Siluet

Siluet
6.1 Opus 6; Kerinduan yang Sunyi


__ADS_3

AKU


Izinkanlah kumulai bagian ini dari diriku. Sebab malam kurasa memanjang, dan mendadak aku merasa kesepian. Aku kembali menekuni tugas-tugasku, rasanya aku sudah membaca ratusan berkas, tapi kenapa sampai sekarang tumpukannya masih tinggi?


Kesepian. Kesepian. Siapa yang bisa menjelaskan kesepian? Kadang di tengah keramaian pun kita bisa merasa kesepian. Jadi kesepian itu bukan karena lingkungan atau orang-orang sekitar.


Kesepian datang dari dalam.


Sudah kubilang, kurasa malam memanjang. Kuregangkan badan dan meminum sisa kopi yang kupesan tadi sore. Sudah dingin, tapi aku tidak peduli.


Akhirnya kuputuskan untuk pulang saja. Lagipula di kantor sudah tidak ada siapa-siapa. Tinggal satpam di gerbang depan. Kukemasi barang-barangku, ransel dan jaket parasit hijau muda. Aku keluar dan mendapati satpam yang sedang menonton film tengah malam. Di mejanya ada bekas-bekas kopi. Ketika aku mendekat ingin berpamitan, kulihat ada cicak berenang di sisa kopinya. Tapi dia tidak tahu, dia terlalu asyik menonton.


Kulewati gerbang dan kulihat jalan raya yang lengang. Ini sudah lewat tengah malam dan separuh kota ini sudah di tempat tidur. Tapi separuhnya lagi pun sepertinya tidak di jalan. Mereka asyik di tempat-tempat yang aku tak perlu ceritakan. Dari tempatku berdiri, bisa kusaksikan jalan layang tiga tingkat. Bukti kerja dan pikiran manusia yang merasa dirinya hebat. Aku jadi ingat menara kisah menara Babilon. Rencana membangun menara sampai langit untuk melihat Tuhan seutuhnya. Rencana gila. Tapi kukira pencipta jalan layang ini juga lama-lama punya rencana membuat jalan yang langsung tembus ke surga (atau neraka?).


Ah, kenapa juga kupikirkan? Aku penat, aku pilih berjalan saja menyusuri trotoar yang lembab. Sisa hujan tadi sore membias. Kontrakanku dekat, mungkin sepuluh menit juga sampai, tapi aku lebih sering tidur di kantor, memandangi pekerjaan yang seperti tidak habis-habis. Hidupku adalah di kantor. Wajar kan? Berapa banyak sih manusia yang tidak menjadi tua di jalanan? Tidak menjadi pembuang waktu yang setia di meja kantor dan di ruang rapat?


Berapa banyak manusia yang benar-benar hidup? Dan menikmati hidup?


Saat merenung begitu tiba-tiba sebuah sedan metalik berhenti. Begitu mendadak, di sampingku. Aku sampai terlonjak. Apakah aku akan diculik?


Tapi segera kulihat kaca mobil membuka dan sebuah wajah muncul bersamaan dengan suara biola yang muncul dari radio di dashboard.


Wajah itu?


“Hai! Kamu baru pulang?”

__ADS_1


Aku mengangguk, dia membuka pintu sebelah yang digerakkan remote. Canggih juga tuh mobil!


“Masuk, kita jalan-jalan dulu!”


“Kemana?”


“Masuk dulu lah!”


“Aku capek banget! Lagian sudah malam nih, besok aku harus kerja!”


“Masuk dulu ya, kita kan sudah lama nggak ketemu.”


Kupandangi mata itu. Dia lelaki tapi matanya begitu sayu. Mungkin dia temanku, mungkin juga bukan. Bahkan aku lupa kapan terakhir kali bertemu. Mungkin bulan lalu. Di sebuah pameran buku? Atau di kantorku?


Kembali dia mengajak dengan suaranya yang penuh harap. Akhirnya kupenuhi juga ajakannya, kasihan sih dengar suaranya yang setengah meratap setengah merengek. Lagipula kupikir aku bisa tidur di sofa mobilnya yang empuk, lumayan daripada ketemu kasur keras di kontrakanku lagi.


