Sign Of Zodiac: Taurus

Sign Of Zodiac: Taurus
Kehilangan


__ADS_3

“Bianco … .” Suara rintihan Ekhtuya terdengar, lantas menyadarkan Bianco dari ekstasenya saat membunuh.


Kedua mata Bianco yang nyalang pun melembut. Pemuda itu lantas menghampiri Ekhtuya yang terkulai lemah di lantai penjara.


“Ekhtuya … ,” desah Bianco sembari berlutut dan mengangkat tubuh Ekhtuya dalam pelukannya.


Perempuan itu lantas merogoh sakunya. Dikeluarkannya sebuah batu sapphire biru berlambangkan zodiak Taurus. Kristal itu sudah bercahaya kebiruan dan cukup terang. Energinya terasa sejuk saat digenggenggam.


“Kurasa ini milikmu,” ucap Ekhtuya lirih. “Akhirnya aku menemukanmu, Pejuang Zodiak Taurus.”


“Ekhtuya aku … tidak tahu apa yang terjadi,” ratap Bianco masih menangisi kondisi mereka berdua.


“Lihatlah batu ini sudah  beresonansi dengan kekuatanmu. Gunakan batu ini untuk membangkitkan kekuatanmu dengan sempurna. Aku … sepertinya tidak bisa bertahan lama. Maafkan aku, sepertinya setelah ini kau harus pergi sendiri ke Leopolis. Pergilah ke kerajaan. Mereka sudah menunggumu sebagai Pejuang Kedua di Luteria.” Ucapan Ekhtuya semakin lama semakin lemah. Kata-katanya membuat Bianco menangis semakin hebat.


“Bertahanlah. Kumohon. Kau adalah perempuan Giyatsa. Kau pasti bisa menyembuhkan dirimu sendiri,” isak Bianco terus meratap.


“Sudah terlambat bagiku Bianco. Iblis itu sudah menyiksa kita dua hari penuh. Meski begitu, aku sudah tidak punya penyesalan lagi. Aku telah menyelesaikan misiku untuk menemukan Pejuang Zodiak Kedua. Berjanjilah padaku, Bian, kau harus pergi ke kerajaan dan tunaikan tugasmu sebagai pembawa kedamaian di tanah ini,” rintih Ekhtuya.


Tak berapa lama kemudian Ekhtuya mendadak tersedak. Darah segar keluar dari mulut dan hidungnya. “Bian … kumohon … berjanjilah … ,” rintihnya lagi.

__ADS_1


Bianco terisak semakin keras sembari merapatkan pelukannya pada Ekhtuya. Haruskah jalan hidupnya semenyedihkan ini? Kenapa orang-orang yang dia cintai harus pergi meninggalkannya sendirian?


“Aku berjanji Ekhtuya. Aku akan melakukannya demi pengorbananmu,” desah Bianco pilu.


Ekhtuya mengusap lembut wajah Bianco. Ia tersenyum begitu hangat pada pemuda yang dicintainya tersebut. Sayangnya, daya hidup Ekhtuya semakin lama semakin menipis. Setelah beberapa saat terbaring lemah di pelukan Bianco, perempuan itu pun pergi untuk selamanya.


Bianco menangis keras selama beberapa waktu. Meratapi tubuh kaku Ekhtuya yang terdiam dalam pelukannya. Meski begitu, Bianco tahu bahwa ia harus cepat membawa Ekhtuya keluar dari tempat itu sebelum orang-orang dari keluarga Belmonte menemukan mereka.


Dalam lubuk hatinya, Bianco ingin menghancurkan dan membunuh semua orang yang telah membuat Ekhtuya menjadi seperti ini. Namun ia menahan diri. Ekhtuya tentu tidak ingin Bianco berubah menjadi iblis yang kejam karena kekuatannya. Secara instingtif, Bianco juga sudah mulai mengenali siapa diri sejatinya. Takdirnya sebagai Pejuang Zodiak, serta ratusan kehidupan lampaunya yang begitu tragis.


Ia bukanlah monster. Pejuang Zodiak adalah sosok yang ditakdirkan untuk hidup sendirian, diliputi berbagai kepedihan dan kesepian. Dan karena itulah ia harus bertanggung jawab atas kekuatannya untuk melindungi manusia, bukan membunuh mereka. Satu-satunya musuh Bianco adalah malignos, roh jahat yang telah membuat para manusia menjadi sesat.


Kemampuan zodiaknya masih tersisa. Dengan tenaganya, Bianco menggali dinding batu bawah tanah dan membuat terowongan secepat kilat. Perlu waktu seharian hingga akhirnya dia berhasil muncul di permukaan. Pemandangan hutan menyambut Bianco dengan semilir angin yang sejuk. Meski begitu hatinya masih sangat kacau. Ekhtuya adalah orang yang seharusnya mendampinginya sebagai Pejuang Zodiak. Namun ia sudah gagal melindungi perempuan itu.


