
Bianco melirik Beatris yang tampak antusias padahal suaminya kini tengah berada di ambang hidup dan mati. Wanita di sebelahnya itu memang terkenal kejam. Bianco memutuskan untuk kembali memperhatikan jalannya pertandingan. Banteng itu sudah menerjang kea rah Carrian. Pemuda yang terkapar itu mencoba bangkit dari tanah dan kembali memasang kuda-kuda waspada.
Satu kepalan tangan Carrian terangkat ke udara. Tepat pada saat banteng itu sudah di depan matanya dan siap menyeruduk, Carian menghantamkan kepalan tangannya yang sekeras batu itu ke kepala sang banteng. Hewan malang tersebut langsung terhuyung ke samping. Akan tetapi, Carrian tidak berhenti sampai di situ. Dengan badan kekarnya, Carrian kembali menunggangi banteng yang limbung. Sembari duduk di atas punggung banteng itu, Carrian menghujamkan belasan pukulan keras tanpa ampun.
Kepala sang banteng itu pun tak dapat menahan kekerasan yang dilontarkan Carrian. Dengan bersimbah darah banteng tersebut akhirnya tumbang tak sadarkan diri. Entah masih hidup atau sudah mati. Bianco menarik napas panjang menyaksikan pertarungan keji itu. Carrian sama kejinya dengan Beatris. Hanya saja dia menunjukkan kebengisannya dengan kekerasan fisik.
“Cih … .” terdengar beatris berdecih kecewa di sebelah Bianco. “Benar-benar membosankan,” gumamnya sambil bertopang dagu.
“Suami Anda adalah petarung terkuat sekaligus pemilik arena ini. Tentu saja tidak mengherankan kalau hasil pertandingan kali ini juga akan dimenangkan olehnya,” sahut Bianco kalem.
Beatris menoleh ke arahnya dengan tatapan kesal. “Kata-katamu menyebalkan, Bian,” tandas Beatris.
“Saya hanya bicara apa adanya,” ucap Bianco sembari tertunduk.
Beatris hanya menghela napas pendek lantas bangkit berdiri. “Orang itu akan segera membuat kerusuhan kalau kita tidak segera pergi dari sini,” ucapnya sembari meraih lengan Bianco.
Bianco buru-buru bangkit berdiri dan bersiap mengawal nona mudanya kembali ke kereta kuda. Namun, perjalanan mereka dihadang oleh dua orang torero berbadan besar.
“Mohon ikut kami, Nona Beatris. Tuan Muda memanggil Anda,” ucap salah satu torero.
“Menyingkir. Aku tidak punya kewajiban untuk menuruti tuanmu,” balas Beatris ketus.
“Bila Anda berkata demikian, kami khawatir harus membawa Anda secara paksa,” kata yang lainnya.
Kedua torero tersebut lantas berjalan merapat pada Beatris dan bersiap untuk menangkapnya. Beatris segera memberontak dengan marah.
“Jangan berani-berani kalian menyentuhku! Kau tidak tahu siapa aku?” bentar Beatris penuh amarah.
Bianco tidak bisa diam saja membiarkan Beatris diperlakukan dengan kasar. Beruntung mereka membawa Andres dan Baltazar untuk mendampingi perjalanan tersebut. Bianco segera memberi tanda pada kedua penjaga bar itu. Keduanya bergerak sigap dan segera memiting dua torero yang menyergap Beatris. Di sela-sela kericuhan tersebut, Bianco segera meraih tangan Beatris dan membawa perempuan itu pergi menjauh.
__ADS_1
“Benar-benar manusia tak beradab,” gerutu Beatris setelah ia dan Bianco berhasil masuk ke dalam kereta kuda.
“Apa kau baik-baik saja? Pergelanganmu sakit?” tanya Bianco sembari meraih tangan Beatris dan memeriksanya.
“Aku baik-baik saja, Bian. Tapi aku kesal setengah mati. Orang-orang Belmonte selalu menggunakan ototnya dari pada otaknya lebih dulu. Mereka tak ubahnya manusia barbar,” cerocos Beatris yang masih terus merasa kesal.
“Kau akan mendapat masalah saat kembali ke rumahmu nanti,” kata Bianco memperingatkan.
“Aku akan mengurusnya.” Beatris berkata sambil lalu.
Bianco hanya bisa menghela napas. Sepanjang perjalanan itu keduanya tak banyak bercakap-cakap. Kemarahan Carrian mungkin tidak hanya berhenti pada kekerasan rumah tangga saja. Barnya akan menjadi sasaran lainnya malam ini.Sebaiknya Bianco juga bersiap-siap.
