Sign Of Zodiac: Taurus

Sign Of Zodiac: Taurus
Menyelamatkan Diri


__ADS_3

Ekhtuya masih berusaha untuk mengalahkan malignos yang menyerang orang-orang di ruang pelelangan. Meski begitu luka tusukannya yang terbuka menghambat kecepatan perempuan itu. Bianco berusaha untuk membawa Ekhtuya pergi dari sana. Terlalu berbahaya jika harus memaksakan diri melindungi orang lain. Ia juga masih tidak yakin akan kemampuannya barusan yang bisa mengalahkan malignos hanya dengan satu pukulan.


Sayangnya, Ekhtuya tetap bersikeras ingin membasmi para malignos. Bianco jadi tidak punya pilihan untuk turut membantu perempuan yang disukainya tersebut. Pemuda itu lantas kembali mencoba melayangkan tinjunya pada seekor malignos yang ada di dekatnya. Pukulannya mengenai bulu duri roh jahat tersebut. Namun, alih-alih melukai sang roh jahat, kepalan tangan Bianco justru terluka karena duri tajam itu.


Sialnya, malignos itu menyadari sentuhan lemah Bianco dan berbalik untuk menyerang pemuda tersebut. Beruntung Ekhtuya sigap menghadapi situasi. Dengan belatinya, perempuan itu menghujam wajah roh jahat itu hingga terbuyar menjadi debu. Bianco menyaksikan hal tersebut sembari tersengal kelelahan.


“Tolong, kita pergi saja,” mohon Bianco membujuk Ekhtuya.


Perempuan itu pun akhirnya mengalah. Darahnya yang keluar begitu banyak juga sudah membuat Ekhtuya semakin lemah.


“Baiklah, ayo kita keluar dari sini,” ujar Ekhtuya kemudian.


Keduanya pun berlari membelah kekacauan di ruang pelelangan itu. Melalui pintu yang sama seperti saat mereka datang tadi, Bianco dan Ekhtuya pun akhirnya berhasil keluar. Mereka lantas menyusuri gang sempit dan keluar di tengah kota Nuchas. Matahari siang yang terik menyambut mereka. Keramaian kota sama sekali tidak berubah. Orang-orang melakukan aktivitas mereka seperti biasa, seolah kejadian di tempat pelelalangan tadi tidak pernah terjadi.


Ekhtuya dan Bianco segera menyembunyikan diri mereka. Hal buruk lainnya mungkin akan terjadi kalau mereka terlihat berkeliaran di kota. Bianco terus-terusan melirik pada Ekhtuya yang terlihat menahan rasa sakit. Sudah lama ia tidak mengkhawatirkan orang lain. Perasaan itu kini menguasainya saat melihat luka Ekhtuya yang masih terus mengeluarkan darah segar.


“Apa kau baik-baik saja? Perlu kupapah? Atau kugendong?” tanya Bianco cemas.


Ekhtuya menggeleng pelan. “Aku masih bisa menahannya,” sahut perempuan itu.

__ADS_1


Meski begitu Bianco merasa tidak bisa menahan diri untuk tidak membantu Ekhtuya. Pemuda itu lantas membopong Ekhtuya begitu saja, meski tanpa persetujuan. Sontak Ekhtuya memekik kaget karena gerakan Bianco yang tiba-tiba.


“Apa yang kau lakukan? Turunkan aku,” protes Ekhtuya mencoba berontak.


“Jangan banyak bergerak. Orang-orang jadi memperhatikan kita,” tukas Bianco keras kepala.


“Itu karena kau menggendongku seperti ini. Cepat turunkan aku. Ini memalukan,” sergah Ekhtuya sembari menutup wajahnya yang memerah karena malu.


Bianco mendengkus pelan. “Kau tidak pernah diperlakukan seperti ini?” tanyanya penasaran.


“Aku bukan orang yang lemah, sampai harus membutuhkan bantuan orang lain.”


“Aku membantumu bukan karena kau lemah, tapi karena aku peduli padamu.”


