
Setelah menerima balasan dari Giyatsa, Ekhtuya memutuskan untuk menelusur jejak pasar gelap perbudakan di Nuchas. Bianco tidak sepenuhnya mengerti bagaimana cara kerja Ekhtuya. Perempuan itu terkadang pergi seharian dan baru kembali ketika malam. Bianco bisa saja membantu Ekhtuya untuk membuka bisnis ilegal keluarga Manolette. Namun Bianco merasa masih harus berhati-hati dengan mereka.
Selain itu, Bianco juga punya alasan sendiri. Sejujurnya ia bukanlah orang yang menyukai hal semacam itu. Petualangan atau apa pun bentuknya adalah hal yang sama sekali tidak menarik. Ia justru merindukan pekerjaannya di bar dulu. Setelah bertahun-tahun meracik minuman ditemani aroma alkohol dan manisnya buah-buahan, sulit rasanya untuk melupakannya. Dan hal itu pun lambat laun membuat Bianco tersiksa.
Akhirnya, karena Bianco begitu tidak tahan dengan kebosanan, pemuda itu pun memutuskan untuk ikut campur pada urusan Ekhtuya. Jaringan bisnis ilegal keluarga Manolette sudah lama diketahui oleh Bianco. Hal tersebut bahkan tidak menjadi rahasia di Nuchas. Hanya saja tidak semua orang mengetahui jaringan dalamnya yang lebih kelam: pasar budak.
“Bian, kau yakin mau melakukan ini?” tanya Ekhtuya ketika mereka berdua bersiap pergi di pagi buta menuju pasar gelap rahasia yang hanya diketahui oleh segelintir orang kaya saja.
“Aku bosan setengah mati kalau tetap di rumah,” celetuk Bianco sembari mematut diri di depan cermin.
Ia menutupi wajahnya dengan jubah berpenutup kepala. Sebisa mungkin dia harus menyembunyikan diri karena hampir separuh penduduk kota mengenal Bianco, bartender DelMonte yang tersohor. Meski perannya tidak lepas dari predikat sebagai pria penghibur Nona Muda Beatris Manolette.
__ADS_1
“Yah, kita bisa kabur kalau kau ketahuan. Aku cuma khawatir kalau kita kehilangan jejak jalur perbudakan itu,” desah Ekhtuya sembari menghela napas.
“Tidak perlu cemas. Aku sudah mengetahui seluk beluk bisnis keluarga itu hingga ke akar-akarnya. Itu salah satu alasan kenapa mereka ingin melenyapkanku setelah dipecat. Aku sudah pernah menjadi orang kepercayaan Beatris selama sepuluh tahun terakhir,” terang Bianco meyakinkan Ekhtuya.
Ekhtuya menarik napas panjang dan tersenyum simpul. “Baiklah. Meski begitu, kau tetap harus berhati-hati,” kata Ekhtuya memperingatkan.
Bianco mengangguk paham. Mereka berdua lantas berangkat dengan mengenakan jubah yang tertutup. Bianco membawa Ekhtuya menuju arena torero. Namun mereka tidak masuk melalui pintu utama, melainkan memutar ke belakang menuju sebuah gang gelap yang agak tersembunyi oleh megahnya bangunan stadion.
Lalu lalang orang di gang kecil itu semakin surut, bahkan nyaris tidak ada siapa pun. Bianco hanya melihat sekilas kelebatan jubah lain berwarna hitam yang berjalan sekitar setengah mil di depan mereka. Bianco pun mengarah ke tujuan yang sama dengan sosok tersebut.
Akhirnya, setelah berjalan selama kurang lebih sepuluh menit, Bianco berbelok di sebuah rumah kayu sederhana yang dijaga oleh dua orang berbadan kekar. Keduanya berdiri sangar dengan bertelanjang dada, memamerkan otot-ototnya yang berukuran fantastis.
__ADS_1
“Ada urusan apa datang kemari?” geram salah seorang pria itu.
Bianco tidak menjawab dan hanya menyodorkan sebuah lencana berwarna hijau toska yang dia keluarkan dari balik mantel. Di atas lencana itu tertoreh nama keluarga Manolette yang menunjukkan bahwa pemilik lencana tersebut adalah orang-orang atau pesuruh dari keluarga terkemuka tersebut.
Kedua pria berbadan besar yang semula berusaha menghalangi jalan Bianco seketika bersikap sopan. Mereka lantas membiarkan Bianco dan Ekhtuya masuk ke dalam rumah kayu sederhana itu tanpa banyak bertanya.
“Bagaimana kau melakukannya?” bisik Ekhtuya bertanya.
“Beatris pernah memberikannya padaku saat sering menyamar dan datang ke tempat ini,” jawab Bianco seadanya. Dalam hati ia berharap mantan majikannya itu sudah melupakan tentang lencana ini agar tidak perlu menelusuri kedatangannya ke tempat itu.
Ekhtuya tidak berbicara lagi, karena itu Bianco melanjutkan perjalanan mereka memasuki pasar gelap. Rumah kayu itu sama sekali tidak istimewa. Perabot di dalamnya sangat sederhana dan nyaris tidak mencurigakan. Hanya saja setelah Bianco menuju sebuah pintu di sebelah ruang dapur, segalanya berubah. Di balik pintu itu terdapat sebuah tangga yang curam. Keadaan di bawah tangga sangat remang-remang hingga tidak bisa dilihat dengan jelas.
__ADS_1
Bianco membimbing Ekhtuya menuruni tangga hingga mencapai dasar ruangan bawah tanah berpenerangan minim. Sebuah tirai hitam menyambut mereka berikut suara-suara orang yang saling berbicara.
“Kita sudah sampai,” bisik Bianco sembari menyibak tirai tersebut.