Sign Of Zodiac: Taurus

Sign Of Zodiac: Taurus
Serangan Roh Jahat


__ADS_3

Bianco melepas pelukannya setelah berusaha keras menahan diri. Bahkan dalam kondisi setengah sadar saja Bianco merasa dirinya saat itu sangat memalukan. Ekhtuya menatap pemuda itu dengan lembut. Sedikit banyak ia memahami perasaan Bianco. Meski semua terjadi secara kebetulan, tapi Bianco bisa saja berpikir bahwa Ekhtuya mencoba memanfaatkannya. Pemuda itu sudah melalui banyak hal yang sulit dalam hidupnya.


“Apa kau sudah merasa baikan?” tanya Ekhtuya yang khawatir setelah melihat Bianco menangis dalam pelukannya.


“Maaf karena aku tidak bisa menguasai diri. Sepertinya aku harus beristirahat. Kau benar. kita tutup barnya sekarang,” gumam Bianco lemah.


Ekhtuya mengangguk setuju. Ia memapah Bianco untuk masuk ke dalam. Akan tetapi tiba-tiba insting Ekhtuya menangkap tekanan energi yang sangat dikenalnya. Gadis itu segera menghentikan langkah dan berubah wasapada.


“Kenapa?” tanya Bianco kebingungan.


“Ssttt … ,” desis Ekhtuya menyuruh pemuda itu diam.


Tak lama kemudian suara geraman dan bau bacin menyengat muncul dari kegelapan di hadapan mereka. Ekhtuya tahu apa yang akan mereka hadapi setelah ini. Chögörü. Roh jahat itu muncul karena merasaka emosi kuat yang dirasakan oleh Bianco. Samar-samar Ekhtuya melihat makhluk besar dengan bulu duri berwarana hitam. Dua mata merah yang bengis menatap mereka dengan buas, seolah makhluk itu sangat lapar dan mendambakan daging mereka.


Ekhtuya harus berpikir cepat. Bianco tampaknya belum sepenuhnya sadar. Pemuda itu hanya berdiri gontai di sisinya, menunggu perintah Ekhtuya untuk bisa mengeluarkan kata-kata. Pintu masuk bar hanya sekitar tujuh langkah dari tempat mereka berdiri. Namun chögörü itu berada lebih dekat dengan pintu itu daripada mereka. Ia tidak bisa kabur.


“Diam di sini, Bian,” ucap Ekhtuya pelan.


Bianco yang masih kebingungan berusaha mencerna keadaan dengan otaknya yang sudah separuh teler. Namun karena ia sedang berada dalam periode depresi, maka Bianco hanya menurut tanpa banyak bertanya.

__ADS_1


Detik berikutnya makhluk buas itu melesat dengan sangat cepat ke arahnya. Ekhtuya dengan gesit mencabut belati dari balik roknya. Gadis itu lantas menerjang langsung ke hadapan sang chögörü. Dengan bidikan yang tepat walau berada di tengah kegelapan, Ekhtuya berhasil menancapkan belatinya di salah satu mata makhluk tersebut. Sang chögörü meraung keras. Gadis itu latas bergerak memutar dan berkelit dari serangan chögörü yang marah. Ia harus menjauhkan pertempuran mereka dari Bianco. Itulahs satu-satunya pikiran yang terlintas di benak Ekhtuya.


Maka, dengan penuh kekuatan, Ekhtuya pun menjejak tanah dan melompat tinggi menuju atap bangunan terdekat. Sang chögörü yang terpancing dengan gerakan Ekhtuya lantas mengikutinya dan mereka pun melanjutkan pertarungan sengit itu di atas atap.


Bianco, sementara itu, sudah tersungkur duduk di atas tanah. Ia menatap dengan tercengang bayangan Ekhtuya yang dikejar makhluk buas itu bergerak menjauh ditimpa cahaya bulan. Bianco mengerjap beberapa kali, masih belum sepenuhnya mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Makhluk buas yang dalam bahasa Nuchas disebut malignos itu mengamuk di depan wajahnya. Begitu dekat dan begitu mengancam. Rasa takut yang dirasakan Bianco berlipat ganda karena ia kini berada dalam pengaruh mariyuana. Pemuda itu kini hanya bisa membeku dan gemetar ketakutan.


