
Hingga beberapa hari kemudian, perang dingin antara Bianco dan Ekhtuya masih terus berlanjut. Keduanya bahkan berusaha keras untuk tidak berada dalam jarak kurang dari dua meter. Pertengkaran mereka bahkan tidak segera mereda meskipun Andres dan Angelo berusaha membujuk keduanya. Andres semata-mata melakukan hal tersebut karena pertengkaran mereka lambat laun mempengaruhi pekerjaannya.
Bianco yang sarkastik berkali-kali nyaris membuat Ekhtuya meledak marah. Kemarahan gadis itu bisa menjadi malapetaka, sehingga Andres harus bisa memisahkan mereka berdua secepat mungkin. Kini Andres merasa waktunya lebih banyak habis untuk mengawasi Ekhtuya dari pada pelanggan. Suasana hati Ekhtuya yang buruk bahkan membuat para pelanggan merasa terintimidasi sepanjang waktu.
“Memangnya kau tidak memanfaatkan gadis itu sejak awal?” tanya Adena bijaksana.
Wanita itu baru saja selesai melayani pelanggan ketiganya. Riasannya yang biasa tebal kini sudah sedikit berantakan. Meski begitu, Adena akhirnya bersedia seikit ikut campur dalam pertengkaran konyol antara Bianco dan Ekhtuya.
“Aku tidak melakukannya secara sengaja. Dia sendiri yang selalu mendatangiku, dan aku hanya berpikir praktis,” sanggah Bianco kesal.
“Intinya sama saja. Kenapa kau begitu marah hanya karena fakta bahwa gadis itu memang membutuhkan sesuatu darimu? Bukankah dia juga banyak membantu pekerjaanmu, juga menyelamatkan nyawamu berkali-kali,” sahut Adena tak habis pikir. Bianco tidak pernah sekeras kepala itu sebelumnya.
“Yang dia lakukan benar-benar melukai harga diriku, Adena. Aku merasa dia meremehkanku hanya karena aku lebih lemah,” sergah Bianco marah.
Andena mendengkus keras lantas tertawa. “Sejak kapan kau memikirkan harga diri? Kau? Dari semua orang?” Adena terus tertawa selama beberapa saat diiringi dengan lirikan tajam dari Bianco.
“Maafkan aku, Bian. Hanya saja leluconmu itu benar-benar konyol. Apakah kita punya hak untuk membicarakan harga diri di Nuchas? Bahkan kalau kita adalah orang terkaya di sini, harga diri suku kita sudah lama tergadaikan,” seloroh Adena masih setengah tertawa.
Bianco menghela napas pendek. Kata-kata Adena memang benar. Ia tidak punya bantahan apa pun terhadap fakta yang dipaparkan wanita yang sudah dikenalnya sejak kecil itu. Entah kenapa ia dengan bodohnya membicarakan tentang harga diri. Padahal bila ia harus mengungkit masalah tersebut, Beatris jauh lebih kejam dalam menginjak-injak harga dirinya. Dan selama ini Bianco diam. Ia tidak pernah mempermasalahkan hal itu sekalipun ia tahu Beatris memanfaatkannya untuk hal-hal berbahaya dan memalukan. Namun kini ketika ia berpikir bahwa Ekhtuya mungkin juga melakukan hal yang sama, Bianco merasa sangat marah.
__ADS_1
“Habiskan minummu dan bekerjalah lebih giat, Adena. Tiga pria dalam satu malam itu jauh dari cukup,” komentar Bianco ketus.
Adena mengangkat kedua alisnya dengan dramatis. “Dan sekarang kau menyindirku karena kalah berbicara. Aku tidak tahu kalau ternyata Bianco kecil ini sangat mudah merajuk,” ucap Adena santai.
“Aku tidak merajuk. Terserah kau saja. Aku mau mencari angin,” sambar Bianco sembari melepas apronnya lalu melemparkan benda itu dengan keras ke atas meja bar.
Adena terkikik geli. “Lalu siapa yang akan membuatkan pesanan minuman?” seru Adena dari balik punggung Bianco. Akan tetapi pemuda itu berpura-pura tidak mendengarnya dan tetap berjalan pergi.
Bianco menuju pintu belakang bar dan keluar di gang sempit yang gelap. Mendadak ingatan tentang malignos yang pernah menyerangnya muncul. Bianco sedikit bergidik membayangkan kalau ia mungkin akan berpapasan dengan roh jahat itu lagi. Namun kini ia lebih waspada. Lagipula ia berada tak jauh dari pintu masuk barnya. Tidak sulit untuk kabur dari serangan makhluk tersebut.
