
Seusai menghabiskan makanannya, akhirnya Bianco pun mengikuti Beatris pergi ke arena para torero. Sebuah kereta kuda berwarna hitam sudah menunggu di depan bar. Tidak banyak orang yang memiliki kereta kuda di tempat itu. Hanya keluarga Manolette dan Belmonte yang bisa bepergian mengendarai moda transportasi tersebut.
Derap langkah kuda berkelotak menyusuri jalanan Nuchas. Jalan batu yang sudah rusak itu berlubang di beberapa tempat, membuat perjalanan mereka dengan kereta kuda selalu bergoncang tidak nyaman. Bianco berusaha keras untuk tidak mual. Meski begitu kondisi Beatris tampak baik-baik saja. Nona mudanya tersebut sepertinya sudah terbiasa melalui perjalanan semacam ini.
Bianco melempar pandangannya ke luar jendela kereta kuda. Dari sana tampaklah rumah-rumah usang milik para penduduk Nuchas. Bangunan rumah itu sudah separuh rusak dan memiliki banyak retakan, seolah bisa rubuh sewaktu-waktu. Kondisi memprihatinkan juga tampak dari pakaian yang dikenakan para penduduk. Baju-baju mereka sudah usang dengan warna yang pudar dan kotor.
Kabarnya kota itu dulunya sangat makmur. Bianco membayangkan jalanan itu dipenuhi kehidupan. Bangunan-bangunan berdiri kokoh dan berkilau karena ornamen emas dan peraknya. Para penduduk tersenyum bahagia dengan pakaian-pakaian cantik yang mengeluarkan aroma yang harum. Bayangan itu melintas begitu saja di benak Bianco, tanpa bisa ia kendalikan.
“Kau melamunkan apa, Bian?” tanya Beatris yang kini menatapnya sambil bertopang dagu.
“Bukan apa-apa. Aku hanya ingin melihat-lihat,” jawab Bianco singkat.
“Kalau aku tidak terlahir sebagai putri keluarga Manolette, mungkin nasibku akan sama seperti perempuan-perempuan itu,” ucap Beatris sembari menunjuk para wanita bergaun lusuh penjual buah-buahan yang nyaris busuk.
“Mereka mungkin akan berakhir dengan memakan sendiri dagangan mereka yang sudah hampir busuk itu,” lanjut Beatris kemudian.
__ADS_1
Bianco tak menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela dengan murung.
“Meski begitu, aku tidak bisa bersyukur karena menjadi putri keluarga Manolette. Gara-gara itu aku harus menikah dengan orang pilihan ayahku. Seluruh keturunan keluarga kami dipaksa menikah dengan keturunan keluarga Belmonte. Seolah di dunia ini tidak ada orang lain yang layak untuk kami,” gumam Beatris penuh kepahitan.
Lagi-lagi Bianco tak menjawab. Carrian memang laki-laki yang kasar. Seperti umumnya orang-orang dari keluarga Belmonte, Carrian juga memiliki temperamen yang pemarah dan tidak mudah puas. Sementara itu Beatris adalah perempuan yang licik. Begitulah keluarganya mengajari Beatris. Dua pasangan itu sebenarnya cocok satu sama lain. Akan tetapi Bianco tetap merasa ingin memiliki Beatris sekalipun ia tahu, yang dilakukan perempuan itu hanyalah memanfaatkannya.
“Apa yang harus kita lakukan saat memasuki arena? Apa aku harus menggandengmu? Aku ingin kita berpelukan saat Carrian sedang bertarung. Dia harus melihat kita bermesraan. Mungkin terlalu berlebihan kalau kita berciuman,” lanjut Beatris dengan rencana-rencanya liciknya.
Bianco menarik napas panjang. “Lakukan sewajarnya saja. Kurasa kehadiranku di tempat itu sudah cukup memicu kemarahan Carrian. Kita tidak perlu berbuat apa-apa,” usulnya kemudian.
Selain karena pemuda itu memiliki wajah yang rupawan, juga karena Bianco selalu menuruti keinginannya tanpa banyak protes. Laki-laki lain yang bersamanya selalu banyak bicara. Apalagi Carrian. Suaminya itu punya ego yang lebih besar daripada badannya. Beatris harus memberinya pelajaran kali ini.
