Sign Of Zodiac: Taurus

Sign Of Zodiac: Taurus
Mimpi


__ADS_3

Bianco tidak bisa lagi merasakan tubuhnya. Ia seperti melayang-layang di udara tanpa ada dasar yang dapat dipijak. Rasa sakit luar biasa yang sebelumnya ia rasakan kini lenyap sepenuhnya, digantikan perasaan mengambang yang ganjil.


Bianco mencoba membuka matanya. Di depannya kegelapan menyambut seolah tak berujung. Pemuda itu kembali mengerjap. Tidak ada yang terjadi. Kegelapan masih sama, melingkupinya dengan ketiadaan.


“Apa aku sudah mati?” bisiknya pada diri sendiri.


Sekonyong-konyong kegelapan itu merespon pertanyaannya. Balok-balok pemahaman menghantam kesadarannya dan membuatnya tahu bahwa ia berada di dimensi antara. Secara instingtif Bianco memusatkan konsentrasinya pada situasi tersebut. Perlahan tapi pasti, kegelapan yang seperti menelannya itu pun tersibak oleh semburat cahaya berwaran hijau yang muncul dari jantungnya.


Bianco mengamati cahaya yang menyulur keluar tersebut hingga memenuhi tempat itu. Kegelapan sudah hilang, digantikan ratusan panel-panel aneh yang menunjukkan banyak adegan. Bianco mencoba menfokuskan pandangannya pada salah satu panel yang bergerak melintasinya.


Sosok seorang perempuan dengan pakaian khas Nuchas. Ia jelas melihat perempuan itu berdiri di arena torero. Namun arena tersebut masih utuh, tidak rusak, justru terlihat megah dan sangat indah. Wanita itu tersenyum bangga dan mengangkat tangannya untuk melakukan atraksi bersama seekor banteng raksasa. Uniknya, atraksi mereka tidak terlihat berbahaya atau mengancam. Nuansa pertarungan yang intimidatif tidak muncul dalam adegan tersebut. alih-alih wanita itu justru terlihat sangat elegan dan hebat dalam menjinakkan banteng raksasa. Sang banteng yang sebelumnya terlihat marah kini berubah menjadi sangat jinak.

__ADS_1


Bianco mengalihkan pandangannya dari adegan tidak masuk akal itu. Ia beralih ke panel lainnya yang juga menunjukkan aktifitas banyak orang lain yang tidak dia kenal. Panel-panek itu hanya bergerak tanpa mengeluarkan suara. Karena itu Bianco tidak tahu apa yang tengah terjadi pada mereka. Satu hal yang sama dari rentetan adegan itu adalah bahwa setiap panelnya menunjukkan siklus hidup dan mati seseorang.


“Apa yang terjadi?’ desahnya masih belum mengerti.


“Saur … .” Sekonyong-konyong sebuah suara berbicara di kepala Bianco.


Bianco menoleh ke segala arah, tetapi tidak menemukan apa pun selain tubuhnya yang melayang-layang bersama pusaran panel-panel yang terbang melingkarinya.


“Saur, ingatlah namamu. Ingatlah di mana kekuatanmu berada,” kata suara itu masih dari dalam kepalanya.


Bianco menutup telinganya. Entah kenapa nama itu terasa begitu menyakitkan hatinya. Ada sesuatu yang membuat Bianco begitu sedih setelah mendengar nama itu dibisikkan kepadanya. Air mata mulai meleleh di wajah Bianco tanpa dia ketahui alasannya.

__ADS_1


“Saur … bangunlah. Takdirmu sudah menunggu. Takdir pahit yang tidak bisa kau hindari meski dalam kehidupan mana pun,” bisik suara itu sekali lagi.


Serta merta rasa pening luar biasa menyerang kepala Bianco. Rasa sakit di tubuhnya yang semula terasa menghilang kini mulai muncul lagi. Seluruh tubuhnya yang dirobek dan dipukuli oleh Carrian kembali pada kesadarannya. Bianco mengerang sangat keras karena rasa sakit yang luar biasa. Detik berikutnya dia membuka mata.


Di hadapannya kini tak kurang dari selusin torero berdiri dengan tegang. Carrian yang tengah memitingnya terkejut saat Bianco berteriak. Meski begitu Carrian segera menguasai diri. Pria itu kembali menghunuskan sebilah belati kecil ke leher Bianco seolah ia tengah mengancam seseorang.


“Baguslah kau bangun, Budak. Memang sudah seharusnya kau mati dalam keadaan sadar,” desis Carrian dengan suara jahatnya.


“Cepat lepaskan dia! Aku sudah mengikuti perintahmu untuk melucuti senjataku. Anak buahmu bahkan sudah mengikatku. Lepaskan Bianco sekarang juga!” seru sebuah suara perempuan yang amat dikenal Bianco.


Mendadak hati Bianco kembali mencelos. Ia melihat ke arah datangnya suara dan mendapati Ekhtuya kini tengah jatuh tersungkur dengan tangan dan kaki terikat. Seluruh wajahnya dipenuhi darah sementara seorang torero berbadan besar menginjak tubuh mungilnya dengan satu kaki.

__ADS_1


“Ekhtuya!” seru Bianco tak percaya.


__ADS_2