Siluet

Siluet
2.2 Di Kota yang Tak Pernah Ada


__ADS_3

MEREKA:


Raya melangkah dan melewati sebuah café yang termaram. Dia berhenti sejenak, ada musik mengalun dari dalam. Dari sudut dia berdiri, bisa dilihatnya deretan kursi yang berkilat. Meja-meja bulat dengan taplak coklat, empat kursi, poci teh, gelas yang terlungkup, serbet, tempat gula, juga lilin padam.


Beberapa pasangan menatap. Ada yang menatap panggung, ada yang menatap makanan, ada yang saling menatap. Mereka menatap dalam temaram. Dan dari panggung yang nampak agak jauh ada suara-suara indah, suara biola.


Raya memicingkan mata, ada empat pemain di sana, duduk berderet dengan jas hitam, memainkan nada-nada yang saling mengisi. Mata mereka terpejam, kepala mengangguk-angguk, sementara latar belakang panggung hanya bunga-bunga dan sebentuk tirai keemasan. Indah sekali.


Serasa ada yang menyemai melihat semua itu. Maka Raya melangkah masuk dan mendapati dirinya disaput temaram dalam waktu yang cukup lama. Suara biola itu makin jelas. Ringan. Santai. Belah. Sinar. Bias. Sepoi. Lambat. Gelombang. Ah, adakah kata untuk menggambarkannya?


Dipilihnya sebuah meja, satu sudut yang memungkinkan di memandang panggung tanpa menarik perhatian. Raya tidak ingin pelayan cepat-cepat datang walaupun dia yakin ada cukup uang di sakunya.


Dicermati alunan yang datang dari panggung, lagu sudah berganti. Keempat orang itu memainkan Come Prima ciptaan Paolo Taccani. Raya tersenyum, sudah lama dia ingin menghapalkan nada-nadanya tapi memang susah untuk dilakukan kecuali saat memainkannya. Tanpa sadar jarinya mengetuk-ngetuk dan menggesek taplak meja, menikmati buaian dawai.


“Suka ya?” ada pertanyaan dari sebelahnya.


Raya menoleh dan mendapati raut itu. Tersenyum, wajah bulat, mata binar hitam. Bening. Rambut sebahu dikepang satu. Tebal dan bercahaya di tengah temaram ruangan. Dengan kemeja putih tangan pendek dan celana jeans. Tangannya memegang poci teh.


Raya mengangguk ringan, dipikirnya asyik juga ada pelayan yang ramah begini. Ya, Raya kenal banyak pelayan yang hanya berkepentingan menanyakan pesanan, mencatat dan menghitung tagihan. Jarang yang menyapa seperti ini.


“Ya, kuartetnya bagus, nemu di mana?”


Sosok itu tergelak “Anak-anak STISI, memang tiap Selasa mereka main di sini.”


“Keren!” puji Raya tulus

__ADS_1


“Eh, mau pesan apa?”


Akhirnya dia kembali jadi pelayan! Pikir Raya, dia memandang daftar menu. “Kopi susu aja.”


“Ngg… makanannya?” ujar sosok itu sambil mencatat


“Croissant deh, yang keju…ada kan?”


Sosok itu mengangguk riang, “Sip, ada kok… tunggu sebentar ya.”


Raya menggauk dan kembali memusatkan perhatian ke panggung. Merenung dan kembali menggesek-gesekkan jari ke atas seprai mengikuti irama. Tak lama pesanan datang seiring dengan dimainkannya lagu Jalousie karya Jacob Gade.


“Silahkan!”


Raya tersenyum “Thanks ya!”


“Kamu tidak apa-apa duduk nonton begini?” Raya bertanya heran


"Tidak kok, kamu sendiri keberatan aku duduk di sini?” sosok itu bertanya ringan


“Tidak juga…”


“Oh ya, kenalin namaku Anjeli.” Dia menyuguhkan tangan


“Raya…” sambut Raya pendek, dia tidak pernah terbiasa bicara banyak dengan wanita, apalagi yang baru dikenalnya. Sementara seluruh indranya lebih terfokus ke panggung. Empat orang itu masih duduk disana. Kini sedang menikmati tepuk tangan.

__ADS_1


Tentu mereka yang bertepuk tangan adalah yang berselera tinggi, Raya cukup salut soalnya kebanyakan yang hadir di sini pasangan muda. Sedikit sekali pasangan muda yang suka lagu klasik.


“Yang punya café ini berani juga.” Raya bergumam


“Kenapa?” Anjeli mencondongkan tubuhnya


“Dia bisa memadukan dua sisi yang beda, anak muda dan musik klasik, apa setiap hari musiknya begini?”


“Nggak juga, cuma tiap Selasa dan Rabu ada kuartet biola, Minggu dan Senin musik Jazz, Kamis sampai Sabtu band akustik.”


Raya mengangguk-angguk “Keren juga.”


Anjeli tersenyum “Yah, minimal sampai sekarang belum pernah ada pengunjung yang complain, mereka yang datang juga cukup antusias.”


“Memang harusnya begitu kan? Musik yang baik harus cocok di telinga, dan orang yang baik pasti akan antusias pada musik.”


Anjeli tertawa “Itu kalimat siapa?”


“Itu karanganku sendiri! Bagus nggak?”


“Apaan sih! Kalimatnya aneh tuh…”


Mereka tanpa sadar tertawa bersama. Betapa ajaibnya sebuah pertemuan. Pertemuan. Pertemuan. Kadang sebuah pertemuan menyajikan sebuah takdir dan keajaiban sendiri. Mungkin itu sebabnya kita tidak diberi tahu akan bertemu siapa besok, atau bertemu siapa lima menit lagi. Mungkin kaksudnya agar keajaiban itu selalu bisa datang.


“Ayo dong, pesanannya dimakan…”

__ADS_1


“Oh iya…thanks!”


__ADS_2