
Segalanya terjadi begitu cepat. Para torero yang membawa obor segera mengelilingi bar tersebut dengan membawa minyak. Andres, Baltazar dan beberapa karyawan bar lainnya sontak mencegah mereka dengan sekuat tenaga. Kericuhan menjalar dengan cepat dan membuat para pengunjung ikut merusuh. Beberapa dari mereka memilih pergi, tetapi lebih banyak yang tetap tinggal sambil membaurkan diri dalam perkelahian yang tanpa makna.
Bianco tak luput dari sergapan para torero. Ia mencoba melawan tapi tenaganya tidak sebanding dengan pria-pria kekar tersebut. Dalam usahanya melawan para manusia barbar itu, tubuh Bianco terhempas menabrak salah satu meja bar. Seorang pengunjung berjubah gelap yang sedari tadi duduk di meja tersebut segera bangkit berdiri menghindari arah jatuhnya meja.
“Kau baik-baik saja?” tanya pengunjung berjubah itu sembari berlutut dan menopang lengan Bianco.
Darah dari hidung dan mulut Bianco mulai mengucur. “Saya baik-baik saja. Maaf membuat anda tidak nyaman,” ucap Bianco sembari mengusap hidungnya.
Orang berjubah itu mendegus pelan. Wajahnya tidak terlalu terlihat karena tertutup tudung jubahnya. Meski begitu, Bianco tahu bahwa ia adalah seorang perempuan berbadan ramping.
“Di tempat yang busuk ini ternyata masih ada orang yang punya sopan-santun sepertimu,” gumam perempuan berjubah tersebut. “Bangunlah, aku akan membantumu,” lanjutnya sembari membantu Bianco berdiri.
“Minggir, anak kecil! Kami ada urusan dengan orang itu,” seorang torero yang tadi bergulat dengan Bianco maju ke depan, berniat menyeret Bianco.
Perempuan berjubah itu mencengkeram pergelangan tangan sang torero. Serta merta gerakan pria kekar itu terhenti. Torero tersebut berusaha menarik tangannya lagi, tapi gagal. Cengkeraman perempuan berjubah itu sangat kuat dan tidak tergoyahkan.
“Siapa kau? Tidak usah ikut campur,’ geram torero itu marah.
“Aku adalah pengunjung bar ini. Kalian telah mengganggu kenyamanan pengunjung dan itu benar-benar tidak sopan. Pergilah selagi aku masih bicara baik-baik,” ucap perempuan itu dingin.
Sang torero tertawa keras. Tatapannya tampak mencela dan memandang rendah orang di hadapannya.
__ADS_1
“Apa yang bisa kau lakukan dengan tubuh kecilmu itu?” sergah torero itu lantas berusaha mengayunkan lengannya untuk melempar tubuh perempuan berjubah.
Saynagnya niat torero itu tidak bisa terlaksana. Alih-alih justru tubuh kekarnyalah yang menerima pukulan telak dari perempuan berjubah. Tepat di ulu hati. Sang torero terlempar sejauh dua meter ke belakang dan pingsan seketika. Orang-orang belum terlalu menyadari kejadian tersebut karena masih asyik berkelahi. Namun gadis itu bergerak begitu cepat dan lincah menumbangkan torero-torero lain yang membawa minyak dan obor. Para torero jahatitupun tumbang satu per satu, tanpa tahu apa yang terjadi pada mereka.
Bianco dan orang-orang yang ada di tempat itu segera menyadari adanya petarung berkemampuan tinggi. Perempuan berjubah itu bergerak seperti bayangan mengalahkan para torero yang berniat menghancurkan bar. Keadaan pun segera bisa dikendalikan. Para penonton bersorak riuh ketika akhirnya perempuan berjubah itu berdiri di hadapan Bianco.
“Terima kasih atas bantuan Anda. Kalau boleh tahu siapa nama Anda, dan darimana Anda berasal? Anda sudah pasti bukan orang dari daerah sini,” kata Bianco sembari membungkuk sopan.
Perempuan berjubah itu lantas melepas tudung kepalanya. Rambut peraknya yang bergelombang tergerai lembut sepanjang punggung. Matanya yang juga berwarna senada berkilat-kilat menatap Bianco dengan sorot mata yang tajam. Kulitnya sangat putih dan pucat seolah sinar matahari tidak pernah menyapanya.
