Sign Of Zodiac: Taurus

Sign Of Zodiac: Taurus
Kekuatan Misterius


__ADS_3

Bianco dan Ekhtuya terjebak di antara para malignos dan pintu yang terkunci. Satu-satunya orang yang bisa menyelesaikan masalah itu hanyalah Ekhtuya. Sayangnya perempuan itu tidak mungkin dibelah menjadi dua. Ekhtuya harus memprioritaskan salah satunya menurut tingkat urgensi. Ia pun memilih untuk melawan roh jahat itu lebih dulu. Pilihan bijak, menurut Bianco.


Meski begitu pemuda itu tetap khawatir terhadap keselamatan dirinya, juga Ekhtuya tentu saja. Malignos yang datang tidak hanya satu atau dua ekor melainkan berbondong-bondong lebih dari setengah lusin. Bianco bisa melihatnya dengan menghitung jumlah mata merah mereka yang menggantung di udara. Bau bacin dan kegelapan total menandai bahwa malignos itu sudah siap untuk memangsa.


Tak perlu waktu lama, roh jahat-roh jahat itu pun mulai beraksi. Sambil melesat cepat ke segala arah, mereka melahapi orang-orang yang berseru panik di dalam ruangan tersebut. Para budak itu berlarian dalam kegelapan, berusaha menyelamatkan diri. Ratap tangis dan kepedihan menjadi latar dalam kegelapan yang mencekam itu. Keadaan kacau membuat Bianco turut gelisah.


Di sisi lain, Ekhtuya sudah melesat menyerang para roh jahat itu. Ia sudah menembakkan beberapa anak panah sambil menyerang secara langsung dengan belati pendeknya. Ini kali pertama Bianco melihat Ekhtuya bertarung dengan malignos. Perempuan itu jelas sudah terlatih untuk melakukannya. Meski begitu Bianco tetap merasa khawatir. Para malignos ini sepertinya terus berdatangan dan tidak ada habisnya.


“Bian! Buka pintu itu, cepat!” seru Ekhtuya di mengalahkan teriakan panik orang-orang.


Bianco segera melakukan perintah Ekhtuya. Ia mencoba segala cara untuk membuka pintu besi itu, tetapi hasilnya nihil. Ia bahkan mencoba membukanya secara paksa seperti yang dilakukan Ekhtuya sebelumnya. Namun tetap saja pintu itu tak bergeming.

__ADS_1


Beberapa budak yang ketakutan kini turut menggedor-gerdor pintu, berusaha untuk menarik perhatian agar seseorang di luar sana bisa menolongnya. Akan tetapi itu adalah hal yang sia-sia. Bianco tahu bahwa pintu itu dirancang untuk kedap suara. Sehingga siapa pun yang ada di luar tidak akan mendengar suara dari dalam.


Bianco masih terus berusaha. Keringat dingin kini sudah membasahi tubuhnya. Tangannya mulai gemetaran karena menyadari bahwa mereka tidak punya kesempatan untuk kabur. Sesekali Bianco melihat ke belakang dan mendapati Ekhtuya yang tengah berjuang sendirian kini mulai kepayahan menghadapi lebih dari enam malignos sekaligus. Ia juga melihat bagaimana tubuh para budak yang tertangkap itu ditelan bulat-bulat oleh roh jahat. Bianco bergidik ngeri. Meski begitu ia tetap berusaha menguasai diri. Ekhtuya juga sedang berjuang. Ia tidak boleh menyerah.


Di ambang keputusasaan itu, mendadak suara geraman rendah terdengar dari sisi tubuh Bianco. Seketika gerakan pemuda itu terhenti. Ia tahu bahwa ancaman mengerikan kini sudah ada di depan matanya. Secara perlahan Bianco menoleh. Dan benar saja, di sebelahnya kini menggantung dua mata merah yang nyalang. Gigi-gigi taring super besar sudah begitu dekat dengan wajahnya. Malignos sudah siap menerkamnya.


Bianco mengerang keras saat roh jahat itu menyerbu ke tubuhnya. Ia sudah tidak sempat melarikan diri. Ekhtuya yang mendengar teriakan Bianco pun terpancing. Perempuan itu berusaha berlari ke arahnya, tetapi jarak malignos itu sudah terlalu dekat. Justru karena Ekhtuya yang fokusnya teralih padanya, perempuan itu kini malah mendapat serangan dari seekor malignos di belakangnya. Sebuah tusukan duri tajam menembus tubuh Ekhtuya dan membuatnya tersungkur di lantai.


Bianco kembali berteriak marah melihatnya. Ia tidak ingin mati sekarang. Ia juga tidak sanggup melihat Ekhtuya terluka seperti itu. Sekalipun hidupnya berat dan tidak bermatabat, tetapi Bianco tetap mencintai kehidupan. Ia benar-benar tidak rela jika harus mati begitu saja karena hal konyol semacam ini. Bahkan tubuhnya mungkin akan lenyap menjadi santapan malignos. Tidak! Bianco tidak akan memibiarkannya.


“Woah … .” Bianco tertegun sejenak. Namun ia segera kembali pada kesadarannya. Pemuda itu menoleh ke arah Ekthuya yang kini tengah bergulat dengan seekor roh jahat yang hendak menerkamnya.

__ADS_1


Bianco segera berlari ke arah Ekhtuya dan kembali menghujamkan tinjunya pada roh jahat yang menyerang perempuan itu. Sekali lagi kilatan cahaya merah mengiringi pukulan Bianco. Sang roh jahat kembali menjadi debu seketika setelah kepalan tangan Bianco menyentuhnya.


“Bian … . Ternyata kau kuat … ,” desah Ekhtuya sembari bangkit berdiri.


Bianco membantunya berdiri sambil memapah perempuan itu. Luka Ekhtuya sepertinya cukup serius karena kini Biaco merasakan tetes-tetes darah Ekhtuya mengenai lengannya.


“Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja aku bisa melakukannya. Apa kau baik-baik saja? Lukamu sepertinya parah,” kata Bianco khawatir.


“Aku tidak apa-apa. Kita harus keluar dari sini. Chögörü-chögörü it uterus berdatangan. Tidak ada habisnya. Aku akan membuka pintu keluarnya. Kau lindungi aku dari serangan mereka,” ujar Ekhtuya sembari berjalan ke arah pintu keluar.


“Eh … . baiklah,” jawab Bianco sedikit ragu. Ia tidak tahu apakah kekuatan tinjunya masih bisa sekuat itu.

__ADS_1


Meski begitu Bianco tetap melindungi Ekhtuya menuju pintu keluar. Mereka berlari melewati orang-orang yang saling tumpang tindih mengindari serangan malignos. Sesampainya di pintu keluar, Ekhtuya segera berkutat untuk membuka pintu itu. Bianco berjaga-jaga di belakangnya sambil mengepalkan tangan. Beruntung tidak ada malignos lain yang menyerang mereka.


Pintu itu pun berhasil terbuka. Pemandangan podium pelelangan segera muncul. Orang-orang yang berada di ruang oval itu awalnya langsung menoleh ketika mendengar suara teriakan para budak. Bianco dan Ekhtuya segera keluar lebih dulu, diikuti budak-budak yang ketakutan. Tak lama berselang para malignos juga turut muncul mengejar mereka. Kekacauan di ruang pelelangan pun tak terhindarkan.


__ADS_2