Siluet

Siluet
1.3 Setiap Seperempat Ketukan Acak: Raya, Anjeli, Aku, dan Biola


__ADS_3

RAYA


Dia lelaki. Sekalipun masih dua puluh. Haruskah usia menentukan seseorang disebut sebagai lelaki? Dia juga anak tunggal. Tapi dari ayahnya tidak tertinggal apa-apa sebab ayahnya meninggal saat dia masih kecil.


Saat itu dia tidak terlalu mengerti. Mungkin dia mengerti, tapi itupun karena dia lihat ibunya menangis, pamannya meremas bahunya dari belakang, dan bibinya terisak. Mungkin dari sana dia sedikit mengerti. Sebab hanya kematian yang bisa membuat ibunya menangis seperti itu. Hanya kehilangan yang bisa membuat bibinya terisak dan hanya ketabahan yang dititipkan pamannya dalam remasan seperti itu.


ANJELI

__ADS_1


Hari tidak pernah terlalu awal untuk dimengerti. Pembukaan tidak pernah jadi terlalu mudah untuk dilewati. Begitupun dengan dia. Kini dia duduk dengan perasaan yang begitu temaram.


“Siapa aku?” Batinnya di muka cermin. Wajahnya bersih dan terang. Dan dia menatapinya setiap saat. Sebab dia jarang mengenakan kosmetik. Baginya kosmetik hanya bagi mereka yang merasa dirinya jelek. Dan bukankah dirinya tidak jelek? Perasaan itu didapat dari suntikan kalimat ibunya setiap hari.


“Anjeli, kamu adalah malaikat sekaligus bidadari.”


Dia percaya itu. Dan dunianya adalah dunia wanita. Bersua tiap saat hanya dengan ibunya tanpa banyak campur tangan lelaki membuatnya tidak mengerti apa itu lelaki. Lelaki yang dikenalnya hanya mereka yang bertandang untuk makan di cafe. Yang dia layani sebatas mengantar makanan dan minuman sekaligus mengambil pembayaran.

__ADS_1


Dia merasa belum pernah menemukan orang yang lebih sabar dari ibunya. Kesabaran, seperti juga sebuah kemarahan adalah pilihan. Ketika ada dalam satu kejadian, kita dipersilahkan memilih. Kesabaran adalah sebuah pilihan. Tapi ada beberapa orang yang menjadikan kesabaran menjadi suatu ketentuan. Anjeli tidak pernah bisa mengerti kenapa begitu. Baginya kesabaran adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Sebab tidak semua orang mengerti arti sebuah kesabaran. Kadang kesabaran identik dengan kepasrahan. Padahal hal itu sangat berbeda.


Bicara tentang kesabaran, Anjeli masih yakin bahwa kesabaran adalah ibunya, dan ibunya adalah kesabaran itu sendiri. Maka Anjeli harus menerima dan pasrah akan turunan sifat itu dalam darahnya. Sekalipun dia merasa kesabaran bukan miliknya. Tapi dia (seperti yang sering diceritakan ibunya) adalah bidadari. Setiap hari rambutnya disisiri dan ibunya mengatakan itu. Setiap hari dicekoki membuatnya kebal dan mulai merasa dirinya bidadari.


Lalu tentang malaikat. Makhluk yang sering digambarkan bersayap putih dan laki-laki? Kenapa juga laki-laki? Berapa banyak sih kita melihat malaikat perempuan dalam buku komik? Anjeli hampir tidak percaya ada malaikat perempuan. Tapi ibunya percaya. Terbukti dengan seringnya dia mengatakan Anjeli seperti malaikat baginya. Sama sering dengan ketika mengatakan dia adalah bidadari.


Bidadari di café? Malaikat di dapur? Kadang Anjeli tertawa sendiri. Baginya dia bukan siapa-siapa. Lulus SMIP lalu kuliah di bidang pariwisata dengan spesialisasi kitchen staff tidak berarti membuatmu jadi bidadari di dapur sana. Tidak otomatis membuatmu bisa membuat makanan seperti yang dibuat malaikat.

__ADS_1


Tapi yang bicara adalah ibunya. Ibunya tidak mungkin tidak dipercaya. Sebab seperti yang sering dikatakan ibunya juga, hanya wanitalah yang bisa dipercaya, sedangkan lelaki tidak.


Atau lebih tepatnya jangan....


__ADS_2