Siluet

Siluet
2.3 Di Kota yang Tak Pernah Ada


__ADS_3

BIOLA


Biola adalah salah satu dari sedikit alat musik yang bisa masuk dengan sempurna ke setiap aliran musik. Dari mulai Pop, Rock, Blues, Jazz, Swing, Dandut, Ska, apa lagi? Bawalah seratus aliran musik dan aku akan masukkan biola ke seratus aliran itu.


Menurut salah satu temanku Ramadhania Aladin, (Aku biasa memanggilnya Nia) Kuncinya hanya satu.


“Memainkan biola itu, yang penting cara masuknya tepat, sehingga kehadirannya tidak merusak lagu yang sudah ada. Ini tergantung kepandaian kita.”


Hmm, jadi semuanya kembali kepada pemainnya bukan?


Tapi kalau Nia aku percaya, dia salah satu violis muda berbakat yang kukenal sejak aku masuk ke kota ini. Dia berasal dari keluarga pemusik, bahkan neneknya—aku kangen masakan neneknya, terutama pie apelnya—adalah seorang pianis terkenal pada jamannya.


Aku ingat di malam-malam tertentu kadang aku duduk di sebuah gedung pertunjukan, atau memandangi layar TV yang suaranya menggelegar. Aku lihat Nia sedang bermain biola. Seperti dinikmatinya setiap gesekan dan diikutinya setiap irama.


Dan aku sering menyaksikan dia bermain biola tidak dengan irama klasik saja. Aku pernah lihat dia bermain dengan Ari Lasso dalam lagu “Misteri Ilahi”, aku pernah lihat dia main dengan Caffeine di lagu “Bidadari” dan lagu “Yang Tak Pernah Mati.”, lalu dengan Pas Band dia ikut andil pada lagu “Tak Pernah Ada”, termasuk juga dengan kelompok Padi dan Aryo dalam lagu “Detik Ketujuh.”


Lain waktu aku pernah juga melihat dia bersama Aa Gym memainkan lagu-lagu religius Islami, dan pernah juga aku lihat dia bermain musik ciptaan Kenny G di sebuah ballroom hotel.


Tentu bukan selalu Nia yang jadi pandanganku, tapi juga biolanya.


Seperti kini saat aku sedang memandangi langit, kudengar suara biola di telinga. Aduh, biola ini sudah dari tadi terus bergaung. Ingin kututup telingaku tapi aku sendiri menikmatinya, walau aku sendiri tidak tahu siapa orang yang memainkannya


Dari permainannya saja aku bisa mengakui betapa biola bisa dengan indah membawakan lagu-lagu yang berbeda. Tadi dia sempat memainkan lagu “My December.” nya Linking Park, lalu berlanjut ke “This I Promise You.” dari N’Sync. Kini dia memainkan ciptaan Alanis Morisette, kalau tidak salah judulnya “Unsent.”


Aku hafal baris-baris lagu ini. Kukira Alanis membuatnya dari surat-surat betulan yang tidak sempat dia kirim, mungkin pada temannya, mungkin pada pacarnya. Habis ada nama beberapa lelaki, dan dari syair-syairnya seperti menggambarkan semua lelaki itu pernah memiliki sesuatu yang istimewa dari dan untuk Alanis


Pada Matthew dia bilang “I like you a lot.” Pada Jonathan dia bilang “I like you too much.” Pada Terrance dia bilang “I love you muchly.” Pada Marcus dia bilang “You rocked my world.” Pada Lou dia bilang “We learned so much.”

__ADS_1


Ada lima nama yang kuyakin kelima-limanya pasti berbeda sifat. Tapi cinta bisa dengan mudah menyentuh mereka bukan?


Ah, apakah biola itu seperti cinta? Bisa mampir ke aliran hati yang bentuknya seperti apapun juga? Mungkin juga, soalnya baik cinta atau biola sama-sama kreatif sih, sama-sama  enak dijamah sekaligus licin dan bisa dimainkan kapan saja.


Aku memejamkan mata, biola itu masih beralun, masih dengan lagu “Unsent”. Sementara aku menikmatinya dengan kesendirian. Aku jadi ingat pada seseorang di kota hujan, sambil terus terpejam aku membayangkan wajahnya.


Apa yang harus aku tulis untuknya sementara biola ini masih mengalun?


Eh… apakah ini bukan sebuah cinta yang mengalun?


MEREKA


Malam lalu benar-benar turun di kota yang sekilas selalu tanpa senyuman. Malam itu turun diantara riuh jalanan, lampu-lampu gemerlap atau temaram, di antara para penumpang bis kota yang berpandangan (tanpa senyuman). Dengan wajah-wajah berkeringat, lelah, bau dan wangi bertebaran di antara mereka. Orang-orang bertemu dan berpisah tanpa perjanjian. Malam juga sudah turun di sebuah meja.


“Jadi kamu bisa main biola?”


“Ngg, tapi boleh kan kalau kapan-kapan aku lihat kamu main?”


“Caranya?”


“Susah amat! Kamu main di sini saja, nanti aku siapkan waktunya.”


Raya hanya mengangkat bahu. Tersenyum, menghirup kopi susunya dan memandang ke panggung. Sebenarnya dia ingin sendiri malam ini, tapi dia juga tidak bisa mengusir gadis yang ada di depannya.


Dari percakapan tadi, Raya sudah tahu kalau Anjeli anak pemilik tempat ini. Maka itu dia pikir Anjeli tidak bisa diusir dari hadapannya. Malah mungkin harusnya Anjeli yang mengusirnya.


Tapi Raya merasa tidak melakukan apa-apa. Jadi dia duduk saja, memperhatikan panggung, menikmati tiap irama. Memperhatikan meja, menikmati tiap tegukan dan kunyahan. Sampai Anjeli memecah lamunan

__ADS_1


“Eh, jadi kapan kamu bisa mulai main?”


“Ini serius?”


“Ya, cuma kalau kamu mau, keberatan nggak sih?”


Raya tersenyum. Bertahun-tahun dia belajar biola sebenarnya hanya untuk


mengisi waktu kosong. Tidak pernah terpikir olehnya untuk tampil di sebuah


panggung sekecil apapun. Tapi tawaran Anjeli tidak serta merta membuatnya


bahagia, ada pertimbangan yang membuatnya agak lambat berpikir. Tapi tak urung


dianggukkan juga kepalanya


“Aku sih nggak keberatan.”


“Jadi minggu depan ya?”


Raya tersenyum lagi “Kita lihat ya, nanti aku kasih tahu kamu lagi deh sebelum minggu depan.”


“OK, Deal!” Anjeli tersenyum puas “cari saja aku disini, aku ada disini tiap malam.”


Raya tersenyum lagi. Berpikir. Kalau gadis di depannya tiap malam ada di sini, maka aku sendiri tiap malam ada di mana? Entalah, pertanyaan itu mendadak saja terselip dan muncul.


Pertemuan-pertemuan, selalu saja meninggalkan pertanyaan misterius.

__ADS_1


Apakah pertanyaan yang misterius butuh jawaban juga?


__ADS_2