Perempuan itu jelas bukan bagian dari suku Nuchas yang sebagian besar penduduknya berkulit tan dan sedikit lebih gelap. Warna rambut orang-orang Nuchas juga umumnya coklat gelap. Meski begitu, Bianco harus mengakui bahwa perempuan berjubah itu memang sangat cantik.
“Namaku Ekhtuya, penunggang kuda suku Giyatsa,” ucap perempuan itu dengan suara yang merdu.
“Kenapa perempuan suku Giyatsa mendatingi Nuchas?” tanya Adena yang lagi-lagi duduk di depan meja bar setelah menolak seorang laki-laki aneh yang ingin tidur dengannya.
“Bagaimana aku bisa tahu?” sahut Bianco sambil lalu.
Adena mendengkus pelan. “Satu-satunya hal yang kau pedulikan hanya soal Nona Beatris. Sungguh menyedihkan. Bahkan setelah mengakibatkan keributan seperti ini kau tidak juga merefleksikan diri, Bian?”
Bianco diam tak bergeming. Ia masih sibuk memoles gelas-gelas kaca yang baru saja keluar dari pencucian.
__ADS_1
“Baiklah … baiklah … . Kau sepertinya tidak suka membicarakan masalah itu. Kalau begitu kita bahas lagi perempuan Giyatsa tadi. Siapa namanya? Ek … ektuna?”
“Ekhtuya,” sahut Bianco singkat.
“Ah benar. sulit sekali nama-nama mereka,” decih Adena sambil menggeleng. “Ngomong-ngomong aku memang mendengar kabar burung mengenai ramalan suku Ehawee. Apa kedatangan orang Giyatsa itu juga ada kaitannya dengan ramalan tersebut?” lanjut Adena bersemangat.
“Ramalan seperti apa?” tanya Bianco mulai tertarik. Perempuan tadi memang sangat cantik. Bianco sekalipun, yang dikenal sebagai laki-laki yang menjadi bodoh karena cinta, mengakui bahwa Ekhtuya memang sangat mempesona.
“Kabarnya dua belas pejuang zodiak sedang dibangkitkan. Orang-orang suku Ehawee yang berhubungan dekat dengan suku Giyatsa mengirim dua belas penunggang kuda terbaik mereka untuk mengelilingi benua dan mencari kedua belas pejuang zodiak itu,” gumam Adena setengah berbisik, seolah apa yang diucapkannya adalah sebuah rahasia sakral.
Bianco yang terbawa suasana turut mencongdongkan tubuhnya ke depan guna mendengar ucapan Adena. Namun mendadak ia kembali menegakkan tubuhnya dan menghela napas kecewa.
“Omong kosong macam apa itu,” komentarnya dingin.
“Aku tidak bercanda Bian. Gosip ini sudah menyebar luas di lingkungan kita. Perempuan-perempuan dari Mansion Merah sudah membicarakannya sejak lama. Mereka bilang kabar ini pertama kali muncul saat seorang torero penjaga perbatasan tidur dengan salah satu dari kami,” kata Adena yang sudah heboh bergosip.
“Berita dari Mansion Merah biasanya tidak akurat dan sebagian besar sudah dilebih-lebihkan,” sahut Bianco tak peduli.
Rumah merah adalah sebuah tempat hiburan yang menyediakan perempuan-perempuan cantik untuk berkencan. Sejara harafiah, tempat itu adalah rumah bordil.
“Tapi itu satu-satunya alasan yang paling masuk akal untuk menjelaskan keberadaan perempuan Giyatsa itu. Sudah sejak bertahun-tahun yang lalu Nuchas tidak pernah menerima pengunjung dari suku lain. Kau juga tahu bahwa orang-orang Giyatsa terkenal sangat kuat. Mereka adalah satu-satunya suku yang bisa menghalau keberadaan malignos. Untuk apa lagi orang semacam itu berad di Nuchas? Tidak mungkin ia hanya berlibur, ‘kan?” cerocos Adena tidak mau kalah.
__ADS_1
Bianco kembali menghela napas pendek. “Itu bukan urusan kita. Jadi biarkan saja perempuan itu melakukan kegiatannya. Sepanjang dia tidak mengganggu, kurasa tidak masalah,” jawab Bianco kemudian. Dalam hati ia pun menambahkan bahwa Ekhtuya juga telah menyelamatkan barnya, termasuk dirinya sendiri. Kalau perempuan itu datang ke bar itu lagi, Bianco berjanji untuk memberinya minuman terbaiknya secara gratis.