetahuinya.
Bianco sudah berada di tengah-tengah kerumunan pasar ketika mendadak seorang anak kecil menabraknya. Bianco segera berubah waspada. Itu adalah trik murahan bocah-bocah pencopet untuk mengambil dompetnya yang berisi keping-keping uang. Sang anak berambut kusut yang menabrak Bianco menatap pemuda itu dengan kesal. Anak itu hanya berdecih pelan lantas kembali berlari menjauh. Bianco berhasil menyelamatkan harta bendanya.
Akan tetapi, detik berikutnya, tubuh Bianco mendadak ditarik ke belakang. Bianco mencoba memberontak, tetapi sebuah lengan besar berotot menyergap lehernya dan memiting Bianco di tengah kerumunan. Pemuda itu tak kuasa melawan. Ia hanya bisa mendogak melihat seorang torero berjanggut tebal tengah menyeringai menatapnya. Di sebelahnya seorang torero lain turut mengawal penculikan tersebut.
Bianco ingin berteriak meminta tolong. Namun sebilah pisau diarahkan di belakang punggungnya. Kedua torero itu tidak mengizinkan Bianco untuk lepas dari cengkeraman mereka.
“Jangan banyak tingkah, Kurus. Kau harus menurut dan ikut kami dengan tenang,” geram torero yang memitingnya dengan suara rendah.
Tenggorokan Bianco terasa sakit ketika sang torero menyeretnya secara paksa. Dalam hati ia menyesal karena menolak tawaran Andres untuk mengawalnya siang itu. Dia pikir para torero kaki tangan Carrian Belmonte itu tidak akan beraksi di tengah banyak orang. Rupanya mereka justru memanfaatkan keadaan itu untuk menculik Bianco. Mereka bahkan menggunakan anak kecil pencopet yang telah berhasil mengalihkan kewaspadaan Bianco.
“Kau tidak bisa melakukan ini terhadapku. Keluarga Manolette tidak akan tinggal diam,” kata Bianco dengan suara tercekat.
Kedua torero itu sudah berhasil menyeret Bianco ke sebuah tempat sepi di belakang pasar. Tidak ada orang di tempat itu yang mungkin bisa membantu Bianco. Pemuda tersebut sepenuhnya sendirian, melawan dua pria dengan tubuh dua kali lebih besar darinya.
“Kami hanya perlu melenyapkanmu dengan cepat. Tidak akan terasa sakit, kok. Kita tidak punya dendam satu sama lain, kan,” ucap salah satu torero itu ringan.
__ADS_1
Tubuh Bianco lantas dihempaskan ke tanah becek yang tergenang air dengan bau menyengat. Seluruh tubuhnya kotor karena kotoran. Kedua torero itu lantas berjongkok di hadapannya sambil menyeringai senang.
“Kami pastikan akan membunuhmu tanpa rasa sakit,” ucapnya setengah menggeram.
Saat berikutnya, sebuah pukulan keras mengarah ke kepala Bianco. Pemuda itu mengangkat lengannya untuk melindungi kepalanya. Akan tetapi serangan itu lantas disambung dengan sebuah tendangan dari torero yang lain, tepat mengenai tulang rusuk Bianco.
Rasa nyeri segera mendera dadanya yang terkena tendangan. Bianco mencoba bertahan dan melakukan perlawanan. Namun pukulan dan tendangan kedua torero it uterus memberondong tubuhnya hingga tidak lagi bisa ia tangkis. Bianco terpojok seperti tikus yang terperangkap dalam jebakan.
Sementara kedua torero yang merundungnya itu tertawa-tawa, Bianco meringkuk dengan kedua tangan menutupi kepala. Tubuhnya sudah sangat babak belur dan nyeri di semua tempat. Entah berapa lama lagi kesadarannya bisa tetap terjaga, tetapi ia tahu, sekali saja ia kehilangan kesadaran, maka nyawanya pun akan ikut melayang. Karena itu Bianco tetap berusaha bertahan, berharap ada seseorang yang bisa menolongnya. Harapan yang nyaris membuatnya putus asa.
Tanpa diduga, sebuah anak panah tiba-tiba melesat dan menembus kepala salah satu torero itu. Pria kekar itu segera tumbang tanpa menyadari apa yang terjadi padanya. Kawannya yang lain kebingungan dan mencari sang penyerang ke segala arah dengan panik. Bianco yang menyadari bahwa serangan terhadap tubuhnya berhenti lantas menengadah dan melihat keadaan.
“Ekhtuya … ?” desah Bianco dengan wajah dipenuhi darah. Kepala, hidung dan mulutnya robek hingga mengucurkan darah segar tanpa henti.
Ekthuya menurunkan busurnya, lantas berjalan mendekati Bianco dengan wajah cemas.
“Kau terluka parah,” ucap Ekhtuya tampak prihatin.
“Ah … aku baik baik … sa … ja … .” Mendadak kesdaran Bianco berangsur memudar. Pemuda itu pun jatuh pingsan.
__ADS_1
Bianco terbangun di dalam kamarnya. Ia terbaring lemah di atas tempat tidurnya yang biasa. Sosok Ekhtuya tampak duduk di sisinya dengan membawa kain kering guna menyeka keringat Bianco yang sesekali keluar saat pemuda itu menahan rasa sakit.
“Apa yang terjadi,” erang Bianco dengan suara parau.
“Anak buah Carrian menculik dan memukulimu Bianco. Kau sudah nyaris mati saat Nona ini menemukanmu dan membawamu kemari,” ujar sebuah suara yang sangat diknal Bianco.
Pemuda itu lantas mengalihkan pandangannya ke ujung tempat tidur. Di sana ia melihat Andres, Baltazar dan Angelo yang mengerumuninya dengan ekspresi cemas.
“Seharusnya kau menurut saja saat kubilang aku akan menemanimu membeli anggur. Aku tahu hal seperti ini akan terjadi. Kau bisa mati di jalanan, Bian,” cerocos Andres panjang lebar.
“Iya … iya …. Maafkan aku, Andres. Dan terima kasih Ekhtuya, karena sudah menyelamatkanku lagi. Aku berhutang dua kali padamu,” ujar Bianco sembari mencoba bangkit dari tempat tidur. Namun rasa nyeri segera menyerang tubuhnya dan membuat pemuda itu mengurungkan niatnya.
“Tetaplah berbaring. Aku sudah mengoleskan ramuan penyembuh ke tubuhmu. Tapi meski begitu, luka-lukamu masih bisa terbuka kalau kau terlalu banyak bergerak,” cegah Ekhtuya kemudian.
Bianco menurut dan kembali berbaring dengan nyaman. “Berapa lama aku pingsan?” tanyanya kemudian.
“Kurang lebih lima jam,” jawab Andres singkat.
Bianco tersentak kaget. “Kalau begitu sebentar lagi sudah waktunya kita membuka bar. Aku masih menyimpan beberapa botol anggur di tempat penyimpanan. Kita bisa menghabiskan persediaan itu dulu hari ini,” ucap Bianco lantas kembali bangun dari tempat tidur.
__ADS_1
Ia kesampingkan rasa sakit yang mendera tubuhnya karena ia harus kembali bekerja. Bar mereka tidak akan bisa beroperasi jika tanpa dirinya. Tidak ada yang bisa membuat minuman selain Bianco.