Siluet

Siluet
5.2 Pada Satu Hari Mereka Bicara Tentang Cinta yang Temaram


__ADS_3

MEREKA


Dari jendela bulat di dapur Anjeli bisa melihat meja dimana ada Raya. Kini Raya tidak sendirian. Seorang temannya yang beberapa hari yang lalu menanyakan tentang Raya sedang duduk satu meja.


Anjeli bukan tidak tahu siapa temannya itu. Namanya Bobby. Dia manager sebuah sekolah musik. Beberapa malam yang lalu dia bertanya saat Raya menggesek biolanya di panggung. Kebetulan saat itu Anjeli sedang mengantarkan makanan ke meja sebelahnya.


“Li, siapa tuh yang di panggung? Perasaan baru lihat?”


Anjeli mendekat, mengeringkan tangan dengan celemeknya “Temanku, namanya Raya. Dia memang baru main disini kok. Kenapa?”


“Nggak apa-apa, mainnya bagus tuh.”


“Aku juga baru lihat dia main dua tiga kali, tapi aku pikir dia ahli biola.”


“Aku sama dia bisa ketemuan nggak ya?”


“Mau apa?”


“Bisnis!”


“Sekarang saja, sepuluh menitan lagi dia beres kok.”

__ADS_1


Bobby menggeleng “Aku mau balik sekarang, gimana kalau lusa?”


Lalu sebuah janji tercipta. Dan sekarang dua manusia itu bertemu. Agak lama. Dan hanya dipandangi dari jauh. Anjeli sungguh tak ingin menganggu. lalu satu jam kemudian dia mendapati Raya kembali duduk sendiri.


“Sudah ketemu Bobby?”


Raya mengangguk. Meminum sisa tehnya. Ada suatu di matanya, Anjeli tahu itu. Tapi dia enggan bertanya, menunggu Raya bicara.


Satu menit.


Dua menit.


Tidak ada yang bicara, masing-masing mengikuti pikirannya. Membiarkan mengarus. Apalagi? Bukankah pikiran akan mengalir bebas bila dibiarkan? Termasuk Anjeli. Dia menikmati alunan lagu yang mungkin sudah ratusan kali dia dengar, menunggu sebuah cerita yang tersimpan di kelopak mata Raya.


Sampai akhirnya dia tidak tahan untuk bertanya


“Raya, ada apa?”


Raya menjawab dengan tenang. Seolah tanpa emosi. “Ada tawaran ikut konser A Tribute to Beethoven di Jepang, katanya semacam pertunjukan kelas menengah. Tapi aku harus ikut latihan dulu dua bulan di sini, baru berangkat. Pemain-pemainnya cabutan dari beberapa sekolah musik.”


Anjeli termangu. Dia pergi jauh?

__ADS_1


“Kenapa? Kamu sepertinya tidak suka?”


Anjeli tersenyum “Aku suka, malah aku ikut senang, terus kamu mau berangkat?”


“Mungkin…” jawaban itu mengambang, lalu berlanjut setelah jeda satu dua detik “aku belum tahu. Selama ini aku bermain biola hanya untuk aku, hanya menyalurkan kesepian dan mengisi waktu. Tidak pernah aku melakukannya untuk orang lain.”


“Sekali-kali lakukan itu untuk menyenangkan hati orang!” Kalimat itu lebih seperti perintah.


Raya terdiam. Sungguh dia tidak mengira pembicaraan akan sebegini jauh, tadinya dia hanya ingin mengabarkan berita dari Boby. Sungguhpun Raya tidak pernah menganggap itu berita baik. Atau mengejutkan. Raya hanya menganggap kalaupun dia pergi, hanya untuk menjauh dari kota ini. Kadang dia merasa butuh pergi sejenak (atau lama?).


Mungkin dengan pergi aku bisa menemukan lagi sesuatu yang pernah hilang. Mungkin dengan mengambil jarak semua akan kembali normal. Demikian dia sering berkata.


“Kapan latihan pertama?” Anjeli memecah keheningan


“Minggu depan. Apa menurut kamu aku harus pergi?”


Kali ini giliran Anjeli terdiam. Sungguh dia tidak tahu apa-apa. Sekali lagi dia merasa aneh, biasanya dia tidak peduli apa yang terjadi pada orang-orang di sekitarnya. Tapi kali ini seolah Raya jadi bagian perasaannya juga. Mendengar kabar ini Anjeli seperti tahu keberatan hati Raya.


“Aku nggak tahu, tapi kalau kamu mau pergi ya pergi saja, aku pikir ini bagus buat karier biolamu. Lagipula tidak baik bermain hanya untuk diri sendiri. Bukankah orang lain juga perlu kebahagiaan? Dan kebahagiaan itu mungkin datang lewat musik. Apa kita tidak bahagia bila kitalah yang membawa kebahagiaan itu ke hati mereka? Tapi aku pikir lebih baik kamu tanya ibumu, mungkin pertimbangan dia akan lebih matang.”


Raya menoleh, Anjeli bisa menangkap kegelisahan di mata itu

__ADS_1


“Kamu berpikir sejauh itu?”


Anjeli hanya mengangkat bahu, Raya juga tahu dia mata gadis itu ada kegelisahan. Pertanyaannya, apakah itu kegelisahan yang sama?


__ADS_2