
AKU
Hujan masih turun di balik kaca. Gedung-gedung kuyup dan lampu jalanan menyala malas di tengah kabut. Kota masih ramai, kadang aku merasa ini kota yang aneh. Sebab makin malam suasana malah makin ramai.
Dari posisi dudukku aku bisa melihat jalan raya di bawah sana. Rupanya gedung ini terlalu tinggi untuk mengamati para pejalan kaki. Tapi aku yakin mereka yang di bawah sana sebagian berpayung, atau berjas hujan. Sementara sebagian berlarian atau berteduh.
Sementara wanita di sampingku masih termenung. Mungkin ada satu sisi dari ceritaku yang mempengaruhinya, atau bahkan tidak sama sekali. Tapi aku seharusnya tidak peduli, sebab bukankah tugasku hanya bercerita? Aku jarang menemukan orang yang mau bercerita padaku, semua orang di kota ini bergerak sungguh cepat, dengan setelan macam-macam, dengan kepentingan macam-macam, dengan irama macam-macam. Tapi dengan nafas yang sama. Nafas uang. Nafas kekuasaan. Nafas birahi. Nafas mati.
Maka itu aku tidak tahu persis perasaan wanita ini. Mungkin dia juga merasa aneh mendengar ada seseorang yang bercerita. Apa lagi yang bisa kulakukan sekarang?
Memang di mejaku tumpukan berkas-berkas sudah makin tinggi. Bahkan sekarang seluruh mejaku sudah penuh dengan tumpukan berkas yang tinggi, kukira tidak ada yang bisa memandang kami berdua dari balik meja, kecuali kalau orang itu memutar ke belakang meja.
Maka itu kami tidak merasa terganggu. Toh sampai saat ini tidak ada yang menegur kami karena kami hanya memandangi hujan dan langit dari balik dinding kaca dan bukannya kerja. Aku pandangi dia, dia pun menoleh
“Ada apa?”
“Tidak apa-apa. Aku cuma berpikir, kenapa sekarang kita hanya duduk diam-diam sementara orang lain bekerja?”
“Kamu bertanya padaku?”
“Ya.”
__ADS_1
“Apa aku perlu menjawab?”
Aku terdiam sejenak, bingung juga menjawabnya
“Ya, terserahmulah!”
“Apa jawabanku punya arti penting buat kamu?”
Aku kembali terdiam, memang dia mau menjawab atau tidak itu terserah dia dan tidak ada pengaruhnya padaku. Lantas kudengar dia seperti bergumam
“Kenapa di dunia ini banyak pertanyaan?”
Aku menoleh “Ngg, kamu bertanya padaku?”
“Apa jawabanku punya arti penting buat kamu?”
“Mungkin!”
Nah lho! Sekarang aku harus menjawabnya sementara aku sendiri masih memiliki banyak pertanyaan untuknya. Lagipula ceritaku belum selesai dan sepertinya wanita ini masih akan mendengarkan dengan setia.
Sementara sayup-sayup kudengar suara Norah Jones membawakan nada-nada akhir “Come Away With Me.” aku tahu lagu ini panjangnya 3 menit 18 detik, lalu disusul “Don’t Know Why.” yang panjangnya 3 menit 6 detik. Entah dari mana suara itu berasal. Mungkin dari komputer seorang teman, mungkin dari balik dinding ruang sebelah, mungkin juga dari dalam hati.
__ADS_1
Suara itu datang begitu saja. Membuatku merasa romantis. Tentu sebelum wanita ini bicara padaku
“Kamu dengar lagu ini?”
Aku mengangguk “Iya, memangnya kenapa?”
“Kamu suka?”
“Suka, kamu?”
“Lumayan, tapi aku lebih berpikir tentang judulnya.”
“Kenapa dengan judulnya?” aku penasaran, kadang aku penasaran juga dengan apa yang dipikirkan wanita ini.
“Pertanyaan apa yang dijawab Norah Jones dengan judul itu?”
“Mungkin tentang cinta?”
“Mungkin saja, aku sendiri tidak hapal syairnya.”
Dia menyeruput kopi yang entah kapan dia buat, asap keluar dari gelas itu. Melayang sejenak sebelum lenyap. Aku memandangi asap, seperti memandangi sebuah pertanyaan.
__ADS_1
“Kamu mau terus cerita nggak?”
Aku mengangguk