Sign Of Zodiac: Taurus

Sign Of Zodiac: Taurus
Siksaan


__ADS_3

Bianco akhirnya beristirahat sejenak di rumah Andres. Ia merebahkan tubuhnya di atas kursi kayu di ruang depan. Ia benar-benar merasa kelelahan setelah berhari-hari dipaksa latihan oleh Ekhtuya. Sejak awal Bianco bukan orang yang suka melakukan kegiatan fisik. Karena itu aktivitas yang dipaksakan oleh Ekhtuya kepadanya selama ini membuat Bianco kehilangan kesabaran.


Dengan pikiran penuh itu akhirnya Bianco justru terlelap di ruang depan rumah Andres. Tanpa sadar, malam pun berlalu dan Bianco tertidur hingga suasana dalam rumah itu menjadi gelap total. Tidak ada orang yang menyalakan lentera karena Andres sedang berada di bar. Bianco terlelap begitu dalam hingga tidak menyadari bahwa ada beberapa orang yang menerobos masuk ke dalam rumah kecil Andres.


Di tengah kegelapan, orang-orang itu saling berkasak-kusuk dan mencari Bianco yang tengah terlelap. Begitu mereka menemukan pemuda itu, salah satu dari mereka membekap wajah Bianco hingga nyaris kehabisan napas. Bianco segera terbangun dari tidurnya dan bergerak memberontak. Akan tetapi orang-orang misterius itu lebih kuat darinya. Mereka memiting Bianco yag sudah mengerang keras membebaskan diri.


Sayang tenaga Bianco sama sekali tidak sepadan dengan lawannya. Dengan cepat Bianco diringkus. Wajahnya ditutup dengan kain hitam gelap dan dia pun dihajar sedemikian rupa hingga tak berdaya. Bianco tidak tahu apa yang terjadi selajutnya karena tak lama setelah dipukuli beramai-ramai, pemuda itu pun kehilangan kesadaran.


Bunyi tetes air dan tongkat yang dipukulkan ke atas kayu membangunkan Bianco. Entah sudah berapa lama ia pingsan. Kini tubuhnya sudah berlutut di atas lantai batu keras yang basah dengan kedua tangan terikat ke atas. Bianco mencoba berontak, tetapi rantai itu mengikatnya begitu kuat.


“Rupanya tuan muda kita sudah bangun,” kata sebuah suara yang melangkah mendekati Bianco.


Sang pemilik suara itu lantas membuka kain penutup wajah Bianco dengan kasar lalu berjongkok di hadapannya. Bianco mendengkus tak percaya setelah melihat siapa orang yang telah menangkapnya.


Sososk pria berambut coklat muda dengan mata hijau yang cemerlang. Tubuhnya kekar seperti umumnya torero yang terlatih. Pria itu menyeringai bengis menatap Bianco dengan penuh kebencian.

__ADS_1


“Akhirnya aku punya kesempatan untuk membunuhmu dengan tanganku sendiri,” gumam pria itu sembari memilin sebuah tongkat kayu berduri yang sedari tadi dia genggam.


“Carrian,” desis Bianco.


Anehnya ia tidak merasa terkejut. Situasi tersebut entah bagaimana sudah dia prediksi semenjak ia memutuskan kembali ke kota. Mata-mata Carrian sangat banyak, memenuhi setiap sudut kota. Bianco hanya tidak menyangka kalau ia akan tertangkap secepat itu.


“Dari mana kau tahu kalau aku ada di tempat itu?” gumam Bianco penuh perlawanan.


“Itu tidak penting, Babu. Sebenarnya masalah kita sudah lama selesai sejak istriku memutuskan untuk membuangmu. Namun rasanya tidak menyenangkan kalau aku membiarkanmu hidup dengan baik setelah bertahun-tahun meludahi wajahku dengan perselingkuhan bersama Beatris. Bagaimana mungkin aku membiarkan budak yang sudah menghina keluarga Belmonte lepas begitu saja.


“Apa … kau bilang?” tanya Bianco tidak bisa mempercayai kata-kata Carrian barusan.


“Dia pikir aku tidak tahu apa yang ia rencanakan bersama perempuan Giyatsa itu. Bahkan sampai ke ujung dunia pun aku akan mengejarmu, Budak tidak tahu malu. Dari semua laki-laki yang berhubungan dengan Beatris, hanya kau yang paling dicintainya. Kau pikir aku tidak tahu kalau Beatris mencintaimu?”


Bianco kini benar-benar tidak bisa memahami kata-kata Carrian. Semuanya terasa tidak masuk akal baginya. Beatris mencintainya? Dan bahkan wanita itu meminta Ekhtuya untuk melindunginya? Omong kosong macam apa lagi yang dia dengar sekarang.

__ADS_1


Meski begitu, Carrian tampaknya tidak tertarik untuk memahami situasi Bianco. Pria itu justru berdecih kesal lantas meludah di lantai sebelah Bianco.


“Jangan khawatir. Aku akan menyiksamu dengan perlahan sampai kau memohon untuk dibunuh,” desis Carrian dengan suara jahat.


Tak lama setelah mengatakan hal tersebut, Carrian pun bangkit berdiri dan memukulkan tongkat kayu berdurinya ke wajah Bianco. Pukulan tersebut begitu keras hingga melukai wajahnya dengan luka gores dan lebam yang begitu menusuk.


“Wajah tampanmu itu yang menjadi masalah. Seorang budak tidak layak punya tampang yang menarik majikannya kan. Seharusnya kau tahu dimana posisimu,” gertak Carrian kembali mengayunkan tongkat berdurinya.


Kini punggung Bianco yang menjadi sasaran. Duri-duri dari besi tajam di tongkat tersebut segera merobek kulit Bianco. Darah segar mengucur dari wajah dan punggungnya yang tergores. Seakan tidak puas, Carrian kini menendang perut Bianco dengan kakinya yang bersepatu kulit, tepat di ulu hatinya. Pemuda itu segera diserang rasa mulas yang menyakitkan.


Siksaan demi siksaan terus dialami Bianco dan sama sekali tidak membuat Carrian berhenti. Justru sebaliknya, Carrian semakin kesetanan menyiksa Bianco dengan mematahkan jari-jari pemuda itu satu persatu, menggilasnya dengan tongkat besi dan kakinya sendiri.


Bianco mengerang kesakitan. Teriakannya membelah ruangan itu dengan rintihan kepiluan. Ia tidak pernah merasakan rasa sakit sehebat itu sebelumnya. Tak ada yang bisa Bianco lakukan selain mencoba memberontak. Akan tetapi Carrian dibantu oleh dua orang torero lain yang menendang lututnya setiap kali Bianco mencoba berdiri.


Ruangan tempat Bianco disiksa itu adalah ruang bawah tanah rahasia di kediaman Belmonte. Bianco sadar dia sudah tidak punya harapan untuk selamat lagi. Bahkan ia sangsi kalau Ekhtuya bisa menemukannya di tempat itu. Terlebih setelah pertengkaran mereka tempo hari.

__ADS_1


Akhirnya, setelah kurang lebih satu jam didera, Bianco pun menyerah. Kesadarannya sudah berada di ambang ada dan tiada. Tepat saat tinju Carrian memukul tengkuknya, Bianco pun kembali kehilangan kesadaran.


__ADS_2