
RAYA
Raya terbangun, sekejap cemas. Melirik jam, terdengar tiang listrik dipukul satu kali. Sering Raya bertanya-tanya, siapa juga yang terlalu rajin memukul tiap listrik tiap satu jam? Pastinya penjaga malam, tapi penjaga malam yang seperti apa? Lagipula siapa sih yang perlu mendengarkan suara tiang listrik?
Terdengar ibunya mengambil qiyamullail. Raya menyingkapkan selimut. Membuka jendela, memandang langit. Mendung. Mendung dini hari, mendadak hatinya bernyanyi. Dalam sunyi. Lirih. Hanya dirinya saja yang mampu mendengar tapi cukup membuat dia tersenyum. Karena tidak ada yang membuat hatinya bernyanyi sejak sore hari.
Kali ini kekasihnya kembali, nada-nada itu kembali berdenting membentuk sebuah harmoni. Maka dini hari itu diisi Raya dengan senandung lirih. Dengan jendela terbuka Raya menatapi malam dan meresapi angin.
BIOLA
Dalam sebuah biola terdapat sejarah, dan sudah jadi rahasia umum kalau yang namanya sejarah pasti selalu dipenuhi dengan nama dan tahun. Tapi kalau bicara tentang musik, hukum itu seperti tidak berlaku.
Aku sudah mencari kemana-mana, mencari perpustakaan yang memuat banyak cerita tentang musik. Tapi tidak pernah kutemukan apa-apa di dalam setiap sejarah musik. Kecuali musik.
Sebuah sejarah juga bisa menceritakan kehebatan seseorang tanpa membuat orang itu besar kepala. Sebab bukankah sejarah selalu menceritakan mereka yang sudah tiada? Seperti dari sebuah buku sejarah yang berdebu di pojok rak sebuah perpustakaan sepi, kubaca sejarah musik klasik.
Menurut penulisnya yang entah siapa, sulit mencari sosok yang bisa menyaingi teknik Niccoló Paganini dalam menggesek biola. Walaupun banyak juga yang bilang bahwa Paganini tidak lebih dari sekedar peniru yang luar biasa. Tapi, tidak hanya jago main biola, dia juga seorang pemain mandolin, gitar dan biola alto yang hebat.
__ADS_1
Ya, ya ya aku tahu sedikit tentangnya. Permainan biola Paganini sendiri banyak dipengaruhi oleh gaya dari seorang violis yang namanya sekarang sudah banyak dilupakan, yaitu August Duranowski.
Violis lain yang juga sangat mempengaruhi adalah Rodolphe Kreutzer, dan pendahulu Paganini yang sama-sama dari Italia, Pietro Locatelli. Bahkan Paganini mengutip salah satu bagian dari karya Locatelli, Caprice No 7, yang dimasukkan dalam karyanya, Caprice No 1. Ini dilakukan sebagai sebuah ‘tribute’ bagi Locatelli.
Karya-karya yang diciptakan oleh Paganini, tentu saja, kebanyakan untuk alat musik yang sangat dikuasainya, biola dan gitar. Salah satu ciptaannya yang dianggap fenomenal adalah Moto Perpetuo, Opus 11 yang terdiri dari 2.248 not yang dimainkan tanpa jeda.
RAYA
Bukankah kecantikan biasanya ada pada wajah? Tapi apakah kecantikan itu punya wajah? Dan bukankah kekasih akan tetap terlihat cantik sekalipun tak terlihat wajahnya? Kini kekasih itu sudah datang setelah pergi begitu lama. Bukankah hanya beberapa jam? Ah, kehilangan kekasih tidak pernah begitu sederhana, bahkan berjalannya waktu pun akan terasa lama.
Apakah karena Anjeli?
Mana mungkin? Sedang bertemu pun mereka hanya satu malam. Seberapa besar pengaruhnya pada sisipan nada yang biasa menghampiri harinya? Apapun itu, Raya melihatnya. Sebab dia tidak pernah merasa mampu mendengar nada, tapi melihatnya.
Kadang jelas. Kadang samar. Tapi tidak pernah hadir sejelas, sekaligus sesamar ini.
Kemudian pada sebuah malam yang kembali ramai oleh beragam manusia Raya menyusuri trotoar, selang tujuh hari dari pertemuan pertama dia mendapati dirinya menjaga langkah, menuju café yang temaram itu lagi.
__ADS_1
Kali ini perjalanannya ditemani gerimis yang lebih halus dari biasanya. Dengan butiran sehalus itu sepertinya orang-orang tidak terganggu. Mereka tetap berjalan, tertawa, makan, belanja, dan sejuta kegiatan lain yang mungkin dilakukan di tengah udara seperti ini.
Di sebuah belokan Raya berhenti sejenak. Didengarnya sebuah lagu mengalun dari lubang angin sebuah ruang bawah tanah. Raya merasa pernah mendengar nada-nada itu. Dia termenung dan akhirnya bisa mengingatnya. Nada-nada itu milik Helmut Zacharias[1], lagu ini judulnya “When the White Lilac Blooms Again”[2]
Dia berpikir tentang orang-orang yang sedang bermain di bawah sana. Ataukah ini hanya rekaman dari piringan hitam? Entahlah, karena memang terasa mirip sekali. Rasanya memang rekaman karena terlalu mirip dengan aslinya. Sekalipun orang-orang di sana adalah pemain musik yang fanatik, sepertinya sulit untuk meniru gesekan Helmut Zacharias.
Sementara dari pintu sebelah bangunan itu, sebuah sedan hitam berhenti dan seorang perempuan keluar dari sana. Bajunya kelihatan mengkilat dan mahal, sepatunya warna perak. Siapa dia? Adakah yang peduli padanya?
Raya mempercepat jalannya.
Diiringi nada-nada dari Helmut Zacharias dia berbelok dan segera hilang di sela pejalan kaki. Tapi Raya merasa nada-nada dari ruang bawah tanah itu terus mengikutinya.
____________________
[1] Pemusik dari Jerman, diangggap sebagai pemain biola termahsyur pada jamannya
[2] Judul aslinya “Wenn der Weisse Flieder Wieder”
__ADS_1