Satu-satunya penghormatan terakhir yang bisa Bianco lakukan adalah menguburkan Ekhtuya di tengah hutan suku Nuchas. Oz, kuda Ekhtuya meringkik gelisah saat melihat Bianco datang bersama tuannya yang sudah tak bernyawa. Pemuda itu membiarkan Oz yang sepertinya tahu bagaimana merasa kehilangan.


Dua hari penuh Bianco melakukan perkabungan untuk Ekhtuya. Kabar tewasnya Carrian sudah menghebohkan kota. Orang-orang berpikir bahwa penerus keluarga Belmonte itu tewas karena serangan malignos, mengigat bagimana hancurnya tubuh mereka semua yang ada di penjara bawah tanah. Semua orang sepakat kalau tidak mungkin ada manusia yang bisa membunuh dengan sebrutal itu. Padahal tingkah laku Carrian jauh lebih buruk daripada serangan malignos. Manusia busuk itu selalu menikmati menyiksa korbannya sebelum membunuhnya. Kematian dengan cara itu terlalu mudah bagi Carrian.


Meski begitu Bianco tidak mempedulikannya. Ia juga tidak merasa bersalah setelah melenyapkan Carrian. Keberadaannya hanya akan menyiksa lebih banyak orang lagi. Nuchas sudah terlalu busuk untuk diperbaiki. Sebaiknya Bianco fokus untuk menyelesaikan tugasnya sebagai Pejuang Zodiak. Ia sudah berjanji pada Ekhtuya.

__ADS_1


Pada hari ketiga setelah kematian Ekhtuya, Bianco akhirnya mengambil batu zodiaknya, sapphire. Cahaya biru yang sebelumnya terlihat terang, kini meredup. Meski begitu rasa sejuk saat menggenggam Kristal itu masih terasa.


Secara instingtif Bianco langsung tahu bagaimana menggunakan Kristal itu. Ia memejamkan matanya sambil bersila dengan bertelanjang dada. Bianco mengatur napasnya sedemikian rupa dan berkonsentrasi penuh pada kekuatan Kristal yang digenggamnya. Tak berapa lama kemudian, Kristal itu mulai bercahaya lantas melayang dari genggaman Bianco menuju ke dadanya.


Sebuah lambang chakra Anahata muncul di dadanya, tepatnya di area jantung. Wujudnya berupa lingkaran hijau dengan dua belas kelopak yang menyerupai bunga teratai. Di dalamnya terdapat perpotongan dua segitiga membentuk lambang seperti bintang dengan enam sudut, menciptakan tanda Shatkona.


Batu Kristal tersebut lantas melayang masuk ke dalam lambang cakranya di jantung. Begitu keduanya menyatu, seluruh pemahaman, memory dan kekuatan Bianco seketika terbangkitkan dengan sempurna. Aliran energi berupa angin dahsyat melingkar melingkupi pemuda itu. Tubuh Bianco yang duduk bersila pun terangkat hingga beberapa meter dari atas tanah.


Kehidupan masa lalu Bianco kini telah ia ingat. Saur adalah kode namanya mula-mula. Dalam setiap reinkarnasi, ia memilih beragam nama dengan berbagai peran yang berbeda. Sudah lama sekali sejak ia bereinkarnasi menjadi manusia. Ia adalah pemilik kemampuan penghancur, sang Pejuang Zodiak Kedua: Taurus. Misinya adalah sebagai pelindung suku Nuchas. Betapa hancur hatinya karena kini Nuchas sudah berubah menjadi tempat yang sangat hina. Kepedihannya semakin berlipat karena ia juga telah gagal melindungi Ekhtuya, perempuan yang seharusnya menjadi pemandunya.


Sekarang, setelah semua ingatan dan kebijaksanaan kembali pada dirinya, Bianco menjadi lebih tenang dan yakin untuk melanjutkan misinya sebagai pejuang zodiak. Ia harus menuntaskan tugas jiwanya yang telah menitis di kehidupan ini.


“Sepertinya, Pejuang Pertama sudah bangkit lebih dulu. Aku harus menyusul Hamal,” gumam Bianco sembari bangkit dari pertapaannya.


Sebelum benar-benar pergi, Bianco memetik sekuntum bunga dandelion kecil yang tumbuh di tanah. Dia lantas berlutut di pusara sederhana yang dia buat untuk Ekhtuya.


“Terima kasih, Ekhtuya. Maafkan aku karena gagal melindungimu. Kau adalah perempuan terhebat yang pernah kukenal. Tolong damping perjalananku menuju takdirku,” ucap Bianco sembari meletakkan kuntum dandelion di atas pusara tersebut.


Setetes air mata berlinang di pipinya. Bianco menarik napas panjang untuk mengusir kepedihannya, lantas berbalik menuju Oz yang sudah menunggunya. Kini ia adalah tuan dari kuda milik Ekhtuya. Berdua, mereka akan menjelajah tanah itu untuk menuju Leopolis.

__ADS_1


__ADS_2