Siluet

Siluet
1.6 Setiap Seperempat Ketukan Acak: Raya, Anjeli, Aku, dan Biola


__ADS_3

BIOLA


Bagi mereka yang tidak mengerti biola, mungkin hanya mengangkat bahu bila ditanya apa itu biola. Padahal sebuah biola adalah karya yang menurutku paling hebat. Bayangkan saja, kalau dipecah biola terdiri dari tujuh puluh potong, kesemuanya terletak di antara rangka dan potongan pelengkap.


Bagian utamanya adalah: kotak rersonansi dan stang.


Potongan pelengkapnya adalah: jembatan, kaliber, pengencang, penopang dawai, dagu dan dawai-dawai. Kecuali yang disebutkan, beberapa potong terakhir ini, yang lainnya semua terbuat dari kayu cemara, mapel, kayu hitam, mawar hutan, pir, dan linden. Bukan kayu biasa yang sering kau mainkan di samping rumah. Kayu-kayu itu dipilih. Ditekuk-tekuk, diketuk-ketuk, didengarkan vibrasinya sebelum dibentuk.


Mungkin sejak pemilihan bahan puin sudah sedemikian teliti, sebab bicara biola berarti bicara standar tertinggi, demikian juga bahan baku dan cara pembuatan. Biola pun tidak pernah terlalu sederhana. Seakan-akan harus ada sesuatu yang spesial dari bentuk dan suaranya.


Coba kita buka kotak resonansi, kita akan lihat kotak ini disusun dari dua penutup: yang atas atau tutup harmoni dari kayu pir dan yang dalam bawah dari mapel. Digabungkan antara keduanya dengan rusuk-rusuk juga dari kayu mapel. Pada tutup atas dibuat lubang resonansi berbentuk F yang merupakan salah satu dari karakteristik membantu untuk mengenal kembali gaya para maestro besar.


Lihatlah, bahkan ada jejak para  maestro di sana.


Kadang aku yang bertanya-tanya sendiri, apakah para maestro itu yang ingin terus dikenali? Atau para pengagumnya saja yang memilih untuk mengenang para maestro itu dengan cara demikian?


Mungkin keduanya benar, mungkin juga tidak.


Lalu akan kita lihat juga pada jarak beberapa milimeter dari pinggiran kedua penutup tersebut, disisipkan batang pipih dengan jumlah tiga buah yang berguna untuk menguatkan pinggiran tersebut. Pada sisi dalam tutup harmoni di sebelah kiri arah memanjang terdapat batang harmoni atau gelang, sebilah kayu panjang yang berfungsi untuk menopang penutup dan meratakan getaran.


Ah, penopang… menarik untukku bila melihat penopang ini.


Bahkan alat musik seteliti biola pun masih memerlukan penopang-penopang dalam rancanganya. Seberapa jauh penopang itu diperlukan? Dan kadang aku bertanya, bagi kita yang jelas adalah karya tersempurna yang pernah ada, siapakah penopang itu? Seorang wanita? Atau seorang lelaki?

__ADS_1


ANJELI


Dia tidak pernah merasa membutuhkan lelaki. Setidaknya tidak terlalu membutuhkan. Sebab dari semula dia hanya mengenal ibunya. Jadi apa artinya dunia tanpa lelaki?


Tidak ada bayi-bayi yang akan lahir?


Tidak juga


Dia sudah menonton film Jurrasic Park, seri ke berapa dia juga tidak ingat (Kenapa manusia direpotkan oleh sekuel? Beberapa malah terkesan dipaksakan!). Di film itu bukankah semua dinosaurus di taman adalah betina? Tapi akhirnya mereka bisa juga bertelur sebab ada beberapa dinosaurus yang bermutasi jadi jantan.


Pernah pikiran itu diungkapkan kepada temannya, dan dia didebat habis-habisan.