Setelah pintu menutup, mobil melaju. Kurebahkan sandaran kursi. Berharap pada suatu titik aku akan jatuh tertidur. Kupandangi langit. Hitam. Bintang bertaburan. Mendadak aku jadi merasa romantis sendirian. Dari sudutku berbaring kulihat papan reklame besar, tak ada gambar apa-apa, tersorot cahaya lampu. Terang. Di sana aku tidak menyaksikan apa-apa kecuali kesenduan. Juga kekosongan.


Sementara radio mobil menyiarkan sebuah acara yang entah apa namanya. Suara penyiarnya terdengar sendu. Sekarang dia bercerita tentang sebuah surat yang dikirim kepadanya dari seorang pendengar, dan sebentar lagi akan meneleponnya.


Aku terpejam diam-diam sementara temanku ini belum juga bicara apa-apa. Rupanya dia juga mendengarkan radio itu. Yang kini penyiarnya sedang bicara dengan si pengirim surat.


 “Saat ini aku sedang merasa rindu…”


Aku membuka mata dan berpikir. Bukankah itu suara wanita berkerudung tadi?

__ADS_1


BIOLA


Ada satu cerita yang aku sendiri masih tidak yakin akan kebenarannya, tapi jujur saja, aku suka. Aku mendengar cerita ini pertama kali ketika nenek menemaniku sebelum tidur dan membawakan dongeng sebelum tidur dari buku yang sudah tidak bersampul. Ceritanya kembali tentang Niccolo Paganini, saat dia memainkan konser untuk para pemujanya yang memenuhi ruangan. Kala itu dia bermain biola dengan diiringi orkestra penuh.


Tiba-tiba salah satu senar biolanya putus. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, tapi dia meneruskan memainkan lagunya. Kejadian yang sangat mengejutkan, senar biolanya yang lain pun putus satu persatu sampai hanya meninggalkan satu senar. Tetapi dia tetap main. Ketika para penonton melihat dia hanya memiliki satu senar dan tetap bermain, mereka berdiri dan berteriak


“Hebat, hebat.”


Setelah tepuk tangan riuh memujanya, Paganini menyuruh mereka untuk duduk. Penonton berpikir, tidak mungkin Paganini dapat bermain hanya dengan satu senar. Paganini memberi hormat pada para penonton dan memberi isyarat pada dirigen orkestra untuk meneruskan bagian akhir dari lagunya itu.


Dengan mata berbinar Paganini berteriak, “Paganini dengan satu senar!”


Dia menaruh biolanya di dagunya dan memulai memainkan bagian akhir dari lagunya tersebut dengan indahnya. Penonton sangat terkejut dan kagum pada kejadian ini.


Ada yang membuatku berpikir tentang cerita ini, aku berpikir sambil memandangi dua ekor tikus yang berebut makanan di sebuah lorong gelap. Aku berpikir sambil melihat pengemis buta dengan koreng di sekujur badan. Aku berpikir sambil melihat seorang wanita menangis di bangku taman tanpa sebab (atau mungkin dengan sebab, namun hanya dia yang paham?), aku juga berpikir sambil memandang mercusuar dan berusaha memahami kesendiriannya.


Aku berpikir tentang hidup. Hidup dipenuhi oleh persoalan, kekuatiran, kekecewaan dan semua hal yang tidak baik. Bukankah hidup seharusnya dipenuhi puisi? Sedangkan puisi tidak menjanjikan apa-apa kecuali sesuatu yang menetes dari mulut seperti madu? Seperti sesuatu yang mengalir tanpa beban.


Tanpa beban? Dan berapa orang dari kita yang melalui hidup dengan sebuah beban?


Mungkin memang aku terlalu memikirkan beban yang terkompensasi atas tiga senar yang putus. Padahal aku masih punya satu senar yang tersisa dan masih bisa dijadikan pegangan.


Aku kini merenung sambil memandangi hujan yang jatuh dari atap membentuk genangan hitam di seberang sana. Aku ingat satu-satunya senarku masih tersisa. Tidak ada pilihan lain.


Tinggal satu senar, maka kumainkan saja dengan indah.

__ADS_1


__ADS_2