
“Kau sudah sadar?” tanya Ekhtuya lantas mencondongkan tubuhnya kea rah Bianco.
Bianco mencoba bangun perlahan lalu bersandar di ujung tempat tidurnya. “Sepertinya aku sudah menunjukkan banyak hal yang memalukan,” desah Bianco malu.
“Semua orang punya sisi yang memalukan,” sahut Ekhtuya mencoba menghibur.
Bianco terdiam sejenak. Ia lantas melihat sekujur tubuhnya yang sudah bersih dan berganti pakaian.
“Kau yang melakukannya?” tanya Bianco menatap Ekhtuya sambil mengangkat lengan bajunya.
Wajah Ekhtuya bersemu merah karena malu. “Aku terpaksa melakukannya karena semua orang sedang sibuk. Aku tidak bisa membiarkanmu merangkak sendirian lalu tenggelam di bak mandi,” kilah Ekhtusa sembari memalingkan wajahnya.
Bianco tertawa kecil menanggapi. “Maaf karena aku menyusahkan kalian,” kata Bianco sembari mengusap kepala Ekhtuya.
Ekhtuya kembali menatap Bianco. “Kau sudah tidak marah?” tanyanya.
“Maafkan aku, Ekhtuya. Aku sudah bertingkah bodoh. Seharusnya aku tidak marah karena hal-hal sepele seperti itu. Sudah sewajarnya kau memanfaatkanku, karena aku juga mungkin melakukan hal yang sama, meskipun tidak secara sengaja. Kau sudah banyak membantu pekerjaanku,” ucap Bianco sambil menghela napas panjang.
“Tapi aku benar-benar tidak memanfaatkanmu, Bian. Dari awal aku memang mendekatimu karena aku tertarik … .” Ekhtuya menghentikan kalimatnya sendiri.
__ADS_1
“Maksudku … kau pemuda yang baik. Jadi kupikir kita bisa berteman,” kilah Ekhtuya salah tingkah.
Bianco mendengkus pelan lalu tersenyum. “Kau tertarik padaku?” tanyanya memastikan.
“Ten, tentu saja. Sebagai sesama manusia kita tertarik pada orang yang baik, kan. Apa lagi penampilanmu juga mena … rik.” Ekhtuya tertunduk malu. Ingin rasanya ia menghilang dari hadapan Bianco.
Bianco tertawa kecil lantas kembali mengusap kepala Ekhtuya. Ternyata bukan hanya dia yang tertarik pada gadis itu. Ekhtuya pun merasakan hal yang sama. Bahkan sepertinya Ekhtuya sudah menyukainya lebih dulu
“Terima kasih sudah mengatakannya,” ucap Bianco kemudian.
“Itu saja jawabanmu?” protes Ekhtuya dengan wajah masih bersemu merah.
Aroma manis dari tubuh Ekhtuya segera menyergap. Kulit lembut gadis itu, juga rambutnya yang halus terasa menggelitik wajah Bianco. Jemari Bianco lantas menelisik, membelai leher hingga punggung Ekhtuya. Gadis itu menyambut ciuman Bianco dengan melingkarkan kedua tangannya di leher pemuda itu. Pemuda itu benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Tubuhnya seperti meleleh dalam rengkuhan Ekhtuya.
Pagi datang tanpa terasa. Bianco bangun dari tidurnya dan mendapati Ekhtuya berbaring dalam pelukannya. Bianco menutup wajahnya dengan satu tangan. Ia belum pernah melakukan hal ini dengan wanita selain Beatris. Ini pertama kalinya Bianco tidur bersama orang lain. Bianco lantas menatap Ekhtuya yang masih terlelap di sampingnya. Bahkan saat tertidur pun gadis itu terlihat sangat cantik. Jantung Bianco kembli berdebar keras, campuran antara rasa senang dan rasa bersalah. Pemuda itu lantas memilih untuk memeluk tubuh Ekhtuya dan menyingkirkan segala pikiran negatifnya.
“Jantungmu berdebar keras sekali, sampai aku terbangun.” Tiba-tiba suara Ekhtuya terdengar dari dalam pelukan Bianco.
Bianco melepas pelukannya dan mengecup kening gadis itu. “Maafkan aku. Ini pertama kalinya bagiku tidur dengan orang lain selain Beatris,” ujarnya polos.
__ADS_1
“Kau membicarakan perempuan lain saat bersamaku?” protes Ekhtuya.
“Ah, maaf, aku tidak bermaksud melukaimu. Aku hanya mengatakannya tanpa berpikir,” kilah Bianco merasa bersalah.
“Padahal ini pengalaman pertamaku,” gumam Ekhtuya berpura-pura murung.
“Maafkan aku,” desah Bianco semakin merasa bersalah.
Ekhtuya tersenyum geli. “Aku bercanda, Bian. Aku baik-baik saja karena aku melakukannya denganmu secara sadar. Jangan terlalu dipikirkan,” ujarnya sambil mengusap kepala Bianco.
“Ayo kita bangun sekarang. Andres dan yang lainnya pasti akan bergosip setelah ini,” lanjut Ekhtuya tertawa kecil.
“Aku akan mengurus mereka.”
“Biarkan saja. Toh kita memang melakukannya.”
“Apa itu tidak mengganggumu?”
Ekhtuya menggeleng. “Tidak masalah buatku.”
__ADS_1
Bianco mengecup kening Ekhtuya sebagai jawabannya. Mereka berdua pun bangkit dari tempat tidur dan bersiap-siap untuk sarapan di luar.