“Sebab mereka tetap butuh jantan, karena itu ada dinosaurus yang bermutasi!” temannya setengah berteriak. Dina, sambil mengibaskan rambutnya yang sebahu. Melotot. Hidungnya yang memang selalu merah kelihatan lebih merah. Ada butir-butir keringat di sana.


Tapi matanya sekilas masih melirik Dina. Lalu menggeleng pelan.


“Mereka itu betina, asalnya mereka betina. Mereka bermutasi jadi jantan tapi asalnya mereka betina.”


Dina berkerut. Dia memang bukan tipikal orang yang bisa berdebat, biasanya bila menemukan orang yang tidak sependapat, dia cenderung menghindar lalu besoknya baru menemukan sanggahan. Kini dia berhadapan dengan teman sebangkunya yang selalu bicara dengan ramah pada semua orang, tapi tiba-tiba jadi paranoid pada laki-laki.


Dia bilang dunia tidak perlu laki-laki!


AKU

__ADS_1


Aku menoleh ke arahnya. Dia sedang duduk dan memandangi dinding kaca, atau dia memandangi hujan juga?


Sejenak aku berpikir tentang dia. Siapa dia? Aku seperti mengenalnya tapi aku lupa lagi. Dia wanita. Tidak terlalu tinggi. Kerudung jingga pucat. Mata hitam. Tajam. Kulit kuning. Lesung pipit dalam di pipi kiri.


Aku mungkin mengenalnya, mungkin nanti aku juga akan ingat. Aku janji kalau aku ingat nanti aku ceritakan bagaimana kita berkenalan. Tapi kini aku harus bercerita sambil berusaha menggali ingatan.


Itulah yang jadi masalah. Terlalu banyak yang harus kulewati dalam hidup yang memang berlangsung cepat. Dan karena terlalu cepat kita bisa lupa-lupa ingat pada nama seseorang. Tapi kita akan lebih mudah mengingat wajahnya.


Dan aku masih ingin bercerita, dia pun sepertinya masih ingin mendengarkan.


Kami duduk berdampingan memandangi hujan yang belum juga reda. Andaikan aku bisa menghitung jumlah butiran yang jatuh, mungkin waktuku tidak pernah terbuang sia-sia. Bila sedang tak ada kerjaan dan hujan, daripada termenung sendirian aku bisa iseng menghitung butirannya yang lewat di depan mata.


Kini kulihat awan kelabu yang berarak. Perlahan kucari matahari. Tapi tentu saja matahari tidak ada. Jangankan saat hujan seperti ini, bahkan saat cuaca biasa pun, di kota yang penuh gedung tinggi seperti ini sangat sulit melihat matahari. Yang terlihat dari sebuah matahari hanyalaha kelebat sinarnya, dan gedung-gedung pun jadi seperti bergeser karenanya.


Kini aku sudah terbiasa hanya memandangi cahaya yang berkelebat itu. Mungkin seluruh penghuni kota ini pun sudah terbiasa, maka aku yang seorang pendatang pun harus mulai membiasakan diri.


Aku berasal dari sebuah kota yang setiap harinya turun hujan. Maka aku jadi sangat merindukan hujan. Di kota itu memang matahari tidak selalu terlihat penuh, tapi itu bukan karena terhalang gedung, tapi terhalang pepohonan dan puncak bukit.


Di sana banyak orang yang selalu pergi dan datang, tapi siapapun yang pernah singgah di sana pasti akan selalu merindukan tetesan hujannya. Selalu ada yang memiliki kenangan atasnya.


Aku jadi ingat pernah kenal seorang wanita yang menceritakan masa lalunya yang dengan mudah dia kenang saat hujan turun. Tapi aku hanya ingat dia wanita, wanita yang mana? Apakah yang sedang duduk denganku sekarang?


Bisa jadi, tapi kenapa sejak tadi dia tidak bicara apa-apa? Padahal kita memandang hujan yang sama.

__ADS_1


__ADS_2