
MEREKA
Di Café yang temaram, keempat pemain biola itu sedang istirahat dan panggung kosong. Hanya suara instrumen dari CD mengambil alih. Seluruh meja di café terisi oleh pasangan-pasangan muda dan setengah baya. Pelayan hilir mudik mengantarkan pesanan.
Di sebuah meja, agak tersembunyi karena ada di sudut, sepasang kekasih saling meremas tangan. Ada cincin melingkar di jari mereka. Cincin pernikahan. Raya dan Anjeli melihat itu dan bertukar senyum
“Mereka sudah menikah ya?” tanya Raya
“Yup, Dimas dan Santi, mereka pengantin baru. Kalau tidak salah mereka nikah dua bulan yang lalu.”
“Kamu kok tahu?”
“Mereka pelanggan café ini kok, mereka sering ke sini.”
Raya mengangguk-angguk diam. Menikmati alunan lagu Norah Jones yang sedang menyanyikan “Nightingale”, dia ingat pernah mencoba membawakan lagu ini dengan biolanya dan… menurutnya tidak terlalu memalukan. Dia menoleh ke arah Anjeli
“Kamu mau semalaman di sini?”
“Aku mengganggu ya?”
“Nggak, sama sekali nggak!”
“Ya sudah, kalau aku nggak mengganggu, aku lagi malas kerja, lagian ibuku juga nggak bakal marah kok.”
“Hmm…”
Kenapa?”
“Kalau ada yang lihat kita, pasti disangkanya kita sudah lama kenal ya?”
Anjeli terbahak kecil “Iya sih, tapi aku memang begini kok, aku bisa gampang tahu siapa yang enak diajak berteman, siapa yang tidak.”
“Kamu orangnya supel sih!”
“Oh ya, thanks! Kamu orang ke dua ratus yang ngomong begitu.”
Mereka tertawa lagi.
Sementara malam masih bergerak seperti lagu yang tidak pernah selesai, di luar kehidupan makin berwarna. Seperti neon-neon yang ada di dinding-dinding gedung, di dinding hotel, bar, diskotik. Neon yang membuat siapapun tertarik untuk memasukinya.
Ah, kenapa juga hanya bangunan-bangunan itu yang diberi neon berwarna? Sedangkan banyak bangunan lain yang sepi tanpa pengunjung padahal seharusnya ramai dikunjungi. Mungkin karena tidak ada neon berwarna di dindingnya.
Raya menatap jalan di luar dan mendapati kehidupan malam. Dia merasa kekasihnya masih hilang, maka dia belum mau beranjak dari tempat ini. Malah Raya berpikir untuk menghabiskan malam disini. Tadi Anjeli bilang café ini tutup tepat dua jam sebelum tengah malam
Tapi bagaimana kalau malam tidak berakhir? Dan waktu berhenti? Bukankah itu artinya café ini tidak akan tutup selamanya? Lalu berapa cangkir kopi susu yang harus dia pesan? Berapa piring makanan yang harus dia bayar? Sebab malam seakan bergerak seperti lagu yang tidak akan selesai.
Yah, mungkin begitu juga perasaan mereka yang ada di luar sana. Mereka pun mempertanyakan malam. Ada yang berharap malam cepat berlalu ada yang berharap pagi tidak akan tiba. Kadang Raya ingin bertanya pada semua orang di luar, di jalan, di trotoar, di gedung-gedung tinggi
“Apa yang mereka lakukan bila malam tiba?”
__ADS_1
Tapi sesering dia menginginkan itu, sesering itu juga dia mendapati malam terjaring sepi. Seramai apapun jalanan saat malam, akan ada saatnya sepi itu datang. Dan ketika sepi sudah datang, maka semua orang tertidur dan terjaga hanya untuk menjaga malam.
Para gelandangan yang tidur di trotoar berdempetan sambil bermimpi tentang kasur empuk juga makanan panas tentunya. Mereka berharap malam tidak usah pergi supaya mereka bisa terus tidur dan melupakan lapar.
Para pencari Tuhan di tengah malam sampai sepertiga malam tentu ingin malam tidak segera pergi karena mereka masih ingin bicara pada Tuhan dalam kesendirian dan keheningan. Betapa mereka rindu kematian pada saat sedang mencari itu.
Para hostes yang lebih sering mendekap dingin sambil bertanya-tanya sedang apa ayah ibunya di kampung saat ini, tentu berharap malam tidak ingin berlalu sebab masih belum cukup uang terkumpul untuk sewa rumah, makan dan beli pulsa HP. Juga mereka yang punya anak masih harus mengingat makan apa anaknya besok bila dia tidak bisa menjual tubuhnya malam ini.
Para koruptor yang sedang tidur di rumahnya yang kelima, setelah lelah duduk di jok belakang BMW nya yang ke delapan bermimpi sambil berselimut wol tebal buatan Eropa, berharap malam kalau perlu tidak usah ada. Sebab masih banyak pertanyaan yang harus dijawab di otaknya, dimana pertanyaan terbesar terus mengganggunya:
“Besok harus makan siapa?”
