Siluet

Siluet
6.3 Opus 6: Kerinduan yang Sunyi


__ADS_3

BIOLA


Aku pun sedang mendengar sebuah irama yang mengalun dari komputerku. Baru saja kuambil dari komputer seorang teman. Entah lagu apa, entah lagu siapa tapi di filenya dia tulis “13_Track (Instrument yang cukup jazzy)”


Aku tidak pernah bisa mengerti musik dengan baik, tapi sekurang-kurangnya aku tahu sedikit sejarahnya. Dalam sejarah aku kenal kata jazz, tapi kata jazzy? Seakan menunjuk kata sifat, seperti kalau dalam bahasa Inggris kita sering dengar kata sad dan sadly, anger dan angry, happy dan happily.


Maka apakah sebuah jazz bisa dikategorikan sebagai sifat?


Aku lalu membaca buku-buku di perpustakaan yang sudah berdebu, dan dengan terkejut menemukan kata “jazzy”. Di sebuah halaman yang sudah terkena leleran air kencing kecoak, diceritakan bahwa musik jazz muncul sebagai peralihan dari musik “tradisional” menuju musik “populer”.


Timbulnya aliran swing pada dekade 1930-an membawa perubahan penting dalam cara orang memandang musik ini, yang akhirnya berpengaruh pada pengkategorian posisi jazz di antara berbagai musik lain. Era swing ditandai dengan munculnya jazz band dengan big band sebagai sebuah bentuk orkestrasi ala Eropa yang diaplikasikan dalam jazz, walaupun tetap mempertahankan ciri-ciri pokoknya, seperti improvisasi, sinkopasi dan blue note[1].


Dengan perkembangan tersebut, jazz tidak lagi dianggap musik “barbar” karena identik dengan orang kulit hitam. Pada masa itu, jazz bahkan telah menjadi musik populer, dengan irama swing-nya yang cocok untuk berdansa. Tidak sedikit komposisi-komposisi jazz dari musisi handal semacam George Gershwin, Cole Porter atau Duke Ellington diangkat menjadi soundtrack film, dan komposisi komposisi tersebut sebenarnya merupakan lagu pop pada zamannya.


Perkembangan jazz yang semakin mengarah pada musik hiburan tersebut menimbulkan reaksi di kalangan musisi jazz kulit hitam. Beberapa diantaranya seperti Charlie Parker dan Dizzy Gillespie lantas memperkenalkan bebop pada akhir dekade 1940-an.


Kemunculan bebop ini sering disebut sebagai revolusi dalam musik jazz, karena konon para eksponennya memiliki sebuah spirit baru yang bertujuan mengembalikan jazz pada hakikatnya sebagai musik “seni” khas kaum negro. Aliran baru ini ditandai dengan berkembangnya formasi secara lebih minimalis dengan konsekuensi semakin luasnya ruang bagi improvisasi solo masing-masing pemain.  Lalu setelah itu keluar juga beberapa variasi jazz seperti cool jazz dan hard bop


Sebagai sebuah genre musik yang makin membutuhkan keseriusan, maka tidak mengherankan apabila jazz mulai agak dijauhi khalayak. Apalagi pada saat itu, trend rock’n roll makin merajai blantika musik populer dunia.


Jika pada tahun 1940-an, jazz dapat dijumpai pada komunitas tempat hiburan umum dan pesta-pesta dansa, sejak sekitar tahun 1950 dan selanjutnya akan terasa “bergeser” menuju komunitas intelektual dan akademisi, di mana mereka semakin cenderung memperlakukan musik ini seakan sebuah “disiplin ilmu” tersendiri.


Pada masa-masa belakangan, semakin tampak bahwa musik jazz senantiasa kontradiktif dengan musik populer (rock dan pop), dimana jika seseorang menjadi penggemar salah satu jenis musik ini biasanya akan menolak yang lainnya. Yang kurang diketahui umum adalah bahwa kedua jenis musik tersebut memiliki hubungan satu sama lain yang saling mempengaruhi. Sebab bukankah jazz maupun rock tumbuh dari akar yang sama, yakni blues?


Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa lagu-lagu The Beatles telah banyak dibawakan oleh para musisi jazz sebagai lagu standar. Atau bahwa Sting, pentolan grup New Wave era 80-an, The Police, adalah juga seorang musisi jazz yang andal.


Munculnya berbagai bentuk sintesis antara jazz dan musik hiburan ini sering menjadi bahan perdebatan di kalangan kritikus musik, mengenai pengkategorian yang menjadi semakin kabur karenanya. Sejak sekitar tahun 1980-an, berbagai aliran baru ini diberi nama Adult Contemporary (AC), agaknya untuk menunjukkan bahwa musik ini ditujukan untuk kalangan usia tertentu yang dianggap telah “dewasa”, biasanya usia 30 tahun ke atas. Musik-musik yang dapat dikategorikan sebagai AC ini antara lain:


Fusion, yang lahir sekitar akhir dekade 1960-an, ketika Miles Davis, seorang eksponen bebop dan cool jazz mempopulerkan sebuah varian baru jazz dengan mengadopsi unsur R&B. Kepeloporan Miles dilanjutkan oleh musisi-musisi generasi di bawahnya.


Salah seorang yang paling sukses adalah Chick Corea dimana ia mempopulerkan penggunaan instrumen elektronis dalam jazz, sehingga fusion kemudian hampir tidak dapat dilepaskan dari ciri (elektronis) tersebut. Pada awalnya, fusion masih cukup sarat dengan improvisasi jazz, akan tetapi kemudian semakin mengarah pada pop dengan jenis komposisi yang disederhanakan untuk lebih menarik selera pasar.


