Sign Of Zodiac: Taurus

Sign Of Zodiac: Taurus
Bekerja


__ADS_3

“Apa kau gila? Tubuhmu saja seperti itu tapi kau masih memikirkan untuk bekerja?” cecar Andres marah.


“Aku tidak apa-apa. Luka-luka seperti ini tidak akan membunuhku,” tukas Bianco yang kini sudah bangkit dari tempat tidur.


Pemuda itu lantas berjalan menuju lemari bajunya dan mulai menyiapkan seragam kerja. Tidak ada orang yang bisa mencegah Bianco. Bahkan Ekhtuya hanya memandanginya tanpa berkomentar apa pun.


“Bianco, lebih baik kita tutup saja hari ini. Nona Beatris pasti memaklumi keadaanmu. Tidak akan jadi masalah kalau hanya tutup satu hari. Setidaknya kau harus sedikit memulihkan tubuhmu, dan besok kau sudah bisa mulai bekerja,” pinta Angelo memelas.


Bianco menoleh ke arah teman-temannya. Ia lalu tersenyum tipis sambil membawa kemeja kerjanya yang sudah tergantung rapi.


“Tidak apa-apa, Angelo. Jangan khawatir,” ucap Bianco tenang. “Sekarang tolong kalian keluar. Aku harus berganti pakaian.”


Bianco sudah berada di balik meja barnya dengan seragam lengkap. Luka-lukanya sudah dibalut dengan rapi oleh Ekhtuya. Meski begitu wajahnya  yang babak belur tidak bisa ditutupi dengan apa pun. Satu matanya sedikit bengkak dengan lebam kebiruan. Bibirnya robek dan pelipisnya tertutup balutan kecil. Siapa pun yang melihat Bianco pasti akan merasa kasihan.


“Kau benar-benar pria membosankan, Bianco,” Adena sudah duduk manis di depan meja bar. Ia mengamati Bianco yang tampak menahan rasa sakit di tubuhnya.


Bianco hanya tersenyum simpul menanggapi Adena.


“Padahal kau mengalami kekerasan seperti itu tapi tetap memikirkan pekerjaanmu yang membosankan. Kau sama gilanya dengan tempat ini,” lanjut Adena sembari tertawa hambar.


Bianco masih tidak bergeming. Ia sibuk membuat display minuman untuk pesanan meja lima belas. Seluruh tubunya yang kesakitan membuat kecepatan kerjanya sedikit menurun. Karena itu Bianco harus lebih fokus dan memilih untuk mengabaikan Adena.


“Ngomong-ngomong perempuan itu bukannya pengunjung bar kemarin? Yang dari suku Giyatsa? Kenapa dia bekerja besamamu hari ini?” tanya Adena sembari mengangguk ke arah Ekhtuya yang tengah menjerang air untuk membuat minuman hangat.


Ekhtuya berdiri di sudut bar yang cukup jauh dari mereka. Meski begitu keberadaannya yang mencolok tetap mengundang perhatian para pengunjung. Beberapa orang sudah mendatanginya tadi. Akan tetapi karena Ekhtuya tidak mempedulikan mereka, orang-orang itu menjadi marah. Beruntung Bianco punya cukup wewenang di bar itu. Orang-orang yang mencari masalah segera ditendang keluar oleh Andres dan Baltazar. Bianco juga bisa menggunakan nama keluarga Manolette untuk menakut-nakuti mereka. Sekarang, orang-orang yang penasaran pada Ekhtuya hanya bisa melihat gadis itu dari jauh.

__ADS_1


“Dia menolongku hari ini. Dan karena aku ingin membalas budi, aku memberinya pekerjaan. Dia bilang dia butuh uang,” ungkap Bianco terus terang.


Adena tertegun sejenak. Beberapa menit kemudian tawanya meledak berderai-derai. Air mata sampai keluar dari ujung-ujung mata Adena.


“Apa itu disebut balas budi? Kau menyuruhnya bekerja alih-alih memberinya uang begitu saja,” ucap Adena ditengah derai tawanya.


“Aku sudah menawarinya seperti itu. Tapi dia bilang dia tidak mau. Gadis itu justru meminta untuk dipekerjakan. Untungnya dia cekatan. Mungkin dia juga bisa berguna untuk mengusir lalat-lalat pengganggu,” jelas Bianco.


“Kau benar-benar hanya memanfaatkannya, Bian. Tentu saja kau memang sedikit lebih baik dari orang lain. Tapi kau tetap saja seorang Nuchas.”