Akhirnya, perjalanan mereka pun sampai di tujuan. Sebuah arena besar dengan kubah yang sudah separuh hancur menyambut kedatangan kereta kuda Beatris. Bianco turun terlebih dulu, lantas mengulurkan tangannya untuk membantu nona mudanya menapaki tangga kereta kuda. Orang-orang yang melihat kedatangan mereka segera berkerumun dan menatap dengan penuh rasa ingin tahu.
Bukan rahasia umum lagi bila nona muda keluarga Manolette itu memang memiliki banyak pria dalam hidupnya. Akan tetapi yang paling terkenal adalah Bianco, sang manager Bar DelMonte yang tersohor. Hal itu tak lain karena Beatris memang paling menganakemaskan Bianco, bahkan memberinya jabatan penting di salah satu bar milik keluarganya.
__ADS_1
Kebanyakan penonton yang merupakan para pendukung Carrian menatap Bianco dengan penuh kebencian. Bianco menyadari bahwa posisinya sudah pasti akan membuat suasana pertandingan hari itu tidak nyaman. Namun memang itulah tujuan Beatris.
Mereka pun berjalan memasuki arena. Gegap gempita sorak-sorai para penonton menyambut di dalam stadion. Tribun setinggi sepuluh meter berjajar memutari arena. Di tengah stadion, arena beralaskan tanah kering membentang luas. Debu-debu beterbangan karena angin dan gerakan torero yang tengah melawan banteng besar berwarna gelap. Banteng tersebut terlihat sangar dengan satu tanduknya yang sudah patah. Bekas-bekas luka tertoreh di tubuh banteng itu dan jelas, sang banteng sudah melalui banyak pertarungan mematikan.
Beatris mendapat tempat duduk di tribun utama. Seorang pekerja sadion tersebut mengantar rombongan mereka menuju tempat duduk terbaik dengan kursi sofa empuk yang memang disediakan bagi penonton VIP. Bianco berdiri di belakang Beatris seperti selayaknya pengawal. Namun Beatris menariknya duduk di sebelahnya.
“Ini tidak sopan, Nona. Saya tidak bisa duduk bersama Anda,” gumam Bianco mencoba menolak Beatris.
“Ini perintah, Bianco. Kemarilah,” ucap Beatris tegas.
Bianco tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah nona mudanya. Ia pun duduk di sebelah Beatris sambil melihat pertandingan di bawah sana. Seorang torero berbadan kekar tengah melawan banteng yang terlihat sangar. Bianco mengenali torero tersebut. Itu adalah Carrian. Pemuda itu tampaknya belum menyadari kedatangan istrinya dan masih fokus melawan banteng. Saat ini keduanya tengah bertatapan dengan intens, bersiap menyerang setelah mendapat momen yang tepat.
Beberapa saat kemudian, banteng itu mulai mendengus. Angin kuat menghempas tanah di bawah hidung sang banteng. Salah satu kaki depannya mengais-ngais tanah, bersiap untuk menerjang musuhnya. Carrian di sisi lain, sudah bersiap dengan kuda-kuda yang mantap. Beberapa detik berselang, akhirnya sang banteng benar-benar berlari ke arah Carrian dengan brutal. Pemuda tersbut sudah bersiap akan serangan itu dan segera menghindar di saat yang tepat.
Carrian menangkap tanduk banteng itu saat menghindar lalu menariknya dan memeluk leher banteng tersebut. Dengan hentakan kuat, Carrian melompat ke atas punggung banteng yang menggila tersebut. Banteng itu menghentak-hentak kuat, tetapi Carrian tetap mempertahankan posisinya yang duduk di atas banteng. Pemuda itu mengangkat satu kepalan tangannya dan bersorak penuh kemenangan. Saat itulah Carrian melihat istrinya yang duduk bersama pria lain di tribun utama.
__ADS_1
Serta merta tumpuan Carrian goyah. Ia terlempar dari punggung sang banteng. Tubuhnya terlontar begitu tinggi dan jauh hingga akhirnya berdebam jatuh mencium tanah. Banteng yang marah itu segera memanfaatkan situasi tersebut. Ia kembali menerjang kea rah Carrian yang sedang lengah.