Siluet

Siluet
8.3 Suara Suara Suara


__ADS_3

RAYA


Kini dia ada di ini. Sendiri, di sebuah tanah merah yang masih terlihat baru. Padahal sudah dua minggu. Ada tulisan di nisannya, Anjeli Prastarini. Raya merenung.


“Anjeli, bahkan aku tidak pernah tahu nama lengkapmu.”


Prastarini. Pantas kau sering menanalogikan dirimu sebagai bintang di langit, kiranya ada unsur bintang di nama belakangmu? Raya tersenyum. Sepi. Dia memandang sekeliling, senyap. Tentu saja, ini di tanah pekuburan, apa yang kita harapkan ada di sini kecuali barisan nisan dan pohon kemboja?


Apakah mereka masih ada yang mengingat? Mungkin juga masih mungkin juga tidak. Raya memandang nisan nisan yang mengkilat, Raya memandang nisan yang sudah berlumut. Apakah beda mereka? Raya memandang nisan yang bercungkup dan bermamer, betapa megahnya. Mungkin si mati saat masih hidup tidak pernah memperoleh penghormatan seperti itu, justru ketika dia sudah jadi jasad mati kuburnya diperbagus. Apa gunanya? Toh siksa kubur tak akan berkurang karena nisanmu dari marmer terbaik.


Raya memandang tanggal-tanggal. Begitu banyak yang mati, setiap hari. Apakah ada lingkaran di kalender tepat di hari kematiannya, sekedar pengingat seluruh keluarga bahwa mereka pun akan mati seperti dirinya? Apa yang mereka lalukan dalam hidup? Apa yang mereka tinggalkan? Apakah sekarang mereka hanya jadi batu bernama tak berpengunjung? [1]


Seorang wanita berpayung merah tampak berjalan menyusuri deretan makam dan berhenti lama di sebuah nisan. Dari sudut mata Raya bisa melihat separuh wajah wanita itu, sembab. Ada bandana putih mengikat rambutnya yang sepinggang, bajunya warna kuning pudar. Dengan warna-warna cerah seperti itu tetap tak bisa menghapus warna kesedihan di wajahnya. Sesedih apakah dia? Raya berpikir. Makam siapa itu? Keluarga? Sahabat? Kekasih? Mungkin orang yang statusnya berbeda, Tapi apakah rasa kehilangannnya tetap sama? Kini wanita itu menaburkan bunga di atas kubur, lalu mengelus nisan. Raya berpaling, dia tidak ingin larut.

__ADS_1


Perlahan dia berjongkok, tangannya mencoba mengelus nisan seperti wanita itu, mendadak dia jadi merasa romantis, pada nisan? Entahlah, seharusnya dia bukan romantis tapi sedih kehilangan sahabat. Sahabat?


“Bukankah aku jatuh cinta padanya?”


Serentak Raya berlari pulang, pikirannya hanya satu. Ingin segera kembali ke rumah. Ingin mengambil biolanya dan menangkap kesedihan ini, lalu memainkannya untuk Anjeli.


Sebab kesedihan adalah kesedihan. Tidak perlu dipertanyakan ulang atau didefinisikan. Raya hanya tahu Anjeli sudah tidak ada. Tidak perlu dia tahu kenapa, dan oleh siapa. Kalau tadi di hadapan ibunya Anjeli, seorang Raya bisa menahan perasaan, kini sudah tidak mungkin lagi. Tapi Raya pun tak mampu menangis secara tiba-tiba. Perlu alasan yang kuat untuk menangis bagi seorang laki-laki; dan Raya laki-laki.


Betapa menyedihkannya ketika kita tidak bisa bercengkrama lagi padahal kemarin kita masih tertawa-tawa bersama.


Kini Anjeli, mungkin karena ini kehilangan pertamanya saat dia sudah paham akan dunia. Maka Raya merasa lebih sesak. Tanpa Anjeli mungkinkah dawainya akan bergetar lagi? Sedangkan Anjeli sudah menghidupkan nafas biolanya, mampu membuat Raya menemukan lagi kekasihnya?


Entahlah. Kini Raya hanya tahu dia ingin pulang, menyentuh biolanya dan mencoba membuat lagu untuk Anjeli. Dalam perjalanan dia terus berlari menapaki trotoar, melewati orang-orang yang entah sedang apa. Apakah ada di antara mereka yang juga sedang merasa kehilangan? Apakah ada di antara mereka yang bisa sekedar peduli? Apakah ada di antara mereka yang bisa jadi solusi?

__ADS_1


Raya terus berlari, dan seperti mengerti langitpun menjadi kelabu dan titik-titik hujan mulai turun satu-satu. Tapi Raya terus berlari sementara orang-orang berteduh atau membuka payung-payungnya. Tidak, Raya tak pernah punya cukup waktu untuk itu, ada yang harus dilakukannya segera. Menemui biolanya dan memainkan sepotong lagu untuk seseorang yang sudah jadi bintang di langit.


Terutama sebuah janji yang terlanjur terucap dan Raya mengira itu memang pantas untuk seorang Anjeli. Sepotong lagu khusus untuknya, yang dibuat dari kenangan akan dirinya.


Hujan terus membasah, Raya terus berlari seirama guntur, hujan menderas, dia terus berlari sejalan dengan curahan air. Pada detik itulah Raya mulai menangis, tapi tangisannya berbaur dengan keringat juga air hujan. Dalam tangisan yang tak tampak itulah Raya merasa bisa melepaskan perasannya tanpa merasa cengeng. Detik itu juga Raya merasa sebenarnya dia masih anak-anak, hanya anak-anak yang menangis, bukankah begitu?


Entahlah, tak ada waktu untuk berpikir, Raya terus berlari.


Hujan masih deras.


___________________


[1] Ditulis dengan ingatan pada syair lagu “Dua Dunia” dari Too Phat feat Siti Nurhaliza “Perjuangan seni kita tidak berpenghujung / Jangan tinggal batu bernama tak berpengunjung”

__ADS_1


__ADS_2