Bianco mengangkat bahu dengan ringan. “Dia sendiri yang memintanya. Aku tidak pernah memaksa.”


“Baiklah. Terserah kau saja. Malam ini aku tidak bisa lama-lama duduk di sini. Si anak baru di Rumah Merah sudah kehilangan pamornya. Pelangganku yang lama mulai merindukanku. Aku ada dua janji malam ini. Jadi aku pergi sekarang, ya,” ucap Adena sambir meletakkan dua keeping perunggu untuk membayar minumannya.


“Ya pergilah,” sahut Bianco pendek.


Gadis itu membantunya melakukan pekerjaan berat seperti mengangkat ember air dan menjerangnya dengan panci besar, hingga mengantarkan pesanan ke meja-meja pelanggan. Bianco tidak bisa melakukan itu semua karena bahu dan lengannya yang terluka. Ia benar-benar penasaran kenapa Ekhtuya terus-terusan membantunya. Ini adalah kali ketiga Ekhtuya membantu Bianco. Sementara ia tidak pernah melakukan apa pun untuk gadis itu.


Keadaan itu mau tidak mau akhirnya membuat Bianco penasaran. Bianco bukanlah orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Ia selalu acuh pada siapapun atau apa pun di luar dirinya dan Beatris. Namun beberapa kali bertemu dengan Ekhtuya membuat rasa ingin tahu Bianco tergelitik. Perempuan misterius itu berhasil memancing perhatian Bianco.


“Apa kau tidak lelah?” tanya Bianco ketika Ekhtuya sudah kembali dari mengantar pesanan. Apron merah dan penutup kepala berwarana senada tidak pernah terlihat begitu menggemaskan sebelum dipakai oleh gadis itu.


“Ini pekerjaan mudah,” ucap Ekhtuya pendek.


“Sepertinya kau sudah terbiasa bekerja.”

__ADS_1


“Bisa dibilang begitu. Pekerjaanku sebenarnya jauh lebih sulit dari pada ini. Karena itu aku benar-benar menikmati berada di sini. Aku juga bisa sambil mencari orang yang kubutuhkan. Siapa tahu dia akan datang kemari,” timpal Ekhtuya sembari meletakkan nampan di bawah meja bar.


“Sebenarnya siapa orang yang kau cari itu?” tanya Bianco penasaran.


Ekhtuya tampak berpikir sejenak. “Dia adalah orang yang sangat penting, juga sangat kuat. Dia yang akan menyelamatkan benua ini dari teror chögörü.”


“Chögörü?” tanya Bianco bingung. Ia tidak pernah mendengar istilah itu sebelumnya.


“Iya. Chögörü. Roh jahat pemakan manusia.”


“Oh, maksudmu malignos.”


“Begitukah mereka disebut di sini? Kurasa memang yang kau maksud sama dengan yang kupikirkan. Roh jahat itu memiliki banyak nama di dua belas suku Luteria,” terang Ekhtuya kemudian.


“Apakah orang yang kau cari itu adalah orang yang bisa mengalahkan malignos?” Bianco kembali bertanya.


“Benar. Apa kau sudah mendengar ramalan suku Ehawee?” jawab Ekhtuya balas bertanya. Bianco kembali mengingat percakapannya dengan Adena beberapa waktu yang lalu. Adena juga mengatakan tentang ramalan suku Ehawee dan peran para penunggang kuda dari Giyatsa. Apakah itu artinya perkataan Adena bukan sekedar gosip belaka?


“Yah, kurang lebih aku tahu,” jawab Bianco kemudian.


“Aku adalah salah satu dari dua belas penunggang kuda dari Giyatsa yang ditugasi untuk menemukan pejuang zodiak dari suku Nuchas. Aku sudah berkeliling tempat ini selama lebih dari dua bulan, namun tidak menemukan apa pun,” ungkap Ekhtuya murung.


“Memangnya orang seperti apa yang ada dalam ramalan itu?”


“Aku hanya diberitahu bahwa orang itu akan memberiku petanda ketika waktunya sudah tiba. Mereka tidak menjelaskan petanda seperti apa yang dimaksud. Jadi selama ini aku hanya bisa menunggu,” jelas Ekhtuya lagi.

__ADS_1


Bianco menarik napas panjang. Sepertinya pekerjaan gadis itu memang jauh lebih berat daripada sekedar menjadi pekerja bar. Entah kenapa Bianco merasa ingin membantu Ekhtuya. Tapi apa yang bisa dia lakukan?


__ADS_2