Sign Of Zodiac: Taurus

Sign Of Zodiac: Taurus
Pembicaraan


__ADS_3

Bianco tidak bisa menerka apa yang tengah dibicarakan Beatris dengan Ekhtuya. Ia hanya bisa masuk sebentar saat mengantar minuman, dan itu pun pembicaraan mereka sama sekali belum dimulai. Ekhtuya dan Beatris akhirnya  selesai lebih cepat dari dugaan Bianco. Tiga puluh menit setelah Bianco mengantar minuman, nona mudanya keluar lebih dulu, diikuti Ekhtuya di belakangnya. Wajah dan tubuh mereka tampak baik-baik saja. Setidaknya Bianco bisa melewatkan kemungkinan adanya kekerasa fisik yang terjadi.


“Jadi, Ekhtuya, aku titip Bianco padamu, ya. Jaga dia baik-baik di sini,” ucap Beatris setelah mereka berdua berdiri di sisi luar meja bar.


“Anda bisa percaya pada saya, Nona,” sahut Ekhtuya penuh dedikasi.


“Aku lega mendengarnya,” sambut Beatris sambil tersenyum. Wanita itu lantas berjalan ke arah Bianco dan kembali berbisik pelan di telinganya.


“Sayang sekali malam ini kita tidak bisa menghabiskan waktu bersama, Bian. Aku berjanji akan mengirmkan kereta kuda untukmu dalam waktu dekat,” bisik Beatris dengan senyum menggodanya yang biasa.


“Saya akan menantikannya,” ucap Bianco sopan.


Beatris tersenyum puas. Wanita pemilik bar itu pun akhirnya pergi dari tempat itu tanpa mempedulikan hal lain lagi. Kedatangannya seolah memang hanya ditujukan untuk bertemu dengan Ekhtuya. Beberapa pegawai bar lainnya tampak menatap Bianco dengan prihatin. Mereka sepertinya mengangap bahwa sang nona muda sudah berpaling dari Bianco dan memilih Ekhtuya menjadi pegawai favoritnya. Gara-gara itu Bianco menjadi sedikit merasa sudah dicampakan.


Setelah Beatris pergi, para karyawan pun segera mengerubuti Ekhtuya dan mulai betanya-tanya kenapa sang nona muda tertarik padanya. Pertanyaan-pertanyaan menyebalkan seperti apakah Ekhtuya akan menjadi manager baru menggantikan Bianco turut muncul dan membuat Bianco sedikit jengkel.


“Nona Beatris hanya mempekerjakanku secara resmi. Kami menandatangani kontrak kerja biasa,” jelas Ekhtuya sambil mengangkat selembar perkamen bertuliskan kontrak kerja.

__ADS_1


Bianco diam-diam melirik perkamen itu sekedar memastikan posisinya sebagai manager masih belum tergantikan.


“Dan aku dipekerjakan sebagai pelayan,” jelas Ekhtuya sembari melirik Bianco, sadar bahwa pemuda itu cukup terganggu dengan kekhawatiran yang tidak beralasan.


Bianco berdehem pelan lalu memalingkan wajahnya, berpura-pura sibuk menuang minuman.


“Ini pertama kalinya ada pekerja wanita di bar ini yang diakui oleh Nona Beatris. Semua wanita biasanya dikirim ke Rumah Merah. Bagaimana caramu membujuknya?” tanya Andres begitu penasaran.


Bahkan Adena memilih untuk menolak dua tamunya mala mini hanya demi mendengar gosip terbaru tentang Nona Muda Manollete dan Gadis suku Giyatsa. Pasti menyenangkan bagi Adaena untuk menjadi orang pertama yang menyebarkan gosip.


“Yah … Nona Beatris melihat bakatku akan sia-sia kalau aku bekerja di rumah bordil. Dia bilang keberadaanku di bar bisa menarik lebih banyak pengunjung sekaligus mencegah terjadinya perkelahian yang bisa merusak property,” terang Ekhtuya.


“Aku yakin kontrak itu hanya kedok. Sebenarnya apa yang diminta Beatris darimu, Ekhtuya?” tanya Bianco setelah berhasil membubarkan kerumunan karyawannya di depan bar. Bianco menyuruh mereka kembali bekerja dan tidak bermalas-malasan lagi.


“Hmm, itu … aku tidak bisa mengatakannya padamu, Bianco,” ucap Ekhtuya sambil meringis.


Alis Bianco bertaut. “Lebih baik kau tidak terlibat dengan keluarga mereka. Ini saranku sebagai seniormu di sini. Kau hanya akan mempersulit hidupmu sendiri,” nasehat Bianco sembari memendam kekesalan.

__ADS_1


Ekhtuya tertawa ringan. “Tenang saja, Bian. Aku cukup kuat untuk bisa menjaga diriku sendiri,” ucapnya tenang.


Bianco menghela napas dengan kesal. “Jadi kau benar-benar tidak akan memberitahuku?” sergahnya tak sabar.


“Bukannya aku tidak mau. Cuma belum saatnya saja. Kau akan tahu nanti. Ini berhubungan dengan misiku di Nuchas,” sahut Ekhtuya memberi sedikit bocoran.


Kening Bianco mengernyit semakin tajam. “Aku ingat sekarang. Sejak awal tujuanmu mendekatiku memang untuk bertemu dengan keluarga Manolette. Sepertinya sekarang kau sudah berhasi mencapai tujuanku. Aku sudah tidak dibutuhkan lagi,” gumamnya pelan.


“Apa maksudmu, Bianco? Sebenarnya kau sedang memikirkan tentang apa? Jangan salah paham, aku hanya sedikit berbisnis dengan Nona Beatris,” bujuk Ekhtuya yang tidak terlalu yakin alasan Bianco merasa kesal.


“Faktanya kau memanfaatkanku. Sejak awal kau memang mengikutiku dengan tujuan untuk mendekati keluarga Manolette,” sergah Bianco marah. “Kupikir setelah aku hidup selama ini, akhirnya aku bisa menemukan orang yang memperlakukanku dengan tulus. Betapa bodohnya aku,” lanjutnya sambil mendengkus.


Ekhtuya tak kalah shock mendengar tuduhan Bianco. Gadis itu hanya bisa melongo selama beberapa saat untuk memahami sudut pandang Bianco.


“Kau sadar kalau kata-katamu tidak masuk akal, kan? Aku tidak pernah melakukan apa pun yang kau pikirkan itu. Aku membantumu karena memang aku ingin melakukannya. Bagaimana bisa kau berkata … ,” ucap Ekhtuya dengan ekspresi terluka.


“Selamat sudah menjadi karyawan resmi di sini. Kau bisa kembali bekerja,” potong Bianco sinis.

__ADS_1


Ekhtuya mendengkus sebal lantas berbalik pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Malam itu mereka berdua menolak untuk saling bicara satu sama lain.


__ADS_2