
Malam itu berjalan dengan baik. Keberadaan Ekhtuya membantu sangat membantu pekerjaan Bianco. Tubuh pemuda itu memang masih terasa nyeri di beberapa bagian. Namun berkat Ekhtuya, ia tidak perlu melakukan pekerjaan berat. Meski begitu, persediaan anggurnya benar-benar sudah habis. Besok Bianco harus ke tempat penyulingan untuk memesan satu barrel besar anggur yang sudah difermentasi.
Ekhtuya dan Andres memaksa untuk menemani Bianco esok paginya. Dan meskipun Bianco sudah menolak beberapa kali, tetapi mereka berdua tetap bersikeras. Akhirnya tiga orang itu pun berangkat ke tempat penyulingan.
Bianco menjadi lebih waspada sekarang, setelah kemarin mengalami peristiwa pemukulan yang brutal. Keberadaan Andres dan Ekhtuya sedikit banyak membuatnya lebih tenang saat melewati pasar yang hiruk pikuk.
“Kenapa kau selalu membantuku?” tanya Bianco pada Ekhtuya saat mereka berdua menyambangi salah satu kedai makanan ringan. Andres sudah sibuk melihat-lihat toko senjata yang ada di sebelah kedai.
“Karena kau orang yang baik,” tukas Ekhtuya ringan.
“Baik?” sahut Bianco setengah mendengus. “Kalau orang sepertiku kau bilang baik artinya semua kriminal di benua ini adalah malaikat,” lanjut Bianco setengah tertawa.
Ia jarang tertawa selama ini. Akan tetapi kata-kata Ekhtuya benar-benar menggelikan.
“Aku serius. Setidaknya untuk ukuran orang Nuchas kau sebenarnya cukup baik. Sejak aku sampai di sini orang-orang yang menghampiriku selalu mengajakku bertarung. Bahkan ketika aku bertanya baik-baik pada mereka, yang kudapat hanyalah pukulan dan cemoohan. Orang-orang Nuchas sepertinya lebih mendahulukan tinju mereka daripada mulutnya.”
Bianco kembali tertawa. “Apa kau hanya bertemu pada para torero selama ini? Mereka hanya orang-orang yang memiliki otot tapi tidak punya otak.”
“Tidak juga,” ucap Ekhtuya sambil berpikir. “Aku juga pernah bertemu beberapa perempuan. Mereka mengajakku ke sebuah tempat yang remang-remang dan justru menawariku untuk menjual diri. Benar-benar tidak ada yang beres di Nuchas,” gerutu Ekhtuya panjang.
Bianco masih tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Beruntung kau punya kemampuan bela diri yang bagus. Kalau tidak mungkin kau akan berakhir di brotel.”
__ADS_1
“Bisa jadi. Yah, walaupun aku juga tidak bisa bilang kalau kehidupan di Giyatsa itu mudah, tapi setidaknya kami masih menjaga banyak norma adat.”
“Bagaimana kehidupan di Giyatsa? Kudengar suku kalian tinggal di pegunungan bersalju. Tapi aroma tubuhmu seperti wangi hutan tropis,” tanya Bianco penasaran.
Ekhtuya mendadak menoleh kea rah Bianco. “Apa itu buruk?” tanyanya dengan mata membulat.
“Ah … tidak, tidak. Itu harum yang menyenangkan. Aku suka aromamu,” ucap Bianco buru-buru.
Ektuya tersenyum tipis. “Syukurlah,” desahnya lega.
“Suku kami memiliki kemampuan mengolah tumbuhan. Kadang-kadang kami bertransaksi dengan orang-orang suku Leopolis dan Ehawee untuk mendapat bahan-bahan rempah dan tanaman dari daerah tropis mereka. Kami biasanya menggunakan ramuan tropis itu untuk merawat tubuh kami. Aroma citrus yang menyegarkan membuat kami merasa lebih bergairah, terutama saat harus menghadapi musim dingin berkepanjangan,” terang Ekhtuya panjang lebar.
Bianco mengangguk-angguk paham. Jadi itu rahasia aroma Ekhtuya yang lembut dan menyegarkan. Bianco bertanya-tanya apakah semua perempuan Giyatsa memiliki aroma yang sama. Bahkan setelah melakukan pekerjaan berat dan berkeringat, Ekhtuya tetap menguarkan bau yang harum dari tubuhnya.
“Ah, iya. Seseorang selalu memberiku parfum yang sama selama bertahun-tahun. Lama-kelamaan aku menggunakan parfum itu seperti kebiasaan,” jelas Bianco yang segera mengingat parfum mahal pemberian Beatris.
