Siluet

Siluet
8.1 Suara Suara Suara


__ADS_3

RAYA


“Kemana Anjeli? Kemana Anjeli?”


Kali ini suara itu yang memanggil-manggil. Ya, tiga minggu tidak terasa dan dia sudah kembali disambut senyum mesra ibu, lalu bercerita pengalamannya seperti yang memang diinginkan semua ibu apabila anaknya baru pulang dari suatu tempat. Lalu detik berikutnya dia sudah tegak lagi di balik jendela kamar, merasai hatinya memanggil-manggil seperti itu.


Bisakah kita mempercayai suara hati sendiri? Bukan bisa, pertanyaannya haruskah kita mempercayai hati sendiri? Sebab bila bukan suara hati sendiri, harus kepada siapa lagi kita percaya? Detik berikutnya Raya mendapati dirinya kembali menyusuri trotoar, tidak dihiraukan panggilan ibunya untuk istirahat. Cukup dijawabnya dengan akan pergi sebentar sebab ada keperluan.


Lalu ibunya membiarkan Raya menembusi debu-debu kota lagi.


Raya memang suka berjalan, dengan berjalan dia merasa banyak sesuatu yang bisa dilihat, banyak perenungan yang bisa dilakukan, banyak kejadian yang bisa ditangkap. Lagipula tujuannya kali ini sangat jelas: Anjeli.


Di tengah matahari jam tiga sore Raya menapak jalan kota. Berpapasan dengan gerah para manusia, memang belum jam pulang kantor tapi jalanan sudah mulai penuh. Kadang Raya berharap mendung datang menutupi matahari, lalu gerimis datang supaya udara sedikit lebih sejuk. Tapi udara kota ini di siang hari memang selalu begini, berdebu, dengan langit biru imitasi. Langit yang menipumu dengan polusi yang mengendap di sana.


Di sebuah lampu merah dia melihat sepasang anak jalanan tertawa sambil bernyanyi bersama. Ah, apakah di hati mereka ada cerita? Apakah di jiwa mereka ada cinta? Kadang Raya menemukan keajaiban melihat orang-orang seperti mereka bisa tertawa, dengan bahagia, dengan bersama. Ternyata kebahagiaan itu abstrak, bisa hinggap di mana saja.

__ADS_1


Tanpa terasa dia tiba di café temaram itu lagi. Ada kerinduan yang memuncak, lalu mendadak pecah melihat lagi ornamen-ornamen di sana, melihat lagi deretan meja kursi dan panggung. Entahlah, sepertinya ada semacam keterikatan batin dengan tempat ini.


Tapi bukankah tempat ini bukan miliknya?


AKU


Sepertinya aku terlelap, entah berapa lama. Ketika bangun aku masih ada di sandaran kursi yang kurebahkan, radio mobil masih mengalun, kali ini lagu-lagu klasik. Entah kemana suara penyiar yang tadi. Mungin juga stasiun radionya sudah diganti. Sementara temanku masih asyik menyetir. Perlahan ingatanku terkumpul. Aku jadi ingat suara gadis berkerudung yang kudengar lewat radio.


“Jadi begitu ceritanya, makanya kubawa kamu jalan-jalan sekarang, aku mau cerita itu saja, menurut kamu bagaimana?” Temanku tiba-tiba bertanya.


Temanku kelihatan mengangguk-angguk puas, padahal apa peduliku? Aku toh tidak dengar dia ngomong ap. “Jadi bagus ya? Well… aku tahu kamu pasti bakal dukung aku, kamu memang teman terbaikku.”


Aku mengangguk sambil meringis. Aku jadi berpikir bagaimana kalau dia tadi sebenarnya cerita punya rencana bunuh orang? Jangan-jangan aku kena getahnya. Kulirik jam, mungkin sudah kuhabiskan lebih dari dua jam di dalam mobil ini. Kulihat kota sudah sepi, di jalan-jalan hanya ada kesenyapan yang ditimpa lampu-lampu jalan. Dalam lesat mobil kulihat sekejapan dua gelandangan duduk berdua di trotoar, berdampingan, menikmati malam. Mungkin mereka sahabat dari kecil? Mungkin mereka punya mimpi yang sama? Siapa yang peduli?


“Aku harus pulang!” ucapku pelan sementara mataku mencari-cari bulan.Tidak ada

__ADS_1


“Oke, aku antar kamu pulang, thanks ya sudah dengar ceritaku tadi.”


Aku hanya tersenyum, tapi lama-lama jadi penasaran sendiri. Cerita apa sih dia tadi?


Mobil lalu berbelok dan hanya sepuluh menit sudah sampai di gang rumahku. Aku turun dan dia membuka kaca jendela


“Hai, sekali lagi thanks ya, sesuai saranmu aku akan menghilang mulai besok!”


“Heh!?” aku melongo sendiri


“Kok kaget? Kan tadi kamu dukung rencanaku? Ya, mungkin aku mau ke Singapura atau Italia, kebetulan ayahku punya rumah di sana. Aku pikir harus benar-benar menghindar dari perempuan itu, Kalau ada apa-apa kotak aku lewat email saja ya. Bye!”


“Heh?!” aku tambah melongo, jadi itu yang dia rencanakan? perempuan mana? Aku ingin bertanya tapi takut temanku ini marah karena dia tahu aku tidak mendengarkan ceritanya tadi. Lagipula mobilnya sudah melesat lagi. Menembus malam, meninggalkan aku dalam kesendirian.


Aku merenung, mengangkat bahu, kenapa semua orang ingin menghilang? Tapi detik berikutnya aku berpikir, siapa yang peduli?

__ADS_1


__ADS_2