Siluet

Siluet
5.3 Pada Satu Hari Mereka Bicara Tentang Cinta yang Temaram


__ADS_3

BIOLA


Sekali-kali aku ingin bicara tentang kebohongan. Sungguh di dunia musik tidak mungkin ada kebohongan. Sebab semua emosi dan perasaan tersalur lewat nada, dan dari nada tidak ada hati yang bisa disembunyikan.


Silahkan tanya pada Fabrice “Fab” Moran. Semalam aku lihat dia di televisi, dan kukira kini dia bernyanyi dengan baik sekali. Bahkan diakui beberapa jurnalis, vokalnya melebihi Usher dan Marvin Gaye.


Kalau aku lain, tadi malam aku melihat sesuatu yang luar biasa, sesuatu dari seseorang yang mampu bertahan di dunia musik walaupun kesalahannya sulit dilupakan orang


Ya, Fab tidak mungkin melupakan pengalaman pahitnya sendiri. Awalnya dia bersama Rob Pilatus tergabung dalam Milli Vanili. Mereka menguasai musik dance pop ala Eropa di akhir 80-an. Memiliki lima single hits, dan tahun 1990 meraih Grammy sebagai pendatang baru terbaik.


Tapi menjelang album berikutnya, Fab dan Rob terlibat perseteruan dengan produsernya. Dan pernyataan dari produsernya yang membuka aibnya sendiri menjadikan mereka sebagai ikon dari skandal musik terbesar dunia di akhir abad 21.


Pernyataan apa? Ternyata Milli Vanili selama ini hanya melakukan lyp-sinc! mereka tidak menyanyikan semua lagunya. Mereka bukan penyanyi, mereka hanya dua orang model dengan kemampuan dance yang luar biasa.


Puncaknya, dalam konferensi pers yang dilakukan untuk mengakui skandal ini, pers meminta mereka untuk bernyanyi. Dan kenyataan itu benar, mereka tidak bisa bernyanyi dengan baik.


Maka karir Milli Vanili hancur. Mereka juga harus mengembalikan Grammy yang mereka terima. Arista Record bahkan mencoret album dengan penjualan terbesar saat itu dari katalognya. Dan yang membuat aku berpikir tentang penyebab perseteruan mereka, ternyata  adalah keinginan Fab untuk menyanyikan sendiri lagu-lagu mereka di album kedua.


Sebuah keinginan yang masuk akal menurut aku. karena siapapun tidak akan tahan menjalani peran yang membohongi kata hati seperti itu.


Setelah skandal terungkap, praktis tidak ada kesempatan untuk “pembohong besar dunia musik” ini untuk kembali. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Fab saat itu, tapi sepertinya dia tidak menyerah. Sebab setahun kemudian dia membentuk The Real Milli Vanili dimana dia benar-benar bernyanyi.

__ADS_1


Album yang mereka buat—tentu saja—flopped.


Lalu pada tahun 1993, Milli Vanili mengubah image menjadi Rob and Fab. Keduanya kini benar-benar bernyanyi dan mencoba kembali. Tetapi tidak ada kesempatan. album yang mereka rilis hanya laku 2000 kopi saja. sangat jauh dari album Milli Vanili palsu yang terjual 30 juta kopi diseluruh dunia.


Rob Pilatus tidak bisa menahan perubahan drastis, dari seorang yang sangat sukses dan besar menjadi cemoohan dimana-mana. Dia melakukan dua kali percobaan bunuh diri. salah satunya dengan memotong nadinya, lalu memanggil polisi dan pers. Dia selamat. Namun trauma terus menghantui. hingga akhirnya pada tahun 1998, Rob ditemukan tewas akibat overdosis di sebuah hotel di Frankfurt.


Fab, di sisi lain tidak menyerah untuk mengambil karirnya kembali. Dia memulai solo karir dan mendapat tanggapan cukup baik. Dengan wajah dan penampilan baru, dia kembali dari awal. Tapi baginya, dia tidak pernah benar-benar mengulang.


Pada wawancaranya tadi malam dia berkata, “I can't say that this was a return to music for me, because I never really left,”


Dan di akhir interview, Fab memberikan aku inspirasi tentang bagaimana menjalani hidup seperti ini. sesuatu yang terbalik dengan yang dilakukan Rob.


“How I handle this in positives way, it's a sweet revenge.”


“Baiklah, aku pergi. Tapi rasanya kok berat ya?”


“Boleh aku tahu Raya? Apa yang membuatmu berat untuk pergi?”


Dia bertanya, dan tidak ada yang tahu kalau pertanyaan itu sekarang menjadi sangat berat. Raya seperti dipaksa menyelam ke dalam hati sendiri. Dan itu tidak mudah. Sebab berapa kali sehari sih kita mencari tahu alasan-alasan dalam hidup? Seperti kenapa kamu harus makan jam delapan tepat dan bukannya jam delapan lebih sepuluh menit? Kenapa kamu sekolah di A dan bukannya di B? kenapa kamu memilih X sebagai istrimu dan bukan Y?


Anjeli merasa ada jeda yang tak wajar dalam pembicaraan mereka.

__ADS_1


“Raya? Apa pertanyaanku menganggu?”


“Nggak juga” Raya tersenyum, “tapi memang sulit cari jawabannya.”


“Kenapa?”


“Apalagi kalau ditambah pertanyaan ‘kenapa’ seperti itu!”


“Sorry, kalau begitu aku ke dapur lagi ya?”


Raya diam. Sementara Anjeli segera berdiri. Tidak ada yang bisa membaca hatinya yang sesungguhnya ikut gelisah. Pernahkah kita mempertanyakan suatu kegelisahan yang tiba-tiba datang? Pernahkah kita mempertanyakan alasan kenapa tiba-tiba saja kita sedih dan ingin menangis di pelukan ibu?


Juga tidak ada yang bisa membaca hati Raya yang teringat rumahnya. Ibunya yang sudah tua. Opa. Biolanya. Nada-nada yang sering diklaim sebagai kekasihnya. Dentingan dawai. Gesekan busur. Jutaan memori lain.


Kenapa aku merasa seperti akan mati?


Sementara matahari sudah tenggelam seluruhnya. Lampu kota sudah menyala. Dari sudutnya dia bisa melihat perempatan yang mulai lengang. Jam-jam ini memang manusia sedang di rumah, tapi sebentar lagi mereka pasti keluar. Ada sepasang burung malam bertengger di kabel listrik. Sepertinya mereka kemalaman. Atau memang sarangnya sekitar tempat itu?


Tiba-tiba burung yang satu terbang sementara yang satunya lagi tetap bertengger dengan diam. Tidakkah dia akan merasa kehilangan? Kapan pasangannya kembali?


Saat itu Anjeli sudah hendak berbalik dan detik juga itu Raya memanggilnya

__ADS_1


“Anjeli! ini semua karena kamu cantik!”


__ADS_2