
“Kau benar-benar masih hidup, Bian,” desah Andres sembari memeluk Bianco erat-erat.
“Memangnya apa yang terjadi padaku?” tanya Bianco mencari tahu tentang kabar yang beredar tentang dirinya.
“Kabarnya kereta kudamu mengalami kecelakaan saat kembali dari kediaman Manolette. Kau dikabarkan sudah meninggal dan sekarang manager bar sudah diganti dengan orang suruhan Nona Beatris. Orangnya benar-benar menyebalkan dan sangat kasar,” jelas Andres setelah melepaskan pelukannya.
“Meskipun begitu, aku tahu kau pasti masih hidup di suatu tempat. Aku yakin karena perempuan suku Giyatsa itu juga menghilang saat kau dikabarkan meninggal. Aku tidak tahu apa persisnya yang terjadi, tapi aku menduga Nona Beatris sudah menyingkirkanmu karena kabar kedekatanmu dengan perempuan Giyatsa itu,” lanjut Andres terus berbicara.
Bianco mengangkat satu tangannya untuk membuat Andres berhenti bicara. “Sekarang aku mengerti. Jadi tidak ada yang tahu kalau aku berhasil kabur?”
“Tidak ada bukti yang jelas. Tapi kurasa beberapa orang bisa menduganya. Kau tetap harus berhati-hati, Bian. Kami bahkan tidak diperkenankan untuk melakukan upacara perkabungan. Nona Beatris benar-benar sangat membencimu.”
Bianco menarik napas panjang. Informasi itu tentu bukan hal yang baru baginya. Sejak awal ia sudah tahu bahwa Beatris memang berniat untuk membuangnya. Sungguh sia-sia seluruh dedikasi dan perasaan yang telah dicurahkan Bianco selama bertahun-tahun ini. Perempuan itu memang sama sekali tidak melihat Bianco sebagai manusia. Ia tak ubahnya barang yang bisa dibuang kapan saja.
“Jadi kau sekarang tinggal di mana, Bian? Apa kau punya uang? Perempuan Giyatsa itu bersamamu, kan?” cecar Andres membuyarkan lamunan Bianco.
__ADS_1
“Entahlah,” jawab Bianco muram. Ia lantas menceritakan kepada Andres segala pengalamannya sejak kereta kudanya terbakar di hutan. Bagaimana Ekhtuya telah menyelamatkannya dan tentang beberapa waktu lalu mereka yang tinggal bersama. Meski begitu kini Bianco memilih pergi karena tidak tahan dengan cara Ekhtuya yang begitu bernafsu untuk membuatnya menjadi kuat.
“Tapi bukankah kau mencintai perempuan itu?” tanya Andres begitu saja.
Bianco tercenung selama beberapa saat.
“Aku sudah mengenalmu lama sekali, Kawan. Aku tahu hatimu tidak mudah berubah. Meski pada akhirnya kau harus mengalami hal yang sulit begini, tapi aku bersyukur kau sudah membuka hati untuk orang lain. Perempuan Giyatsa itu juga sepertinya tulus padamu. Kesalahpahaman kalian mungkin karena perbedaan cara hidup dua suku yang berbeda,” nasehat Andres mengisi kesunyian Bianco.
“Aku tahu, Andres. Aku … hanya kehilangan pegangan. Rasanya hidupku penuh ketidakpastian. Aku sama sekali tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini,” keluh Bianco akhirnya.
Bianco tampak berpikir sejenak. “Aku tidak ingin merepotkanmu, Andres.”
“Oh, ayolah. Aku juga tinggal sendirian. Lagipula aku jarang berada di rumah karena lebih sering berjaga di bar setiap malam. Itu bukan rumah yang besar. Tapi kuharap kau bisa nyaman berada di sana. Setidaknya sampai kau memulihkan pikiranmu yang rumit itu,” desak Andres.
“Terima kasih, Andres,” jawab Bianco penuh syukur.
__ADS_1
Keduanya pun akhirnya mendatangi rumah Andres yang ada di pusat kota. Rumah itu sedikit kecil dan hanya punya satu lantai dengan satu kamar saja. Sebelum bekerja sebagai penjaga bar, Andres adalah seorang mantan torero. Namun karena cidera pada pergelangan kaki, maka karirnya sebagai seorang torero pun harus terhenti. Sejak saat itu Andres membeli sebuah rumah kecil di kota dari uang hasil pertandingannya. Tak lama setelah itu keluarga Manolette justru merekrut Andres sebagai penjaga bar. Begitulah akhirnya Andres berakhir menjadi rekan Bianco.
“Tinggallah selama yang kau butuhkan, Bian. Bagaimanapun kita adalah kawan lama. Aku tentu akan membantumu saat dalam kesulitan,” ujar Andres setelah mereka sampai.
“Tolong rahasiakan keberadaanku. Aku tidak ingin menimbulkan keributan,” pinta Bianco kemudian.
“Tentu saja. Kau tidak perlu khawatir. Aku adalah ahlinya menjaga rahasia,” ungkap Andres bangga.
Akan tetapi Bianco merasa sebaliknya. Ia sangsi kalau Andres bisa menjaga mulutnya. Mantan rekan kerjanya itu sama suka bergosipnya dengan Adena. Dan kalau diingat lagi, hubungannya dengan Ekhtuya juga bocor gara-gara Andres yang bercerita kesana kemari kalau mereka sudah tidur bersama. Akhirnya Bianco menghela napas sekali lagi dan memastikan Andres untuk menutup mulutnya rapat-rapat kali ini.
“Aku serius, Andres. Siapa pun itu, jangan pernah kau beri tahu tentang keberadaanku,” tandas Bianco sungguh-sungguh.
“Tenang saja,” sahut Andres sambil meringis. “Kalau begitu aku harus kembali ke bar, Bian. Anggaplah rumah sendiri,” tutup Andres kemudian.
Bianco menghela napas untuk terakhir kalinya. Mau tidak mau, ia harus percaya pada Andres saat itu.
__ADS_1