“Kalian kembali dengan selamat,” sapa Bianco dari balik meja bar.
Anders dan Baltazar datang dengan wajah babak belur.
“Apa kita tutup saja bar malam ini?” usul Bianco.
“Memang itu ada gunanya. Mereka bisa merusak property dan menimbulkan kerugian untuk kita. Lagipula yang mereka incar itu dirimu,” sergah Andres tampak lelah.
“Kenapa kau selalu menuruti kemauan Nona Muda dan membuat masalah untuk dirimu sendiri? Kedua keluarga itu sama gilanya. Seharusnya kau biarkan sesama orang gila itu saling menggigit tanpa perlu melibatkan dirimu.” Baltazar pun kini ikut angkat suara.
“Sia-sia saja memberitahunya. Kau tahu betapa keras kepalanya Bianco. Dia sudah seperti kerbau di hadapan Nona Beatris. Kalau melihat nasibmu yang seperti ini, aku tidak pernah menyesal punya wajah yang jelek. Orang-orang tampan sepertimu harus hidup dengan resiko yang besar juga,” sahut Andres mencoba berkelakar.
Bianco kehilangan kata-kata. Ucapan mereka berdua memang ada benarnya. Kenapa ia selalu lemah di hadapan Beatris? Padahal ia tahu bahwa perempuan itu hanya memanfaatkan dan sekedar bersenang-senang dengannya.
“Hari sudah malam. Sebentar lagi para pengunjung akan berdatangan. Sebaiknya kalian buka barnya sekarang,” perintah Bianco mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kau menyuruh kami bekerja setelah babak belur begini?” keluh Andres tak terima.
__ADS_1
“Kondisimu jauh lebih baik daripada saat kau teler seperti biasanya,” tukas Bianco sarkastik.
Andres dan Baltazar hanya terkekeh. Mereka berdua lantas menuruti perintah Bianco untuk membuka bar malam itu. Semua meja kursi sudah tertata rapi. Lantai dan dinding juga sudah bersih dari sisa-sisa debu atau muntahan dan darah semalam. Beberapa pengunjung pun mulai berdatangan. Bar itu sudah setengah terisi ketika mendadak pintu bar mereka menjeblak terbuka dengan kasar.
Beberapa torero bermuka garang memasuki bar sambil membawa obor yang berkobar-kobar.
“Di mana orang bernama Bianco! Keluar kau!” seru salah satu dari torero tersebut.
Andres dan Baltazar segera berubah waspada. Bianco yang sedari tadi berdiri di belakang meja bar pun beranjak keluar.
“Aku manager di sini, sekaligus orang yang kalian cari, Bianco,” ujarnya dengan suara tenang. Ia tahu hal ini akan terjadi cepat atau lambat.
Orang-orang yang dijanjikan Beatris untuk melindunginya juga tak akan datang dalam waktu dekat. Beatris pasti juga tengah mengalami masalah yang sama sekarang: ancaman kekerasan.
“Ikut kami!” gertak torero berwajah garang itu sambil menatap tajam kea rah Bianco.
Pemuda itu sama sekali tidak terintimidasi. Ia justru mencegah gerakan Andres dan Baltazar yang berusaha melindunginya.
“Kalian akan berurusan dengan seluruh keluarga Manolette jika berani merusak bar ini. Sebaiknya kalian pergi jika tidak ingin memesan apa-apa,” kata Bianco kalem.
Pimpinan gerombolan itu meludah ke lantai. “Jangan main-main, pecundang. Kami tidak berminat menyetuh bar ini. Yang kami inginkan hanya membawamu pergi baik itu hidup atau mati,” geramnya dengan nada suara bengis.
“Aku tidak akan pergi kemana-mana sebelum jam kerjaku selesai. Silakan menunggu sampai bar ini tutup dan kalian baru bisa membawaku,” sahut Bianco.
Pemuda itu sudah terbiasa menghadapi ancaman yang serupa. Karena itu mudah saja baginya untuk bersilat lidah. Apalagi mengingat para torero asuhan keluarga Belmonte biasanya memang hanya menggunakan ototnya dan bukan otak mereka.
“Kalau begitu kami tidak akan segan-segan lagi. Perintah hari ini jelas: membawa pria penghibur yang sudah merusak rumah tangga Tuan Carrian, hidup atau mati.” Pimpinan torero itu masih menggeram dengan suara rendah. Tatapannya semakin tajam dan seringai mengerikan mulai terkembang di bibirnya.
“Bakar tempat ini,” perintah sang torero itu kemudian.
__ADS_1