Setelah beberapa waktu berjalan, keduanya pun sampai di rumah tempat mereka menginap. Luka di tubuh Ekhtuya ternyata benar-benar parah. Tusukan malignos itu sangat dalam hingga menembus perut perempuan tersebut. Bianco dengan telaten membersihkan dan merawatnya. Ekhtuya berjengit setiap kali Bianco menyentuk luka itu.


“Apa sakit sekali? Tahanlah sebentar lagi. Ini sudah hampir selesai. Aku tinggal membalutnya,” ucap Bianco sembari membalurkan obat dengan penuh kehati-hatian,


“Aku tidak apa-apa. Ini cuma luka kecil,” sahut Ekhtuya menahan rasa sakit.

__ADS_1


Bianco menarik napas panjang menanggapi. “Luka tetaplah luka. Mau itu besar atau kecil menurutmu, tapi tetap saja tubuhmu akan merasa sakit. Jangan selalu memaksakan diri. Setidaknya di depanku kau bisa menujukkan sisi lemahmu,” ucapnya tulus.


Ekhtuya hanya terdiam tanpa menjawab apa-apa. Meski begitu kata-kata Bianco membuatnya merasa lebih baik.


“Ngomong-ngomong, kekuatan pukulanmu tadi … itu apa?” tanya Ekhtuya yang kemudian teringat akan kejadian di rumah lelang.


“Sejujurnya aku juga tidak tahu, Ekhtuya. Itu terjadi begitu saja. Aku sudah nyaris mati dilahap oleh malignos, lalu melihatmu tertusuk. Seketika aku merasa harus tetap hidup dan menyelamatkanmu. Itu pukulan pertamaku yang berhasil melukai sesuatu. Sebelumnya aku bahkan tidak bisa mengalahkan seorang torero yang paling lemah sekalipun,” terang Bianco panjang lebar.


Ekhtuya lantas berbalik menghadap Bianco dan menatapnya lurus. “Apa kau adalah orang dalam ramalan itu, Bian?” tanya Ekhtuya curiga.


Kedua alis Bianco bertaut karena kebingungan harus menjawab apa. “Bagaimana aku bisa tahu?” tanyanya sembari mengangkat bahu.


Ekhtuya lantas mengeluarkan batu Kristal biru dari kantong kecilnya. Dengan seksama ia mengamati batu itu sembari didekatkan pada Bianco. Akan tetapi tidak ada yang terjadi. Batu itu tetap diam, dingin dan setenang mentimun. Ekhtuya lantas menyentuhkan Kristal itu ke tubuh Bianco, menyuruh pemuda itu mengganggamnya, atau meletakkannya di bagian sentral tubuhnya seperti bagian mata ajna di antara kedua alisnya. Namun hasilnya tetap nihil. Tidak ada reaksi apa pun yang memberikan tanda-tanda bahwa batu Kristal dan Bianco saling beresonansi.


“Aku tetap merasa aneh dengan kemampuanmu tadi. Jelas-jelas aku melihat kepalan tanganmu bercahaya kehijauan. Lalu memangnya ada manusia biasa yang bisa melenyapkan chögörü hanya dalam satu serangan. Serangan tangan kosong pula,” ujar Ekhtuya masih terlihat berpikir.


“Aku juga tidak tahu, Ekhtuya. Mungkin itu hanya keberuntungan,” timpal Bianco tidak terlalu tertarik.


“Mana ada keberuntungan sehebat itu. Kekuatan tersebut jelas sudah ada di dalam dirimu, Bian. Kau hanya perlu melatihnya. Mulai besok kita berlatih di hutan. Aku tetap ingin memastikan sesuatu padamu,” ungkap Ekhtuya tampak sangat yakin.

__ADS_1


Bianco tersenyum tipis melihat perempuan di hadapannya sudah kembali bersemangat.


“Ya, tentu saja. Lakukan apa pun yang kau inginkan, Ekhtuya,” ucapnya sembari mengusap kepala Ekhtuya.


__ADS_2