
Pagi datang menjelang dan bar pun akhirnya ditutup. Semua pengunjung sudah pulang dan kini tinggal Bianco berserta karyawan bar yang lain tengah membersihkan tempat itu. Setelah semuanya selesai, Bianco pun pergi ke belakang bar untuk membasuh wajahnya. Matahari sudah mulai bersinar membuat gang sempit itu sedikit lebih terang.
“Apa pekerjaanmu sudah selesai?” Tiba-tiba sebuah suara menyapa dan mengejutkan Bianco.
Pemuda itu menoleh dan mendapati gadis cantik berjubah yang semalam menyelamatkannya.
“Anda menunggu di sini sejak semalam?” tanya Bianco kehilangan kata-kata. Akhirnya hanya pertanyaan bodoh itu saja yang justru terlontar.
“Tidak juga. Aku berkeliling selama beberapa waktu. Lalu karena kulihat barmu sudah tutup aku mencoba mencari cara untuk masuk dan bertemu denganmu,” sahut gadis it uterus terang.
“Anda mencari saya?” tanya Bianco semakin kebingungan.
“Bicara santai saja denganku. Kau sudah tahu namaku. Siapa namamu?”
“Oh … Bianco.”
“Nah, Bianco, apakah kau punya waktu sebentar untuk bicara denganku?” lanjut gadis itu tanpa basa-basi.
“Ada apa?” Bianco masih kebingungan. Dari sekian banyak orang di Nuchas kenapa gadis ini justru mendatanginya. Bianco benci terlibat hal-hal yang merepotkan. Hidupnya sendiri sudah rumit. Meski begitu etiket kesopanannya membuat Bianco memilih mengalah. Terlebih karena gadis itu sudah menolongnya semalam. Mungkin ini waktunya Bianco membalas budi.
__ADS_1
“Kalau begitu tunggulah di dalam. Aku ingin mandi dan sarapan dulu. Kau sudah makan?” tawar Bianco.
“Jangan pedulikan tentang itu. Lakukan rutinitasmu seperti biasa saja. Aku akan menunggu kau menyelesaikan semuanya,” sahut Ekhtuya apa adanya.
“Baiklah. Kalau begitu silakan masuk,” ujar Bianco sembari membukakan pintu untuk Ekhtuya.
Pemuda itu lantas membawa Ekhtuya ke kamarnya. Ia tidak ingin karyawan yang lain melihat dia membawa orang asing. Karena itu Bianco berjalan menuju kamarnya melalui tangga belakang. Ia malas jika harus menanggapi pertanyaan-pertanyaan ingin tahu dari orang-orang.
Ekhtuya duduk dengan manis di meja kayu ruangan Bianco. Setelah menyajikan minuman hangat dan beberapa camilan, Bianco pun meninggalkan gadis itu sejenak untuk mandi dan sarapan. Dua puluh menit berikutnya mereka berdua sudah kembali berhadapan di dalam kamar pribadi Bianco.
“Jadi ada masalah apa?” tanya Bianco tanpa basa-basi.
“Aku butuh bantuanmu,” ucap Ekhtuya singkat.
“Kudengar kau dekat dengan orang-orang yang berpengaruh di Nuchas. Aku harus menemukan seseorang yang sangat sulit dicari. Kedekatanmu dengan keluarga terpandang mungkin bisa membantuku menemukan orang yang kucari,” terang Ekhtuya panjang lebar.
Bianco mengernyitkan keningnya. Sepertinya gadis ini juga membawa masalah yang tak kalah merepotkan. Ia benar-benar tidak ingin terlibat dengan hal-hal semacam itu. Terlebih ia juga tidak tahu kapan Beatris akan berkunjung lagi. Meskipun orang-orang berkata bahwa Bianco adalah orang kepercayaan keluarga Manolette, faktanya ia hanyalah salah satu dari sekian banyak pria penghibur Beatris, sang putri bungsu keluarga tersebut.
Bianco hanya pernah beberapa kali bertemu dengan kepala keluarga Manolette. Itupun karena Beatris yang membawanya. Karena itu kesimpulan yang dikatakan Ekhtuya sangatlah tidak tepat. Ia tidak akan bisa membantu gadis itu sekalipun dirinya bersedia.
__ADS_1
“Maaf, Ekhtuya, tapi permintaanmu itu sepertinya sulit. Aku tidak cukup dekat dengan keluarga Manolette. Aku hanya karyawan biasa seperti yang lainnya. Kebetulan saja aku menjadi manager bar ini karena pekerjaan ini adalah satu-satunya hal yang aku kuasain,” tolak Bianco dengan halus.
