Sign Of Zodiac: Taurus

Sign Of Zodiac: Taurus
Pemecatan


__ADS_3

Ekhtuya menepati kata-katanya. Perempuan itu kembali tidak mengacuhkan Bianco selama berhari-hari. Bianco kini tidak perlu repot menghindarinya karena Ekhtuya sudah otomatis menjauh setiap pemuda itu datang. Sikap Ekhtuya tersebut lambat laun membuatnya tak nyaman. Sepertinya bukan ini yang dia harapkan. Akan tetapi Bianco tidak tahu bagaimana memperbaiki hubungan mereka. Rasa marahnya sudah mereda, berganti penyesalan.


Meski begitu, kabar kedekatan Bianco dan Ekhtuya kini sudah meluas. Adena bahkan secara khusus meluangkan waktunya untuk menjadi tempat curhat bagi Bianco. Beberapa kali Adena berhasil memancing Bianco untuk mencurahkan perasaannya. Lagipula menurut Bianco, Adena termasuk wanita yang berpengalaman dalam hal hubungan. Tentu saja terlepas dari profesinya yang sama sekali tidak menggunakan perasaan.


Pada akhirnya, setelah dua hari penuh Bianco dan Ekhtuya saling menjauh, pemuda itu berniat untuk meminta maaf. Keinginan itu muncul karena dorongan Adena setelah Bianco meceritakan awal mula perselisihan dengan Ekhtuya. Adena bahkan menuduhnya sebagai pria brengsek yang mencampakan perempuan setelah ditiduri. Alasan itu cukup membuat Bianco semakin merasa bersalah.


Maka pada saat hendak menutup Bar, Bianco berencana untuk menemui Ekhtuya. Gadis itu baru selesai membersihkan peralatan dapur ketika tiba-tiba Andres berlari tergopoh-gopoh dan mencengkeram bahu Bianco dengan keras.


“Bian, gawat. Sepertinya kau dalam masalah, kawan,” kata Andres setengah tersengal.


Bianco mengerutkan dahi dengan bingung. “Ada apa?” tanyanya.


“Kereta kuda Nona Beatris ada di depan. Katanya mereka mencarimu,” ujar Andres kemudian.


Jantung Bianco mencelos. Di saat seperti ini tiba-tiba Beatris memanggilnya untuk datang ke rumah utama. Sebenarnya ia sudah menduga kalau Beatris akan bertindak setelah mendengar kabar kedekatannya dengan Ekhtuya. Selama ini Bianco adalah mainan kesayangannya yang paling patuh. Cepat atau lambat, Bianco pasti harus menghadapi Beatris. Dan sekaranglah saatnya. Ia harus menunda permintaan maafnya pada Ekhtuya setelah masalah ini selesai.

__ADS_1


“Tolong selesaikan sisa pekerjaanku Andres. Aku akan pergi sekarang,” kata Bianco sembari menyerahkan apron merahnya pada Andres.


“Kau mau pergi sendiri?” tanya Andres tampak khawatir.


“Biasanya juga begitu,” sahut Bianco lalu melenggang pergi.


Kereta kuda Beatris berkelotak membelah kota Nuchas. Mereka menuju pusat kota, sebuah mansion megah milik keluarga Manolette. Seorang butler membukakan pintu untuk Bianco begitu ia tiba. Butler tersebut mengantar Bianco menuju kamar pribadi Beatris yang ada di bangunan utama.


Ini bukan kali pertama Bianco datang ke rumah ini. Dulu Beatris sering membawanya ke sana sebelum ia menikah. Kediaman ini merupakan rumah utama keluarga Manolette yang ditinggali Beatris sebelum menikah. Keluarga Manolette terbiasa membawa wanita atau pria simpanan mereka untuk bersenang-senang di mansion. Bianco adalah salah satu dari pria penghibur tersebut.


Akan tetapi, sejak Beatris menikah dan tinggal di mansion keluarga Belmonte, ia tidak pernah lagi memanggil Bianco ke rumah ini. Sudah hampir dua tahun Bianco tidak datang kemari.


“Duduklah,” perintah Beatris sembari menuangkan anggurnya ke gelas goblet.


Bianco menurut. Pemuda itu lantas duduk di hadapan Beatris, segera setelah sang butler undur diri.

__ADS_1


“Kau tampak gembira Bian. Apa pekerjaanmu menyenangkan?” tanya Beatris sarkastik.


“Sama seperti biasanya, Nona,” jawab Bianco tenang.


Beatris menyeringai tipis sambil menyadarkan punggungnya di sofa.


“Selama ini kau sudah bekerja dengan baik, Bianco. Dedikasimu selama lima belas tahun membuktikan betapa kau sangat puas dengan pekerjaanmu. Karena itu aku memilihmu. Aku mempercayaimu lebih dari siapa pun,” ujar Beatris masih tersenyum tipis.


“Tapi manusia adalah manusia. Pengkhianatan, keserakahan, dan ketamakan tentu tetap ada dalam diri mereka. Tak terkecuali kau, Bian. Aku harap aku tidak perlu melepasmu secepat ini, tapi mungkin ini sudah saatnya bagimu untuk beristirahat,” lanjut Beatris sembari melemparkan selembar perkamen ke hadapan Bianco.


Pemuda itu mengambil perkamen itu dari atas meja dan mulai membacanya. Surat pemberhentian kerja. Sepanjang perjalanan menuju ke mansion, Bianco sudah bisa menduga bahwa Beatris mungkin akan mengambil langkah ekstrim ini. Lima belas tahun ia bekerja untuk keluarga Manolette dan kini dengan mudahnya ia didepak hanya karena dekat dengan perempuan lain. Bukankah hidup ini sungguh menggelikan.


“Saya akan segera mengemasi barang-barang saya, Nona. Terima kasih atas kepercayaan Nona selama ini,” kata Bianco datar.


Beatris mendengkus pelan. “Bagus kalau kau sudah mengerti. Sekarang pergilah,” usir wanita itu sembari melambaikan sambil lalu

__ADS_1


Bianco pun undur diri. Surat pemecatannya ia lipat dan masukkan ke dalam saku mantelnya. Pada detik terakhir sebelum ia keluar dari pintu kamar Beatris, ia menatap perempuan itu sejenak. Sepuluh tahun ini, perasaan cintanya pada Beatris sama sekali bukan kebohongan. Perempuan itu adalah satu-satunya bagi Bianco sebelum ia bertemu dengan Ekhtuya. Bahkan meskipun Beatris sudah menikah dan bermain-main dengan banyak pria lainnya, Bianco tidak pernah merasa sesakit ini.


Wanita itu kini menatapnya dengan dingin, tanpa perasaan. Kenyataan itu semakin membuat Bianco merasa terluka. Ia dibuang begitu saja. Tanpa bisa melawan atau sekedar merasa marah.


__ADS_2