
RAYA
Raya masih suka membayangkan kalau gesekan adalah faktor yang penting dari sebuah biola. Bukan hanya kecepatan, bukan hanya kelincahan pergantian nada, dan bahkan bukan hanya nada itu sendiri. Raya percaya tanpa penjiwaan dan rasa penyatuan, seseorang tidak akan pernah bisa memainkan komposisi apapun dengan benar. Kalaupun ada nada yang keluar dari senar-senarnya, maka nada itu akan terasa kosong tanpa jiwa.
Usianya baru dua puluh, sejak delapan tahun yang lalu dia sudah memegang biola. Kini di usia dua puluh Raya merasa dirinya sudah beranjak jadi lelaki. Sebentar lagi dia benar-benar jadi lelaki. Namun Raya selalu percaya, ada satu sifat kelelakian yang sudah dia miliki sejak dulu, bahkan tanpa menunggu dewasa: Romantis.
Mungkin tidak berlebihan, tapi romantisme—yang selalu beriringan dengan cinta—dipilihnya lewat sebuah biola.
ANJELI
Dia. Entah kenapa. Bukankah tidak ada yang bisa memilih? Setiap kita nyatanya lahir tanpa punya hak untuk bertanya tentang apa, siapa, atau kenapa. Hidup adalah persoalan menjalani takdir yang sudah tercipta, begitu juga dia. Anjeli.
__ADS_1
Dari ibunya dia mendapat rambut panjang sebahu. Lurus dan bercahaya juga lebat sehingga orang sering berdecak pada tebal kepang rambut—ibunya yang mengepangkan—saat dia masih kecil.
Dari ayahnya dia mendapat mata coklat dan hidung mancung. Ayahnya orang Belanda yang kembali ke negaranya ketika suatu malam berhujan. Tanpa payung—Anjeli hanya tahu dari ibunya—dia melangkah keluar tanpa menoleh, menuju taksi biru muda. Mungkin menuju bandara. Lalu (pastinya) dia terbang. Meninggalkan istrinya. Dan Anjeli. Kecil. Masih bayi. Dengan mata polos dan tidak mengerti apa-apa.
Tapi sekarang Anjeli sudah dua puluh tiga. Dia sudah mengerti. Bahwa manusia kadang harus pergi. Dan yang ditinggalkannya kadang harus merasa sendiri. Sebab menjadi anak tunggal dari kecil membuatnya mengerti apa arti sebuah kesendirian.
Lalu sekarang setelah dia dua puluh tiga. Dari ayahnya masih ada yang berbekas. Yaitu sebuah perasaan ingin bebas. Sebuah perasaan ingin dimengerti keinginannya. Tapi Anjeli tidak bisa. Sebab dari ibunya dia sudah mendapat ajaran tentang hidup yang harus diperjuangkan sendiri. Kadang saat berjuang itu tidak ada orang yang membantu. Kadang kita harus menangis sendiri dalam gagu. Dalam senyap. Dan Anjeli (berusaha) mengerti.
Aku pernah melihat dalam sebuah lukisan karya seorang pelukis Italia, Gaudenzio Ferrari de Bergamo yang dilukis sekitar tahun 1529, terlihat beberapa instrumen gesek yang mempunyai tiga atau empat buah dawai dan dimainkan dengan menyandarkan pada bahu. Kukira pada lukisan inilah penggambaran pertama dari instrumen yang mirip dengan biola.
Lalu aku jadi bertanya-tanya sendiri, kapan dan dimana biola itu lahir?
__ADS_1
Sampai sekarang aku tidak tahu dengan pasti. Hanya saja ada kemungkinan biola lahir di Italia Utara tepatnya daerah Milan antara tahun 1520 dan 1550. Diantara instrumen yang sampai sekarang ini masih ada, tercatat ada dua biola dengan tiga dawai yang dibuat Andrea Amati dan Cremona tahun 1542 dan 1546 secara berurutan.
Lalu biola pertama dengan empat dawai dibuat oleh perancang ini juga pada tahun 1555. lalu pada tahun 1560, Andrea Amati menerima pesanan dari raja Perancis, Charles IX berupa 38 instrumen yang terdiri dari 24 biola, 6 biola alto dan 8 buah sello. Hal ini menunjukkan dia adalah pembuat biola terbesar pertama. Tapi Andrea Amati bukan pencipta biola.
Sampai sekarang aku masih percaya biola dibuat oleh Kaspar (apapun…), aku lupa nama belakangnya, mungkin juga Tieffenbrucker atau Duiffoprugcar atau pun Gasparo da Salo. Siapapun… yang penting bukan Andrea Amati.
Namun lepas dari siapa pembuatnya, biola tidak bisa disangkal lagi merupakan alat musik paling mengagumkan diantara semua alat musik. Terutama karena keindahan bentuknya, kesederhanaan bahan yang dipakai dan kemurnian bunyinya. Menyatakan puncak dari pembuatan instrumen.
Maka dari itu pula, pembuat biola biasanya mendapat kemasyhuran pada zamannya. Karena mereka tahu apa yang mereka buat.
Karena…
__ADS_1