Sign Of Zodiac: Taurus

Sign Of Zodiac: Taurus
Kebangkitan


__ADS_3

“Diam kau, Budak! Aku sudah memperkirakan kalau perempuan Giyatsa itu pasti akan mencarimu. Karena itu aku membawamu sebagai sandera. Dengan ancaman akan membunuhmu, perempuan itu menjadi sangat mudah dikendalikan. Kau lihat bagaimana dia merelakan dirinya menjadi bulan-bulanan anak buahku hanya demi nyawamu yang tidak berharga itu?” desah Carrian yang terdengar sangat puas.


“Ekhtuya! Apa yang kau lakukan? Bukankah kau sangat kuat? Hancurkan saja kepala mereka semua!” seru Bianco begitu marah melihat keadaan Ekhtuya yang menyakitkan.


Ekhtuya tidak menjawab dan hanya menggigit bibirnya dengan getir. Kalau dia bertindah gegabah, Carrian bisa langsung menusuk leher Bianco begitu saja. Sejak awal iblis itu memang berniat untuk membunuh Bianco.


“Jangan pedulikan aku! Lawan mereka dan habisi semuanya!” seru Bianco lagi, begitu putus asa dan memilukan.


Air matanya kembali meleleh karena rasa sakit di dadanya. Bagaimana mungkin dia bisa melihat Ekhtuya menderita seperti itu? Bahkan meski Carrian memukulinya sedari tadi, Bianco tidak pernah menangis. Namun menyaksikan perempuan yang dicintainya begitu terluka dan menderita, hati Bianco terasa sangat sesak.

__ADS_1


“Lepaskan Bianco, dasar manusia sampah! Kalau kau tidak berniat untuk melepaskannya, maka aku akan mulai melawan!” geram Ekhtuya dengan darah yang mengalir di wajahnya.


Carrian tertawa keras menanggapi. “Kau benar-benar banyak omong, Wanita. Aku tahu kau tidak mudah mati, karena itu aku penasaran sampai sejauh mana kau bisa bertahan,” kata Carrian lantas memberi kode pada anak buahnya untuk melanjutkan siksaan terhadap Ekhtuya.


Bianco berteriak keras dan memberontak setiap kali pukulan menyakitkan mendarat di tubuh Ekhtuya. Gadis itu menerima semuanya tanpa perlawanan. Bianco benar-benar tidak bisa menahan diri menyaksikan pemandangan tersebut. sayangya kedua kaki Bianco sudah dipatahkan oleh Carrian sedari tadi. Ia sama sekali tidak bisa merasakan ujung jari kakinya.


Kekuatan tekad Bianco yang begitu besar membuat dadanya terasa begitu membara. Bianco tidak bisa lagi menahan diri. Dia marah. Sangat marah. Emosinya yang meluap-luap menghasilkan nafsu untuk menghancurkan semua orang yang sudah menyakiti Ekhtuya. Seluruh energi marahnya itu terakumulasi begitu padat di dadanya hingga menghasilkan nyala energi berwarna kehijauan yang muncul melingkupi tubuhnya.


Carrian yang tidak menduga kejadian tersebut, terlempar mundur oleh aliran energi Bianco yang menghasilkan tekanan udara sangat kuat. Bianco mengerang penuh emosi. Kedua matanya sudah berubah menjadi berwarna merah seperti darah. Giginya bergemeletuk menahan kemurkaan. Diiringi suara geraman mengerikan, Bianco menarik kedua tangannya yang terikat. Rantai besi yang sangat kuat dan tebal itu pun putus seketika.

__ADS_1


Semua orang yang menyaksikan perubahan Bianco segera berubah waspada. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada budak lemah yang sudah mereka bully sejak tadi. Ekhtuya sudah terkulai lemah dan hanya melihat Bianco samar-samar. Bianco yang menyaksikan hal itu pun semakin murka. Dengan kedua kaki yang patah, Bianco memaksakan diri untuk berdiri. Tidak ada lagi rasa sakit di tubuhnya. Yang tersisa hanyalah angkara murka.


“Saur. Itu namaku. Ingat itu sebelum kalian mati,” geram Bianco dengan suara yang berbeda dari biasanya.


Setelah mengatakan hal tersebut, Bianco langsung menhajar seorang torero yang berdiri paling dekat dengannya. Seketika kepala torero itu pecah berkeping-keping hingga menjadi serpihan. Semua orang di ruangan tersebut begitu terperanjat melihatnya. Namun Bianco tidak memberi mereka waktu untuk mencerna keadaan. Pukulan kedua dia arahkan pada torero lain. Hal serupa terjadi. Torero-torero malang itu mati seketika begitu tinju Bianco mengenai kepala.


Beberapa torero mencoba melawan, tetapi tidak ada yang sebanding dengan kekuatan Bianco yang telah bangkit. Tak butuh waktu lama, lebih dari separuh torero yang ada di tempat itu sudah bergelimpangan tanpa kepala. Tak sedikit yang mencoba kabur, tetapi Bianco mengejarnya seolah tujuan hidupnya adalah membinasakan semua orang.


Manusia terakhir yang akhirnya didatangi Bianco adalah Carrian. Pria itu meringkuk ketakutan dengan tubuh bergetar. Otot-ototnya yang kekar sama sekali tidak cocok dengan pose tersebut. Bianco tentu saja tidak peduli. Dengan mata nyalang seperti hewan buas, Bianco mengayunkan tinjunya dan menghajar habis seluruh tubuh Cariian hingga hanya menyisakan cipratan darah yang memenuhi area tersebut.

__ADS_1


__ADS_2