Sign Of Zodiac: Taurus

Sign Of Zodiac: Taurus
Pelatihan


__ADS_3

Hari berikutnya, Ekhtuya membawa Bianco masuk ke dalam hutan. Sekarang, mereka mengalami krisis baru: kemiskinan. Seluruh uang Bianco sudah lenyap dibawa pencuri tidak bertanggung jawab kemarin. Kini mereka harus berburu di hutan hanya untuk sarapan. Mereka bahkan terancam kehilangan tempat tinggal karena tidak bisa lagi membayar uang sewa.


Meski begitu, Ekhtuya tampak tenang. Ia sudah terbiasa dengan hal tersebut. Justru Bianco yang sedikit kewalahan mengikuti gaya hidup perempuan itu. Bianco sama sekali tidak punya pengalaman tinggal di alam liar. Berburu dan meramu tampaknya tidak cocok dengannya. Belum lagi hawa dingin dan nyamuk di hutan yang luar biasa ganas. Akan tetapi Bianco tetap tekun berusaha beradaptasi tanpa banyak mengeluh. Ia justru merasa simpati pada Ekhtuya yang selama ini telah menjalani hidup semacam ini dalam waktu yang lama.


Setelah selesai memanggang daging kelinci untuk sarapan, Bianco pun makan sambil memastikan luka-luka Ekhtuya tidak terbuka lagi setelah berburu. Padahal Bianco sudah mencoba untuk melakukannya demi agar Ekhtuya bisa beristirahat. Namun sekali lagi, berburu juga bukan keahliannya.


“Sampai kapan kita harus hidup menggelandang seperti suku barbar begini?” keluh Bianco yang sebenarnya mengkhawatirkan Ekhtuya.


“Ini bukan menggelandang, Bian. Kehidupan semacam ini disebut mengembara. Orang yang lebih cocok disebut sebagai gelandangan adalah mereka yang mengemis makanan di kota-kotamu itu. Meski aku tidak menyalahkan mereka mengingat kondisi kehidupan sosial di Nuchas memang sangat buruk,” sanggah Ekhtuya sembari mencomot paha kelinci yang mungil.


Bianco menghela napas pelan. Diliriknya balutan luka Ekhtuya yang mulai memerah karena rembesan darah dari luka yang kembali terbuka.


“Baiklah. Jadi sampai kapan kita harus mengembara begini?” tanya Bianco meralat kata-katanya.

__ADS_1


“Sampai aku memastikan kalau kau adalah orang yang kucari atau bukan. Dan bila bukan, maka kau harus terbiasa hidup seperti ini sampai aku menemukan orang yang kucari,” jawab Ekhtuya ringan.


Bianco memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Jawabannya terlalu abstrak. Sepertinya mereka akan menjalani hari-hari yang lebih berat lagi setelah ini.


“Setelah selesai makan, cobalah berlatih memukul batang pohon. Aku juga akan melatihmu sedikit ilmu bela diri. Kau terlalu lemah untuk ukuran orang Nuchas,” kata Ekhtuya kemudian.


Bianco tidak pernah bercita-cita untuk menjadi petarung. Sejujurnya dia tidak suka kekerasan karena rata-rata orang yang kuat biasanya bodoh, terutama para torero itu. Mereka terlalu arogan hingga kehilangan martabat mereka sendiri. Karena itulah Bianco tidak tertarik untuk menjadi kuat. Baginya, hidup dengan teratur dan pekerjaan menjanjikan sudah cukup. Akan tetapi keadaan mereka sekarang mungkin memang menuntut Bianco untuk menjadi lebih kuat, kalau-kalau ia harus menghadapi mara bahaya di masa depan.


“Baiklah,” ujar Bianco lebih karena ingin membuat Ekhtuya puas.


“Aku tidak sanggup lagi,” desah Bianco sembari tersengal. Kedua punggung tangannya luka berat dan rasa sakit menjalar hingga ke bahunya.


“Baru dua ratus tiga puluh tiga dan kau sudah menyerah? Ngomong-ngomong pukulanmu lemah sekali. Lihat, batang pohon itu sama sekali tidak terkikis. Kau sama saja hanya membelainya, Bian,” protes Ekhtuya sembari duduk dan menopang dagu.

__ADS_1


Kegigihan Bianco jelas tidak bisa diaplikasikan dalam kegiatan ini. Di atas segalanya, Bianco memang tidak pernah berminat untuk menjadi kuat.


“Baiklah, kita beristirahat sebentar sambil aku memberi tahumu teknik-teknik memperkuat pukulan,” kata Ekhtuya kemudian.


Bianco pun merebah duduk sembari menyandarkan punggungnya pada batang pohon yang habis dia pukuli tersebut. Ekhtuya mengulurkan air minu dalam wadah yang sudah dia bawa kemana-kemana. Perempuan itu juga menyeka peluh Bianco dengan lembut.


“Ternyata bukan hanya hatimu yang lembut, Bian. Bahkan pukulanmu selembut kain sutra,” gurau Ekhtuya menyindir Bianco.


“Aku tidak mudah terprovokasi, sekalipun kau mengejekku dengan ungkapan paling menyakitkan,” sahut Bianco tenang.


Ekhtuya merengut kesal. “Padahal aku hanya ingin memotivasimu,” protesnya.


Bianco tertawa kecil lantas mengusap kepala Ekhtuya. “Aku tahu kau sangat kuat, tapi terkadang tingkahmu sangat kekanak-kanakan, Ekhtuya. Kalau kau ingin aku berusaha, katakana saja apa adanya. Aku akan menuruti semua permintaanmu asal itu masuk akal,” ungkapnya terus terang.

__ADS_1


Ekhtuya lantas tersenyum manis. “Kalau begitu, tolong berusaha lebih keras, Bian. Setidaknya kau harus bisa melakukan seribu pukulan setelah ini. Pukuli batang pohon itu sampai tumbang,” lanjut Ekhtuya sembari menunjuk batang pohon di belakang Bianco.


Pemuda itu hanya bisa menarik napas panjang sembari mengusap keringatnya yang bercucuran.


__ADS_2