“Sepertinya dia sangat spesial untukmu. Kau selalu mengguanakan parfum pemberiannya karena kau merindukannya,” komentar Ekhtuya tepat sasaran.
Bianco mendengus pelan. Kata-kata gadis itu tidak salah. Ia memang menggunakan pafum dari Beatris karena hanya aroma itulah yang bisa mengikat hubungan mereka berdua. Ia tidak bisa memiliki Beatris seutuhnya. Hanya aroma itu yang selalu menelusup dalam hubungan mereka yang tidak pernah jauh dari gaira membara.
“Ayo kita lanjutkan perjalanan,” kata Bianco kemudian. Ia tidak ingin membicarakan tentang Beatris pada siapa pun, terutama pada gadis yang baru dikenalnya.
__ADS_1
Ekhtuya menurut tanpa banyak bertanya lagi. Bianco segera memanggil Andres yang kini sudah tertawa lebar sambil menenteng sepasang knuckle besi besar di tangannya. Sepertinya rekan kerjanya itu sudah mendapat mainan barunya.
Perjalanan mereka ke tempat penyulingan anggur ternyata lebih lancar dari dugaan. Beberapa kali Andres dan Ekhtuya tampak bersikap waspada karena berpapasan dengan torero dengan gerak-gerik mencurigakan. Namun para torero itu sepertinya urung mencari masalah karena melihat dua pengawal Bianco yang memang terkenal kuat.
Akhirnya mereka pun sampai di tempat penyulingan anggur. Tempat itu berada di pinggiran Nuchas. Berhektar-hektar kebun anggur membentang luas. Pepohonan anggur yang kurus dan separuh mongering menghiasi kebun tersebut. Seperti tahun-tahun sebelumnya, panen anggur tahun ini pun sepertinya memprihatinkan. Walaupun begitu, Litch, sang petani anggur langganan Bianco terlihat tetap bekerja keras mengolah lahannya yang sudah berubah tandus.
“Bianco, kau datang,” sapa Litch saat melihat rombongan Bianco berjalan membelah kebunnya.
“Aku ingin memesan satu barrel anggurmu, Litch,” kata Bianco tanpa basa-basi.
Litch tampak menghela napas putus asa. “Aku khawatir akan mengecewakanmu. Tapi hasil panenku selalu menurun setiap tahun. Hari ini aku hanya bisa menjual setengah barrel anggur padamu. Sisanya sudah membusuk dan tidak bisa diolah. Padahal pohon-pohon anggurku sudah banyak yang mengering, tapi dari yang tersisa hanya sedikit buah yang layak difermentasi,” sahut Litch muram.
“Apa boleh buat kalau begitu. Kereta kuda Manolette akan mengambil setengah barrel anggurmu sore nanti. Lalu ini untuk pembayarannya. Setengah harga?” tanya Bianco sambil menghitung keping perunggu dari kantong uangnya.
“Bisakah kau memberiku lebih banyak? Kau tahu keluargaku punya banyak anak. Tapi hasil panen yang sedikit ini membuat kami kesulitan,” pinta Litch setengah memohon.
Bianco menatap pria paruh baya itu dalam-dalam. Tidak seharusnya dia memberikan uang lebih padahal anggur yang didapatnya hanya sedikit. Ada alasannya kenapa keluarga Manolette tersohor sebagai pemegang bisnis terbesar di Nuchas. Salah satunya karena mereka sangat teliti mengenai keuangan. Sedikit saja neraca keuangan mereka tidak seimbang, maka Bianco akan berada dalam masalah besar. Terlebih bar yang ia pegang adalah usaha yang paling berkembang di antara yang lain.
Meski begitu, ia juga tidak bisa begitu saja memalingkan muka dari kesulitan Litch. Petani anggur itu adalah orang yang baik. Ia benar-benar bekerja keras untuk keluarganya. Ditambah Litch selalu bersikap baik pada Bianco selama ini.
“Baiklah, sekali ini saja, Litch. Aku tidak bisa terus-terusan membantumu,” kata Bianco kemudian menambahkan lima keping perunggu untuk Licth.
__ADS_1
Pemuda itu memutuskan untuk memotong gajinya sendiri. Ia toh tidak membutuhkan banyak uang karena Beatris sudah menyediakan banyak hal untuknya.
“Terima kasih, Bian. Di antara semua orang Nuchas, kau benar-benar yang terbaik,” kata Litch penuh syukur.