Siluet

Siluet
1.1 Setiap Seperempat Ketukan Acak: Raya, Anjeli, Aku, dan Biola


__ADS_3

AKU


“Kamu bisa ceritakan satu saja kisah cinta? buatku, sekarang!”


Aku menoleh mendapati wajahnya di depanku. Siapa dia? Aku tidak pasti. Tapi aku cukup tersanjung atas sapaannya tadi. Sebab di tempat seperti ini, siapa yang ingat untuk menyapa?


Aku berada di sebuah tempat, mirip kantor. Mungkin juga bukan kantor tapi gudang uang, mungkin juga bukan gudang uang tapi kuburan. Entahlah, sering aku merasa tempat ini bukan apa-apa. Sebab di sini tidak ada yang kulakukan kecuali duduk di balik meja, memandangi tumpukan berkas yang entah kenapa selalu ada. Berkas-berkas itu selalu menumpuk dan mengubur pandanganku dari meja-meja lain, juga dari siapapun yang lewat.


Di tempat ini tidak ada yang saling menyapa, setiap harinya hanya kudengar suara sepatu beradu dengan lantai, kadang kulihat selintas pemiliknya. Ada yang berkemeja, mengenakan jas, dasi, blazer, rok mini, celana pipa, atau apalagi?


Di sini tidak ada ruang untuk dimengerti, tidak ada massa tempat bertanya. Semua bergerak, kadang terlalu cepat sampai aku tidak bisa mengikutinya. Maka aku hanya diam. Diam dan berharap bisa melewatinya. Sampai dia menyapaku. Dengan suaranya yang lembut, dan membangkitkan memori-memori lama yang tersimpan di ruang-ruang perasaan.

__ADS_1


Aku mengangkat wajah, saat itu lamat-lamat aku mendengar biola mengalun pelan, entah dari mana. Suara itu begitu menyayat, mungkin orang yang memainkannya sedang memikirkan kesedihan. Ah, ingin aku mengajaknya ke sini untuk bermain di depanku sekaligus berbagi kesedihan yang mungkin sedang dia genggam.


Tapi yang ada di depanku hanya orang ini, maka aku menggeser kursiku ke samping. Ternyata dia sudah mendapatkan kursi entah dari mana dan segera duduk di sebelahku. Lalu hampir bersamaan kami berputar menatap dinding kaca yang tadi kupunggungi.


Aku baru ingat kalau aku ada di lantai lima belas. Dan sekarang di luar sana sedang hujan. Aku memandangi garis-garis hujan itu bersamanya. Kami lama terdiam, mungkin dia menunggu aku bicara sementara aku tidak pernah bisa bicara bila sedang memandangi hujan.


“Tolong ceritakan sebuah cerita tentang cinta!”


Dia mengangkat bahu, “Tidak tahu, aku cuma sedang ingin dengar cerita tentang itu.”


“Tidak ada alasan lain? Soal kenangan, mungkin? Apakah cerita macam itu berarti suatu buatmu?”

__ADS_1


“Tidak ada, aku juga sedang ingin bicara tentang itu. Kenapa semua manusia seolah harus punya alasan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu?”


Aku malas menjawab, lagipula aku yakin dia tidak butuh jawaban. Aku kembali mengingat permintaannya. Cerita cinta? Aku berusaha membongkar ingatanku. Cerita cinta? Ini lebih sulit dari yang diduga. Begitu banyak cerita cinta yang ada, yang kuingat, yang kuhapal, aku harus mulai dari mana?


Lamat-lamat suara biola itu masih terasa, tapi kini berganti irama. Masih tentang kesedihan tapi lebih menyayat. Ah, apakah ada kesedihan lain yang sedang dia pikirkan?


Aku bertanya lagi, “Kamu betul-betul ingin dengar cerita tentang itu?”


“Ya, saat ini tidak ada hal lain yang ingin kudengar!” Suaranya tegas.


Aku menarik nafas, bahkan siapa dia pun aku belum tahu. Aku masih berusaha mengingat-ingat sosok orang di sebelahku, dan berpikir bisa mengingatnya sambil bercerita, maka mulailah aku bercerita, “Baiklah, kamu tahu dulu aku pernah kenal dua nama….”

__ADS_1


__ADS_2