Tak berapa lama kemudian, sosok Ekhtuya dengan rambut peraknya tampak melompat-lompat dengan sangat cepat di atap bangunan. Gadis itu lantas mendarat dengan sempurna di depan Bianco yang masih diam tak bergerak.


“Kau baik-baik saja?” tanya Ekhtuya sambil berlutut di hadapan Bianco.


Bianco masih kehilangan kata-kata. Pemuda itu hanya tersentak kaget dan kembali bernapas. Selama beberapa menit belakangan Bianco sangat tercekat hingga nyaris lupa caranya bernapas.


“Bian … bian … hei, sadarlah,” ucap Ekhtuya sambil menepuk-nepuk pipi Bianco.


“Aku sudah memusnahkannya. Jangan khawatir. Ledakan emosimu saat menggunakan mariyuana memancing kedatangan roh jahat. Sebaiknya kita masuk sekarang,” perintah Ekhtuya sambil menarik lengan Bianco dan membantu pemuda itu untuk berdiri.


Susah payah keduanya akhirnya berhasil kembali ke dalam bar. Andres sudah berada di depan pintu saat mereka masuk.


“Kemana saja kalian? Pelanggan mengamuk karena pesanan mereka tidak segera dibuat. Kami kewalahan di depan. Aku sampai tidak bisa mencegah Angelo terluka karena amukan pelanggan,” seru Andres tampak kelelahan.

__ADS_1


“Kita harus menutup bar sekarang, Andres. Bian sedang sakit,” kata Ekhtuya yang masih berusaha memapah Bianco menuju kamarnya di lantai dua.


“Apa aku harus mengusir semua pelanggan sekarang?” tanya Andres yang berubah prihatin setelah melihat kondisi Bianco.


“Iya. Suruh mereka semua pulang,” perintah Ekhtuya.


“Oke,” sahut Andres pendek.


Andres pun meluncur pergi dan entah hendak melakukan kekerasan macam apa lagi di depan. Ekhtuya hanya perlu fokus membawa Bianco hingga bisa berbaring di ranjangnya dengan nyaman.


“Hei, Bian. Kau sangat kotor. Kau harus mandi dulu,” kata Ekhtuya.


Tubuh Bianco masih gemetaran. “Aku akan melakukannya sendiri,” ucapnya pelan.


“Uh, oh, tentu saja! Mana mungkin kau menyuruhku memandikanmu,” ujar Ekhtuya yang tiba-tiba wajahnya memerah.


Gadis itu membawa Bianco ke kamar mandi pribadi di kamarnya. Sebuah bath up besar dengan pancuran air hangat menyapa Bianco. Pemuda itu lantas mencoba melepas pakaiannya dan menyalakan air keran. Akan tetapi tubuhnya begitu lemas seperti jelly yang baru mendingin. Beberapa kali pegangannya terlepas dan membuat tubuh Bianco basah kuyup karena terjatuh di lantai kamar mandi.


Ekhtuya tampak ragu-ragu saat melihat Bianco yang kesulitan melakukan aktivitas pribadinya. Ia bolak balik ke lantai bawah untuk meminta tolong Andres, Baltazar atau Angelo. Namun semua karyawan lain masih sibuk mengusir para pelanggan yang marah. Angelo bahkan mengeluarkan banyak darah dari hidungnya. Ekhtuya tidak mungkin menyuruh mereka untuk merawat Bianco saat ini.

__ADS_1


Gadis itu kembali ke kamar mandi dan melihat Bianco yang kini malah merayap di lantai sambil menggapai-gapai pinggiran bath up. Ekhtuya menepuk kepalanya dengan satu tangan. Padahal pemuda itu begitu lemah terhadap efek mariyuana, lantas kenapa ia nekat menghisapnya sampai jadi seperti itu.


Pada akhirnya, karena tidak ada pilihan lain, Ekhtuya pun memutuskan untuk membantu Bianco. Setidaknya ia bisa melepas pakaian luar pemuda itu saja


__ADS_2