Sign Of Zodiac: Taurus

Sign Of Zodiac: Taurus
Safir Biru


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan cepat. Luka Bianco berangsur pulih berkat perawatan Ekhtuya. Mereka masih tinggal di daerah pinggiran bersama sang pemilik rumah yang belakangan diketahui bernama Carlos. Bianco tidak terlalu tahu pekerjaan pria paruh baya itu. Namun dari hasil pengamatannya, Carlos sepertinya memiliki jenis pekerjaan yang ilegal. Beberapa kali Bianco menemukan Carlos membawa bermacam dompet yang berisi uang. Kejadian itu mengonfirmasi dugaan Bianco bahwa pemilik rumah yang ia sewa adalah seorang perampok di kota.


Mau tidak mau Bianco segera waspada dan menyimpan harta bendanya dengan seksama. Ia tidak ingin menderita karena kemiskinan lagi. Ekhtuya di samping itu, selalu pergi saat tengah hari setelah merawat Bianco. Perempuan itu berkata bahwa ia harus tetap menjalankan misinya untuk mencari orang dalam ramalan, entah bagaimana caranya. Mungkin Ekhtuya harus bertemu dengan sebanyak mungkin orang di Nuchas agar mendapatkan petunjuk.


Meski begitu, hubungan Bianco dan Ekhtuya tidak banyak berkembang. Mereka memang sudah cukup dekat, tetapi Ekhtuya sepertinya membuat garis jarak dengan Bianco, terutama sejak Bianco menyangsikan ketulusannya. Bermalam-malam Bianco harus menahan diri agar tidak seenaknya menyentuh Ekhtuya seperti binatang buas. Ia harus mengakui bahwa perasaannya terhadap Ekhtuya sudah tumbuh semakin besar. Perempuan itu memiliki pesona tersendiri yang membuat Bianco menjadi serakah untuk memilikinya. Akan tetapi, pemuda itu tetap menghormati apa pun keinginan Ekhtuya.


Pada hari keempat mereka tinggal bersama, Ekhtuya datang dengan membawa seekor burung elang besar. Ia bilang balasan dari sukunya sudah datang. Ekhtuya tampak antusias seolah seluruh tujuan hidupnya bergantung pada jawaban surat itu.


“Sepertinya kita harus keluar dari Nuchas. Ketua suku berkata kalau aku harus mencari orang-orang yang dijual juga,” kata Ekhtuya tampak berpikir.

__ADS_1


Sejujurnya Bianco tidak terlalu mengerti bagaimana caranya menemukan satu orang dari sekian ribu penduduk Nuchas. Awalnya ia tidak terlalu tertarik akan hal itu, tetapi mengingat perempuan yang disukainya tengah tertekan karena tanggung jawab misi itu, akhirnya Bianco tergerak untuk membantu.


“Sebenarnya bagaimana caramu tahu bahwa seseorang itu adalah orang yang ada dalam ramalan? Terus terang aku merasa misimu itu sedikit absurd. Bukankah setidaknya ada ciri-ciri atau petunjuk yang bisa menentukan?” tanya Bianco mencoba merasionalkan misi abstrak yang diemban Ekhtuya.


“Hmm … sebenarnya ada satu cara untuk mengetahui bahwa aku sudah bertemu orang yang tepat. Ketua suku memberi kami batu zodiak yang akan beresonansi dengan kekuatan para pejuang. Bila aku bertemu dengan orang dalam ramalan itu, batu zodiak ini akan bereaksi,” ujar Ekhtuya sembari mengeluarkan sebuah batu kecil berwarna biru.


Sebuah lambang zodiak tertoreh di atas batu kecil itu. Bianco mengenalinya sebagai lambang zodiak Taurus. Saat melihat batu itu, entah kenapa Bianco merasa terdorong untuk menyentuhnya. Tanpa sadar tangannya terulur dan menyentuh batu di tangan Ekhtuya. Ekhtuya tidak mencoba menghalangi, alih-alih ia justru memberikan batu zodiak yang serupa safir itu kepada Bianco.


“Batu apa ini?” tanya Bianco setengah terpana.

__ADS_1


“Safir. Itu batu zodiak yang konon katanya merupakan sumber kekuatan para pejuang zodiak. Legenda itu sudah lama terkubur. Tidak banyak orang yang mempercayai eksistensi para pejuang zodiak yang sudah lenyap puluhan tahun yang lalu. Tapi batu itu tiba-tiba bereaksi ketika ramalan orang Ehawee muncul,” terang Ekhtuya.


Bianco kembali mengamati Kristal di tangannya. Rasanya batu itu berdenyut, selaras dengan detak jantungnya. Ia tidak pernah merasa seganjil ini saat memegang sebuah Kristal atau permata. Namun batu ini seperti punya jiwa.


“Batu ini sepertinya sangat berharga,” ucap Bianco sembari mengembalikan safir itu kepada Ekhtuya.


Ia tidak ingin berlama-lama terhipnotis oleh halusinasinya sendiri. Mungkin ia merasa aneh karena selama ini belum pernah menyentuh permata dengan tangannya sendiri.


“Tentu saja ini berharga. Kalau saja batu ini sudah menyatu dengan pemiliknya, kekuatan mereka bisa mematahkan kutukan di Luteria,” desah Ekhtuya muram. “Karena itu aku harus segera menemukan orang itu. Tenggat waktunya adalah akhir bulan Skirof. Aku hanya tinggal punya enam bulan untuk mencarinya.”

__ADS_1


Bianco tidak bisa melontarkan komentar apa pun. Ia ingin menyemangati Ekhtuya, tetapi sadar bahwa menemukan orang yang dimaksud sama sekali bukan pekerjaan mudah. Bahkan menurut logika Bianco, misi Ekhtuya itu nyaris mustahil dilakukan. Bagaimana sebuah batu bisa menjadi petunjuk? Resonansi semacam apa yang terjadi antara batu dan manusia? Hal-hal semacam itu benar-benar berada di luar nalar Bianco. Meski begitu, Bianco memilih untuk menyimpan pendapatnya itu dalam hati saja. Ia tidak ingin membuat Ekhtuya semakin putus asa.


__ADS_2