
Pada akhirnya, Ekhtuya pun terpaksa memandikan Bianco dan menyeretnya ke tempat tidur setelah selesai. Itu adalah kali pertama bagi Ekhtuya melihat tubuh pria yang terekspos sedemikian gamblang. Ia sedikit malu, tetapi ia meyakinkan diri bahwa pemuda di hadapannya adalah seorang pasien. Dengan anggapan seperti itulah akhirnya Ekhtuya menyelesaikan misinya merawat Bianco yang kini sudah terlelap tanpa menyadari bagaimana repotnya semua orang gara-gara dirinya.
Ekhtuya menarik napas panjang lantas merebahkan tubuhnya di kursi. Ia belum pernah merasa selelah ini. Melawan beberapa chögörü pun tidak membuat tubuhnya lelah. Namun merawat Bianco seolah menyerap seluruh energinya. Jantungnya bahkan tak berhenti berdebar sejak tadi. Ekhtuya terdiam selama beberapa saat sambil memandangi wajah Bianco yang tertidur.
Sudah berala lama ia membuang waktunya untuk bekerja di bar ini? Ia tahu bahwa itu hanya dalih. Sejak awal, Ekhtuya merasa tertarik pada Bianco. Entah mengapa pemuda itu berhasil menarik perhatiannya sejak ia melihatnya di arena torero beberapa minggu yang lalu. Bianco datang bersama perempuan cantik yang ia ketahui merupakan putri salah satu keluarga penguasa di Nuchas.
__ADS_1
Ekhtuya sudah pernah bertemu dengan kepala keluarga Manolette maupun Belmonte. Sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di Nuchas, tempat pertama yang ia datangi adalah kedua keluarga penguasa tersebut. Orang-orang Belmonte mencoba menyerangnya saat ia datang, tapi semuanya berhasil dia tumbangkan. Hingga akhirnya sang kepala keluarga menawarinya untuk bertarung di arena sebagai torero. Tentu saja Ekhtuya menolak. Ia terpaksa harus mengancam sang kepala keluarga agar tidak lagi diganggu dengan bermacam tawaran untuk bertarung.
Berbeda dengan Belmonte, keluara Manolette menyambutnya dengan baik. Meski begitu, saat ia mengutarakan keperluannya untuk menemukan orang dalam ramalan, kepala keluarga Manolette segera memutuskan untuk tidak mau ikut campur atau membantunya. Belakangan Ekhtuya tahu bahwa Manolette bertanggungjawab atas kematian lebih dari separuh penduduk Nuchas setiap tahunnya. Mereka melakukan bisnis gelap seperti perdagangan manusia, obat-obatan terlarang dan prostitusi.
Ekhtuya juga akhirnya mengetahui bahwa gara-gara bisnis keluarga Manolette ini, beberapa orang Nuchas sudah dijual sebagai budak ke suku-suku lain. Karena itulah mereka tidak bersedia untuk membantu atau sekedar mempedulikan Ekhtuya. Mungkin mereka khawatir kalau gadis itu menyadari bahwa orang yang dia cari ternyata sudah mati tanpa sengaja atau hilang karena dijual. Benar-benar merepotkan. Ekhtuya sampai harus menghubungi ketua sukunya untuk memutuskan apakah ia harus tetap mencari di Nuchas atau harus mengembara lagi. Sejauh ini burung elang pembawa pesannya ke Giyatsa belum kembali membawa balasan. Maka Ekhtuya mau tidak mau menunggu di tempat ini.
__ADS_1
Ekhtuya pun mengikuti Bianco hingga ke bar, semata-mata karena rasa penasaran terhadap pemuda rupawan yang menjadi korban pertengkaran dua keturunan keluarga penguasa di Nuchas. Saat itulah mendadak bar yang dia datangi diserang oleh sepasukan torero yang hendak membakar seluruh bangunan. Ekhtuya tak menyangka bahwa ternyata pemuda yang membuatnya tertarik itu memiliki hati yang lembut. Sejak saat itulah Ekhtuya punya hobi baru: mengamati Bianco. Bahkan setelah mereka cukup dekat, Ekhtuya sadar bahwa Bianco memang berbeda dengan kebanyakan orang di Nuchas. Ia adalah pemuda yang baik.
Sayangnya Beatris kemudian mendengar kedekatannya dengan Bianco. Seperti semua kerabatnya, Beatris juga memiliki sifat yang buruk. Ia hanya selalu melihat orang lain sebagai barang yang bisa dimiliki saat ia menginginkannya, atau dibuang saat ia tidak membutuhkan. Bianco adalah salah satu ‘barang’ Beatris yang menurutnya masih berguna. Karena itu, saat tahu bahwa Ekhtuya sepertinya hendak merampas Bianco dari sisinya, Beatris pun mencoba mengonfrontasi Ekhtuya.
Perbuatan sia-sia tentu saja. Suku Giyatsa bukanlah sembarang suku. Mereka yang terkuat di Luteria, bahkan mengalahkan Leopolis, kerajaan penguasa seluruh benua. Beatris muda mungkin tidak mengetahui hal tersebut dan mencoba merendahkan Ekhtuya dengan segala cara. Ekhtuya hanya perlu mengeluarkan hawa membunuhnya yang terkuat dan Beatris pun terdiam. Ekhtuya sama sekali bukan lawan bagi dia ataupun keluarganya.
__ADS_1
Kini, setelah berhasil melepaskan Bianco dari cengkraman Beatris yang sewenang-wenang, pemuda itu justru menuduhnya sebagai pengkhianat. Bianco justru merasa Ekhtuya telah memanfaatkannya untuk bertemu dengan keluarga Manolette. Tentu saja itu kesalahan Ekhtuya karena sejak awal ia berbohong pada Bianco saat berpura-pura meminta bantuan pemuda itu. Padahal hal itu dia lakukan semata-mata agar bisa dekat dengan Bianco. Akan tetapi kebohongannya kini menjadi boomerang dan melukai Bianco. Entah bagaimana ia harus mengurai masalah rumit tersebut.
“Ekhtuya … ?” Mendadak suara Bianco yang parau terdengar. Pemuda itu membuka mata secara perlahan dan menemukan Ekhtuya masih duduk di sebelah tempat tidurnya.