Malam. Malam kadang-kadang menyajikan banyak pertanyaan. Tapi hanya ada sedikit jawaban. Raya juga ingat dirinya sekarang. Tentu dia pun punya pertanyaan tapi dia belum menemukan jawaban.
“Kamu mikir apa?” suara Anjeli mengejutkan
“Mikirin malam.” Jawab Raya pendek
“Kok mikirin malam?”
“Karena malam itu unik!”
“Hmm…” Anjeli mengangkat alis
“Aku mau tanya, kamu sendiri ingin malam cepat berakhir atau tidak?”
Anjeli memainkan serbet, lebih kelihatan membuang waktu daripada berpikir, lalu malah balik bertanya
“Aku ingin malam datang lebih lama.”
“Kenapa?”
“Karena aku suka malam.”
“Sesederhana itu?”
“Ya, kenapa kita selalu butuh jawaban rumit sih?”
“Kadang aku pikir harapan kamu tadi supaya malam datang lebih lama akan lebih pas kalau dipasangkan untuk cinta.”
“Cinta?”
“Ya, siapapun juga mau disinggahi cinta dengan lebih lama.” Anjeli memasang raut wajah yakin.
Raya berpikir, pembicaraan ini jadi menarik. Apa sih yang tidak menarik ketika kita bicara cinta? Maka ketika cinta menjadi sedemikian menarik, kenapa kita suka melupakan cinta? Apa karena cinta adalah sesuatu yang rumit?
“Cinta itu rumit ya?” Raya mengangkat alis
Anjeli menggeleng “Tidak juga, tergantung dari sudut pandang kita dong!”
__ADS_1
“Kamu pernah jatuh cinta?”
Anjeli mengangguk, menjawab setengah berbisik “Sampai sekarang, sudah lama.”
“Lama banget?”
“Lama banget!”
“Jadi cinta yang sejati itu ada ya?”
Lalu entah sampai kapan mereka membahas cinta, sebab waktu terus berjalan dengan jarum detik yang terus memutar. Yang pasti malam terus turun dan kini tinggal dua manusia itu yang tersisa di meja. Mereka membahas cinta, walau mungkin mereka mungkin memiliki arti yang berbeda tentang cinta. Tidak apa-apa kan? Cinta bisa berarti macam-macam, malah ada yang bilang mendapat kesempatan mencintai pun sudah lumayan.
Dari panggung terdengar lagu terakhir, “Czadas”[1] Sebentar lagi dua jam sebelum tengah malam. Dua manusia masih ada di sana.
AKU
Kamu pernah jatuh cinta?” kutanya hal itu padanya setelah kutahan-tahan lama.
Dia meletakkan kopinya yang tinggal setengah, menggeleng kecil, tapi kulihat bibirnya tersenyum. Aku takjub sekaligus makin bingung, sebab senyum seorang wanita bisa berarti macam-macam.
Kini dia menoleh padaku dan matanya mulai berkaca-kaca. Aku berusaha tidak memandangnya, hampir saja aku minta maaf kalau ada perkataanku yang menyinggungnya. Tapi tidak kulakukan sebab kukira aku tidak mengatakan apa-apa, toh aku hanya bercerita.
Dari kejauhan suara biola menyayat, seakan menjadi latar belakang bagi matanya yang berkaca-kaca. Dan aku tidak mau bertanya lagi, dalam hidup ini sudah cukup aku melihat orang menangis, lagipula di luar sedang hujan, langit pun menangis, maka jangan ditambah-tambah lagi.
“Aku tidak pernah menyangka dia bisa melakukan ini padaku!” kudengar suaranya yang serak
Aku menoleh, aku juga tidak menyangka kalau hujan bisa turun seindah ini, titik-titiknya yang kecil menjadi satu mengaburkan pandangan, mirip dengan air mata. Aku membayangkan kalau hujan itu tertimpa matahari, bukankah akan ada pelangi yang mengembang?
Kulihat dia menangis, sungai air mata yang turun. Ah, peristiwa macam apa yang bisa membuat wanita seperti dia menangis?
“Aku mencari dia tapi dia tidak mencari aku!”
Aku juga mencari suasana langit, aku juga mencari suasana yang tidak bisa ditemukan. Tapi tidak ada yang menghampiri aku, semuanya lewat begitu saja
“Kamu masih mendengarkan?”
“Iya.”
“Tapi aku mau kamu yang bercerita!” dia menghapus air matanya
“Nanti kalau aku cerita kamu nangis lagi!”
“Tidak! Tidak akan!”
Kulihat jam, jarumnya sudah bergeser tapi tetap saja waktu terasa lama, padahal sepertinya kami sudah duduk dan bicara berabad-abad.
__________________________________
__ADS_1
[1] Czardas karya Monti adalah lagu-lagu populer yang di masa lalu menjadi favorit Idris Sardi dengan ansambel beranggotakan 17 orangnya. Czardas, khususnya, dikenal sebagai lagu pengantar minum Hongaria yang memang tampaknya digubah untuk dihadirkan dalam pesta, dan lazimnya dimainkan sebagai lagu terakhir.