Jenis terakhir ini kemudian lebih populer dengan istilah smooth jazz atau terkadang disebut pula contemporary jazz dan juga disebut  “Jazzy”, yang berarti “agak-agak. ngejazz” atau “sedikit bernuansa jazz”.


Umumnya istilah ini dipergunakan untuk menyebut musik populer yang mengadopsi unsur jazz, umumnya pada progresi chord maupun irama yang sering dipergunakan dalam jazz misalnya swing, soul, bossanova dan sebagainya. Beberapa pengusung awal jazzy antara lain kelompok Blood, Sweat & Tears dan Chicago sekitar tahun 1968.


Salah satu varian yang paling populer belakangan ini adalah acid jazz, di mana aliran musik baru ini konon merupakan hasil “ulah” para DJ dalam menciptakan suatu jenis musik dance dengan memasukkan unsur jazz, soul, hip hop, dan funk dalam satu komposisi. Acid jazz yang dibawakan oleh grup seperti Brand New Heavies dan Incognito, dengan beat-nya yang dinamis ini dengan segera memperoleh sambutan dari kalangan pendengar yang lebih muda.


Selesai. Aku menutup buku dan membayangkan sebuah musik yang terdiri dari berbagai aliran. Maka tidak terlalu salah kalau kukatakan musik memiliki dunia sendiri. Seperti manusia yang berbeda tapi bisa bersatu, begitupun musik.


Lalu ternyata kudapati musik bisa menjadi sebuah sifat. Mungkin karena itu juga sifat orang yang suka dangdut berbeda dengan sifat orang yang suka jazz, atau mungkin juga berbeda dengan orang yang suka dengan lagu rap.


Jadi bagaimana dengan biola?  Bukankah biola pun bisa bermain dengan jazzy?

__ADS_1


MEREKA


Tergesa Raya memasukkan tangannya ke saku jaket. Gerimis turun menimpa trotoar, di sebuah lampu jalanan cahayanya menjelaskan titik-titik gerimis. Berjatuhan halus berwarna violet. Raya memasuki sebuah box telepon umum, memutar sebuah nomor yang sudah diingatnya.


“Halo?” katanya ketika ada suara seseorang di ujung sana.


“Halo?”


“Maaf bisa bicara dengan Anjeli?”


“Sebentar ya, dari siapa?”


“Dari Raya.”


Terdengar suara gagang telepon seperti diletakkan (mungkin di meja) dan suara langkah menjauh. Raya menunggu sambil memperhatkan gerimis tertimpa sinar lampu. Saat ini waktu terasa lama. Sampai akhirnya ada suara Anjeli.


“Halo?”


“Li ini aku!”


“Oh hai!” suaranya begitu ceria, “kemana aja?Sibuk latihan ya?”


“Ya gitu deh, dua bulan yang melelahkan, tapi minggu depan aku berangkat.”


“Li, ada apa?”


“Ah nggak….”


Lalu jeda itu ada lagi, sampai Raya memutuskan untuk bertanya


“Li, apa kamu pernah jatuh cinta?


...


...


… di sebuah ruangan, Anjeli duduk di kursi beludru merah tanpa sandaran. Memegang telepon dan sebelah tangannya mencoret-coret meja, seperti ada kegelisahan yang tersimpan. Terdengar suara dari lawan bicaranya


 “Ya gitu deh, dua bulan yang melelahkan, tapi minggu depan aku berangkat.”


Minggu depan? Seharusnya aku tidak peduli, tapi aku justru makin peduli. Bisakah dia kularang untuk pergi?


Suara hatinya menciptakan sedikit jeda

__ADS_1


“Li, ada apa?”


“Ah nggak…”


Ingin rasanya bertanya apakah Raya merasakan sesuatu? Tapi bahkan Anjeli pun tidak tahu apa-apa, yang dia tahu ada perasaan mengganjal yang begitu kuat. Sehingga dia kembali memilih diam. Keceriannya menguap mendadak. Ini suatu misteri, bahkan Anjeli sendiri pun heran pada hatinya.


Tiba-tiba terdengar Raya bertanya, “Li, apa kamu pernah jatuh cinta?”


“Apa?” dia tergagap, “kenapa kamu tanya begitu?”


“Nggak apa-apa, maaf deh kalau ganggu.”


“Nggak kok, cuma aku pikir pertanyaanmu aneh.” Anjeli mulai bisa menguasai perasaannya, nada suaranya kembali biasa.


Lalu percakapan  kembali seperti biasa, membahas hal-hal biasa. Tanpa ada yang tahu bahwa nyaris tanpa suara, seperti membuka buku catatan sebuah kalimat menyeruak, menyusup lewat getaran bulu mata Anjeli. Dari celah rambut lentik itu mengalir air bening yang terus mengalir ke pipi bagai kristal.


Aku makin tidak mengenalimu Anjeli


Aku makin tidak mengenalimu.…


RAYA


“Anjeli, kamu selalu bisa menghadirkan komposisi nada baru dalam pikiranku.”


“Kamu jangan berlebihan.”


“Ini serius!”


“Jadi?”


“Aku akan mainkan lagu baru untukmu, khusus untukmu.”


“Kapan?”


“Nanti!”


“Aku tunggu.”


“…”


“…”


__________________

__ADS_1


[1] Blue note: Nada yang merendah pada not ketiga dan ketujuh, yang juga merupakan ciri khas musik blues dan jazz


__ADS_2