
Satu minggu berlalu sejak pelatihan Bianco. Selama itu juga, tidak ada perkembangan berarti yang ditunjukkan oleh pemuda tersebut. Jangankan tinju berkekuatan penghacur, pohon yang sudah dipukuli Bianco selama satu minggu itu saja sama sekali tidak bengkok atau bahkan retak. Justru tulang-tulang jemari Bianco yang rasanya sudah hancur lebih dulu. Pemuda itu sampai harus menahan rasa nyeri luar biasa ditambah pegal-pegal di sepanjang punggung, bahu hingga lengannya.
Ekhtuya pun lambat laun berubah pesimis. Mungkin kekuatan Bianco tempo hari memang hanya kebetulan, sebuah anomali yang terpicu kondisi hidup dan mati. Manusia memang terkadang bisa mengeluarkan seluruh kemampuannya saat berada dalam keadaan terdesak. Meski begitu Ekthuya juga tidak tega jika harus melemparkan Bianco kembali ke situasi yang buruk lagi.
Keduanya kini sudah sepenuhnya tinggal di hutan. Bianco sudah tidak punya kekayaan lagi untuk membayar uang sewa di kota pinggiran. Ekhtuya juga memilih untuk menunda rencananya menelusuri rute perdagangan budak, karena ingin memastikan kekuatan Bianco lebih dulu. Namun kini sepertinya rencananya harus dilanjutkan. Sayangnya, setelah kekacauan yang mereka buat di rumah pelelangan kemarin, aktifitas jual beli di tempat itu pun tutup sementara, entah sampai kapan.
Bukan hanya Ekhtuya yang merasa frustrasi karena semua rencananya berantakan, Bianco pun dilanda masalah emosional yang pelik. Kondisi tanpa uang dan masa depan membuat Bianco merasa tidak aman. Ia butuh pekerjaan dan hidup yang mapan. Perbedaan kebutuhan tersebutlah yang akhirnya memicu perselisihan di antara mereka berdua. Bianco biasanya bukan pemuda yang suka berdebat. Namun gaya hidup Ekhtuya yang menurutnya terlalu barbar dan tidak teratur. Sementara Ekhtuya merasa Bianco terlalu kaku dan tidak fleksibel.
“Aku tidak bisa melakukannya lagi,” kata Bianco pada hari kesepuluh berlatih memukuli pohon yang baginya terasa begitu konyol itu.
Ekhtuya menarik napas panjang yang menggambarkan kebosanan. “Apa kau mau mengeluh lagi?” tanyanya dengan wajah masam.
__ADS_1
Bianco tak menjawab dan hanya membasuh lukanya dengan air seadanya lantas kembali memakai kemejanya. Seharian ini dia sudah bertelanjang dada karena peluh yang membanjiri tubuhnya. Akan tetapi sekarang Bianco sudah memutuskan untuk berhenti melakukan hal sia-sia ini. Sesuka apa pun ia pada Ekhtuya, tapi ia tidak bisa bertahan hanya dengan melakukan kegiatan bodoh yang tidak bermakna seperti ini.
“Kau mau pergi kemana?” tanya Ekhtuya turun dari atas dahan pohon yang tinggi.
Bianco sudah berjalan meninggalkan tempat itu tanpa banyak bicara. Bahkan meski Ekhtuya terus mengikutinya dan tak berhenti bertanya, Bianco tetap tidak menanggapi.
“Kalau kau meninggalkanku sekarang, jangan harap kita bisa bertemu lagi!” seru Ekhtuya setelah kesabarannya habis.
Bianco mencoba berjalan-jalan di kota dengan penyamaran. Kota itu masih dipenuhi pencopet, pelacur bahkan gelandangan berbau busuk. Namun entah kenapa Bianco merindukan hidupnya yang dulu. Ia ingin sekali bekerja di bar seperti sebelumnya. Menerima gaji dan mendapat makanan yang layak.
“Hei, bukankah kau Bianco?” sebuah suara tiba-tiba terdengar dari balik punggung Bianco. Pemuda itu buru-buru menutup wajahnya dengan jubah dan berusaha berjalan pergi.
__ADS_1
Akan tetapi pria yang mengenalinya itu segera meraih lengan Bianco dan menggenggamnya dengan kencang. Bianco tidak bisa pergi kemana-mana.
“Bian, ini aku, Andres. Kau masih hidup?” suara itu kini terdengar penuh haru.
Bianco menoleh dan benar saja, ia mendapai rekan kerjanya dulu tengah menatapnya sambil berkaca-kaca.
“Bian … ,” ujar Andres sembari memeluk tubuh Bianco erat-erat, nyaris meremukkan tulang rusuknya.
“Andres?” tanya Bianco tidak yakin harus berbuat apa menghadapi situasi tersebut.
“Ayo kita pergi ke tempat yang lebih sepi. Aku tahu keberadaanmu harus disembunyikan,” kata Andres dengan suara rendah.
__ADS_1
Pemuda itu lantas menyeret Bianco menuju sebuah tempat sepi di kios pasar yang sudah terbengkalai. Bianco yang awalnya ragu untuk mempercayai Andres akhirnya memutuskan untuk mengurangi kewaspadaannya. Ia pun membuka penutup kepalanya dan menghadapi Andres dengan lebih berani.