“Meskipun begitu, kau mungkin bisa mencobanya,” keluh Ekhtuya muram. Namun tiba-tiba gadis itu kembali berbinar, seolah menemukan ide baru. “Bar ini adalah yang paling terkenal di Nuchas. Semua orang di sini pasti sudah pernah kemari. Kalau begitu apakah kau bisa membuatku bekerja di sini? Aku mungkin bisa menemukan orang yang kucari di tempat ini,” lanjut Ekhtuya tampak bersemangat.
Bianco mendesah panjang. “Aku juga tidak bisa melakukan itu. Penampilanmu terlalu mencolok. Dan setelah apa yang kau lakukan semalam, semua penduduk pasti akan membicarakanmu. Kalau aku mempekerjakanmu di sini, itu hanya akan membawa masalah. Orang-orang berdatangan tanpa membeli apa-apa dan hanya ingin melihatmu. Selain itu mungkin bisa terjadi kericuhan kalau-kalau para torero itu menantangmu berkelahi.”
Kata-kata Bianco memang tidak salah. Ekhtuya kembali tertunduk murung. Ia seperti sudah kehilangan harapan.
“Maafkan aku. Aku tahu kau sudah menyelamatkanku dan bar ini semalam. Akan tetapi permintaanmu ini terlalu… .” ucap Bianco mencoba mencairkan suasana.
Ekhtuya menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Aku sudah cukup berterimakasih karena kau bersedia mendengarkanku. Sebaiknya aku pergi sekarang. Senang bertemu denganmu, Bianco.”
Ekhtuya segera berdiri dari tempat duduknya dan bersiap pergi. Bianco turut berdiri dan berniat mengantarkan tamu asingnya itu untuk keluar. Keduanya pun berpisah di pintu belakang Bar. Ekhtuya kembali mengenakan tudung kepalanya dan melambai singkat pada Bianco sebelum akhirnya menghilang di ujung gang.
Bianco kembali termenung. Perempuan suku Giyatsa itu benar-benar cantik. Bahkan setelah melihat Ekhtuya lebih dekat, wajah mungil dan kulit putihnya memang cukup menarik. Rambutnya yang berkilau keperakan dan sorot mata tajam Ekhtuya juga sulit untuk dilupakan. Bahkan setelah pemuda itu kembali ke kamarnya untuk beristirahat, aroma wangi hutan tropis masih tersisa. Harum tubuh Ekhtuya itu akhirnya menemani Bianco hingga ia terlelap.
Satu minggu berlalu setelah pertemuan Bianco dengan Ekhuya sekaligus sejak terakhir kali pemuda itu bertemu dengan Beatris. Nona mudanya itu tidak juga menemuinya. Beatris mungkin tengah dikurung oleh Carrian akibat kenekatannya membawa pria lain saat pertandingan torero. Bianco sangat mengkhawatirkan Beatris. Namun tidak ada yang bisa dia lakukan. Ia sendiri tengah terjepil oleh ancaman anak buah Carrian yang datang secara berkala.
Meskipun begitu, para torero keluarga Belmonte tidak lagi mencoba melakukan kekerasan di dalam bar. Kepala keluarga Manolette yang mendengar keributan yang hampir membakar barnya segera turun tangan. Ia mengajukan petisi kepada keluarga Belmonte agar tidak menyentuh bisnisnya. Begitulah kesepakatan kedua keluarga tersebut tercapai. Tidak ada torero barbar lagi yang mengancam kelangsungan bisnis bar tersebut.
__ADS_1
Keadaan itu tentu saja hanya berlaku untuk bar dan segala properti milik keluarga Manolette. Nasib Bianco akan berbeda jika ia berada di luar bar karena antek-antek Carrian tetap terus mengawasinya dan berusaha melakukan tindak kejahatan terhadap pemuda tersebut. Bianco terus waspada dan berhati-hati hingga permasalahan Beatris mereda. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu dan melakukan rutinitas seperti biasa.
Sayangnya Bianco tidak bisa selamanya mendekam dalam persembuyian. Setelah merasa ketegangan Beatris dan Carrian mungkin sudah sedikit mereda, Bianco pun memutuskan untuk berbelanja. Persediaan bahan makanan dan minuman di bar sudah semakin menipis. Ia harus pergi ke tempat penyulingan anggur untuk mendapat beberapa botol wine untuk dijual malam itu. Maka dengan segala ketetapan hati, Bianco pun akhirnya bersiap-siap untuk pergi.