Sign Of Zodiac: Taurus

Sign Of Zodiac: Taurus
Kota Pinggiran


__ADS_3

Ekhtuya membawa Bianco dengan mengendarai Oz, kuda putihnya yang gagah. Mereka menerabas hutan dan menghindari jalanan kota untuk menuju pinggiran kota yang agak jauh. Di sana hanya ada kawasan kumuh dengan rumah-rumah semi permanen yang terbuat dari kayu-kayu kering. Beberapa orang tampak memperhatikan kedatangan mereka di sudut-sudut gang sempit. Mereka tampak kurus dan tidak terawat.


“Haruskah kita tinggal di sini?” bisik Bianco bertanya saat Ekhtuya menambatkan kudanya di pinggir hutan yang berbatasan dengan pemukiman penduduk.


“Apa kau mau protes sekarang? Daerah ini yang paling aman. Aku punya kenalan di sini. Padahal kau orang Nuchas tapi tidak pernah datang kemari rupanya,” komentar Ekhtuya sambil melirik Bianco.


Pemuda itu masih mengamati sekitarnya dengan sedikit risih. Selama ini ia terlalu nyaman tinggal di bar. Padahal kondisi seperti ini sebenarnya lazim ada di Nuchas. Para penduduk yang hidup miskin dan serba terbatas. Kawasan kumuh yang tak tersentuh oleh para penguasa. Bahkan orang di pusat kota saja mengabaikan mereka, tentunya kedua keluarga penguasa Nuchas itu juga tidak mempedulikam daerah ini. Mungkin itu yang membuat Ekhtuya memutuskan untuk mendatangi tempat ini.


Setelah beberapa saat berjalan, mereka pun tiba di salah satu rumah kayu usang yang tiang-tiangnya sudah aus termakan usia. Ekhtuya mengetuk pintu rumah itu beberapa kali. Seorang pria paruh baya muncul dari balik pintu. Tubuhnya besar, tetapi sudah layu. Gelambir-gelambir di kulitnya menampakkan bahwa saat muda dulu, pria ini mungkin cukup berotot.


“Kau datang lagi,” gumam pria paruh baya itu dengan suara serak.


“Saya mau menyewa tempat tinggal lagi. Kali ini agak lama. Mungkin sekitar tujuh hari,” kata Ekhtuya tegas.


Sang pemilik rumah itu berdecak kesal. “Lima perunggu sehari. Tidak kurang,” katanya setengah menggerutu.


“Itu dua kali lipat sejak terakhir saya menyewa rumah Anda,” protes Ekhtuya tak terima.

__ADS_1


“Ah, kau menginap lama sekali. Apa kau tidak tahu kalau itu merepotkan. Aku juga membuatkanmu sarapan dan makan malam. Itu harga yang murah untuk jasaku. Terserah kau mau ambil atau tidak.” Pemilik rumah itu juga tak mau kalah.


Ekhtuya mendesah pelan lantas menoleh menatap Bianco yang berdiri dengan tatapan kosong.


“Hah? Kenapa?” tanya Bianco bingung. Sedari tadi ia sibuk mengamati keadaan sekitar hingga tidak memperhatikan percakapan Ekhtuya dan pemilik rumah itu.


“Beri aku tiga puluh lima perunggu,” kata Ekhtuya sambil menengadahkan telapak tangannya.


Bianco segera tanggap. Ia menyerahkan keping perunggu di tangan Ekhtuya sesuai jumlah yang diminta. Ia tak menyangka bahwa menginap di rumah penduduk daerah pinggiran begini bisa begitu murah. Di kota, kalau kau mau menginap di Rumah Merah saja perlu setidaknya dua puluh silver semalam. Belum lagi kalau mau menyewa perempuan dari Chulo. Adena yang termasuk perempuan termahal bisa mendapat satu gold per malam.


“Ayo masuk,” ajak Ekhtuya kemudian.


Bianco mengikuti Ekhtuya masuk ke dalam rumah. Perabot sederhana yang sebagian besar terbuat dari kayu-kayu tua tampak menghiasi ruangan dalam rumah. Hanya ada dua kamar sempit di rumah itu. Rupanya Ekhtuya pernah sekali menyelamatkan sang pemilik rumah dari kejaran malignos. Setelah itu pemilik rumah tersebut berbaik hati menyewakan rumahnya pada pendatang asing tersebut. Sejak saat itulah Ekhtuya tahu tentang daerah pinggiran ini.


“Apa dia tinggal sendirian?” tanya Bianco begitu ia dan Ekhtuya sudah berada di dalam kamar tidur berpintu tirai.


“Sepertinya begitu. Aku hanya pernah menginap satu malam di sini saat baru sampai di Nuchas. Tapi selama itu aku tidak pernah melihat orang lain tinggal di sini,” jawab Ekhtuya sambil membalut luka-luka Bianco yang cukup parah.

__ADS_1


Ada banyak luka parut, luka bakar dan lebam di sekujur tubuh pemuda itu. Ekhtuya merawat luka-luka Bianco dengan hati-hati dan telaten.


“Apa rencanamu setelah ini, Ekhtuya?” tanya Bianco kemudian.


“Aku masih menunggu balasan suratku dari Giyatsa. Burung pengantar surat mencariku di Nuchas. Setelah aku mendapatkan balasan, aku baru bisa menentukan langkahku selanjutnya,” terang Ekhtuya.


“Orang seperti apa yang sebenarnya kau cari?”


Ekhtuya terdiam selama beberapa saat. “Entahlah. Aku tidak yakin. Tapi mungkin dia seorang yang kuat,” jawabnya lirih.


Ada banyak orang yang lebih kuat dibanding Bianco di Nuchas. Meski begitu mereka semua tidak ada apa-apanya jika berhadapan dengan Ekhtuya. Jika standar kuatnya saja setinggi itu, Bianco tidak yakin Ekhtuya bisa menemukan orang yang tepat di Nuchas.


“Meski begitu, apa pun yang terjadi nanti, kuharap aku tetap bisa bersamamu, Bian,” kata Ekhtuya menambahkan.


Bianco menatap Ekhtuya yang duduk di depannya, mengobati luka-luka di dada Bianco. Pemuda itu lantas membelai rambut Ekhtuya dengan lembut lalu memeluknya.


“Terima kasih karena sudah menerima orang sepertiku, Ekhtuya,” bisik Bianco pelan.

__ADS_1


__ADS_2