Maka dengan keyakinan tersebut, Bianco pun mengeluarkan selinting mariyuana untuk dihisapnya. Sudah lama sejak Bianco merokok. Ia tidak terlalu suka kondisi setengah sadar yang membuat kepalanya linglung. Akan tetapi malam itu ia ingin membuat dirinya berhenti berpikir. Kepalanya sudah penuh beberapa hari ini dan itu membuatnya terus uring-uringan.
“Bianco? Apa yang kau lakukan di sini dengan penampilan seperti itu?” sebuah suara mendadak muncul dari balik pintu bar yang setengah terbuka.
Bianco menoleh dan mendapati Ekhtuya berdiri dengan seragam kerjanya.
“Adena bilang kau ada di sini. Masih banyak pelanggan di dalam yang memesan minuman. Bekerjalah dengan benar dan berhenti bermalas-malasan,” protes Ekhtuya sambil berkacak pinggang.
Bianco tertawa-tawa seperti orang bodoh. “Wah, wah, gadis kecil kita sekarang sudah menjadi pegawai yang rajin. Apakah sukumu kekurangan uang untuk menggaji satu perempuan sepertimu? Kenapa kau datang kesini dan mengganggu pekerjaan orang lain?” tanya Bianco masih dengan senyuman konyolnya.
__ADS_1
“Astaga, Bianco, kau sedang teller sekarang? Benar-benar menyebalkan! Sebaiknya kita tutup barnya lebih awal saja malam ini,” rutuk Ekhtuya kesal.
Bianco menangkap lengan gadis itu dengan tubuh oleng. “Siapa kau berani memutuskan jam tutup barku? Kau mau sok berkuasa di sini?” geram Bianco mendadak merasa kesal.
“Kau benar-benar menyebalkan, Bianco,” desis Ekhtuya.
Bianco melotot marah. Pengaruh mariyuana itu membuat emosinya begitu labil dan cenderung ekstrim. Sialnya, provokasi Ekhtuya memicu kemarahan Bianco tanpa terkendali. Pemuda itu lantas menarik tubuh Ekhtuya keluar dari balik pintu bar. Dengan keras Bianco menghempaskannya ke dinding gang sempit itu. Namun Ekhtuya tentu saja bisa mempertahankan tubuhnya agar tidak terjatuh. Apalagi Bianco yang teler itu kini sudah berdiri dengan sempoyongan.
“Apa maumu, Bianco?” geram Ekhtuya tak kalah kesal.
“Kau! Aku mau kau menghilang. Aku mau kita tidak pernah bertemu. Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau membuatku merasa seperti ini? Kenapa kau membuatku merasa berharga tapi lantas membuangnya begitu saja? Aku kesal karena berharap bahwa kau bersikap tulus padaku, tapi kenyataannya kau juga sama seperti orang-orang lain,” ratap Bianco yang kini mendadak berubah menjadi melankolis.
Rasa kecewanya yang sudah menumpuk selama ini rasanya seperti meluber keluar. Bianco tidak bisa lagi menahan dorongan emosinya yang bercampur aduk hingga tiba-tiba air mata menetes di wajahnya.
Ekhtuya yang semula hendak meledak marah langsung terkejut melihat pemuda di hadapannya menangis seperti anak kecil. Ia tahu bahwa emosi Bianco yang berubah-ubah itu merupakan pengaruh dari mariyuana yang dia hisap. Meski begitu melihat Bianco yang tampak sangat terluka membuat kekesalan Ekhtuya luruh. Gadis itu pun merengkuh Bianco dalam pelukannya tanpa berpikir panjang.
“Aku selalu tulus padamu, Bian. Aku tidak pernah sekali pun berpikir untuk memanfaatkanmu. Aku juga tulus saat berkata bahwa kau adalah pemuda yang baik. Aku memang ingin dekat denganmu terlepas dari misi yang harus kujalani,” kata Ekhtuya sambil menepuk-nepuk punggung Bianco yang menangis dalam pelukannya.
Bianco tak menjawab apa-apa. Pemuda itu lantas balas memeluk Ekhtuya sambil masih menitikkan air matanya. Aroma Ekhtuya yang begitu manis membuat Bianco lambat laun terlena. Tubuhnya yang kuat dan lembut di saat yang sama terasa sangat nyaman untuk dipeluk. Bianco sepertinya sudah kehilangan akal sehatnya, karena tiba-tiba ia merasakan dorongan kuat untuk memiliki gadis itu.
__ADS_1